Kisah Tunanetra Sukabumi Menembus Batas: Mengudara Lewat Radio

Kisah Tunanetra Sukabumi Menembus Batas: Mengudara Lewat Radio

Siti Fatimah - detikJabar
Sabtu, 22 Agu 2026 11:00 WIB
Jali Padli, tunanetra asal Sukabumi saat mencoba siaran radio streaming di rumahhot
Jali Padli, tunanetra asal Sukabumi saat mencoba siaran radio streaming di rumah. (Foto: Siti Fatimah)
Sukabumi -

Keterbatasan penglihatan tak pernah menjadi penghalang bagi kelompok disabilitas di Sukabumi untuk menjangkau dunia.

Di sebuah sudut ruang sederhana, jemari-jemari lihai Jali Padli, penyandang disabilitas netra sibuk meraba papan ketik laptop dan layar ponsel. Dari perangkat yang jauh dari kata mewah itulah, gelombang udara digital memancarkan sejuta harapan dan inspirasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adalah Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) yang menginisiasi langkah berani di dunia media digital melalui Radio Suara ITMI. Radio berbasis streaming ini sepenuhnya dikelola dan digerakkan oleh para penyandang disabilitas netra sebagai wadah untuk membangun kemandirian hingga penguatan ekonomi kreatif. Diprakarsai oleh Toto Sugihatno bersama Jali Padli, media ini mengusung slogan penuh makna: 'Satu Suara, 1000 Inspirasi'.

"Motto ini menjadi semangat bahwa satu suara yang disampaikan dengan ketulusan dan kreativitas dapat memberikan inspirasi kepada ribuan orang. Suara para tunanetra bukan sekadar suara di udara, tetapi suara perjuangan, kemandirian, dan perubahan," ujar Jali Padli, warga Cisaat, Kabupaten Sukabumi kepada detikJabar, Jumat (21/8/2026).

ADVERTISEMENT

Melalui platform streaming ini, para tunanetra di Sukabumi tak lagi sekadar menjadi pendengar pasif. Mereka memegang kendali penuh atas produksi siaran.

Sehari-hari, mereka mengasah kemampuan sebagai penyiar, reporter lapangan, penyusun program, hingga bertindak sebagai tim pemasar yang menawarkan ruang iklan. Selama satu tahun terakhir, para disabilitas netra berdaya secara mandiri untuk pembuatan radio streaming ini.

Inovasi ini sekaligus menjadi kawah candradimuka bagi warga disabilitas untuk menguasai keterampilan public speaking, jurnalistik, teknologi informasi, hingga manajemen media modern.

"Kami ingin membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan bukanlah hambatan untuk berkarya dan memberikan manfaat kepada masyarakat," tambahnya.

Meski mengusung misi besar, radio tunanetra ini masih beroperasi dengan peralatan yang amat bersahaja. Berbekal laptop dan telepon genggam sederhana, gelombang siaran tetap mengudara saban hari tanpa menyurutkan gairah para penggiatnya.

Ke depan, radio ini diproyeksikan menjadi model percontohan pengelolaan radio streaming disabilitas di Indonesia yang profesional. Ambisi besarnya adalah menghadirkan studio siaran yang representatif lengkap dengan sistem manajemen usaha yang mandiri.

Dari layar ponsel dan ketukan laptop sederhana di Sukabumi, mereka telah membuktikan bahwa dari satu suara yang tulus, lahir ribuan inspirasi untuk menembus batas.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads