Pelatih kebugaran di Bangkok, Leroy Saunders, meninggal dunia setelah kolaps dan kehilangan kesadaran saat mengikuti kompetisi Hyrox Bangkok 2026 pada Kamis pekan lalu. Keluarga Saunders menyampaikan kabar duka tersebut pada Selasa (18/7/2026).
Pria asal Afrika Selatan berusia 41 tahun itu sempat mendapat tindakan resusitasi sebelum tim medis membawanya ke rumah sakit. Saunders kolaps saat mengikuti kompetisi yang berlangsung di Queen Sirikit National Convention Center.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keluarga Saunders menyampaikan informasi tersebut melalui akun Instagram miliknya. Mereka mengatakan penyebab kematian Saunders dan kondisi yang melatarbelakangi kejadian tersebut masih belum sepenuhnya diketahui.
Keluarga juga meminta Hyrox dan media tidak berspekulasi ataupun memberikan komentar sampai mereka dan tim Saunders memperoleh kepastian mengenai apa yang terjadi.
"Apa yang dapat kami sampaikan dengan pasti adalah hingga detik terakhir, Leroy menjalani hidup tanpa penyesalan atau keraguan dan menginspirasi ratusan, bahkan ribuan orang, untuk melakukan hal yang sama sepanjang perjalanan hidupnya," demikian pernyataan yang diunggah di akun Instagram Saunders, dikutip dari Bangkok Post.
"Kami menyadari semua orang ingin mendapatkan kejelasan dan memahami apa yang terjadi. Kami berupaya untuk dapat memberikan informasi tersebut ketika waktunya tepat."
Sosok Leroy Saunders
Saunders merupakan pemilik IAOT CrossFit di Bangkok. Ia dikenal melalui pekerjaannya di bidang latihan kekuatan dan pengondisian fisik bagi atlet olahraga tarung.
Ia juga mendirikan Fight by Design, program latihan fisik yang menyasar petarung Muay Thai, atlet MMA, dan petinju.
Kiprahnya di dunia kebugaran membuat Saunders memiliki pengalaman dalam mendampingi atlet yang menjalani latihan fisik dengan intensitas tinggi.
Mengenal Kompetisi Hyrox
Hyrox merupakan kompetisi olahraga ketahanan fisik yang memiliki penggemar di berbagai negara. Ajang tersebut berdiri pada 2017 atas prakarsa seorang pengusaha asal Swiss. Dalam perkembangannya, Hyrox juga sempat menuai kontroversi.
Dalam satu perlombaan, peserta harus berlari sejauh total 8 kilometer. Lari tersebut terbagi dalam beberapa bagian dan diselingi delapan stasiun latihan intensif.
Rangkaian tersebut menguji kemampuan sistem kardiovaskular dan muskuloskeletal peserta secara maksimal.
Hyrox tidak secara inheren berbahaya bagi peserta yang sehat dan memiliki persiapan fisik memadai. Namun, seperti olahraga dengan intensitas tinggi lainnya, kompetisi tersebut tetap memiliki risiko fisik.
Para ahli jantung secara khusus mengingatkan peserta agar memperhatikan kondisi kesehatan jantung sebelum mengikuti aktivitas fisik dengan intensitas tinggi.
Baca berita selengkapnya di detikHealth.
(suc/sud)
