Memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, komunitas Penggiat Konservasi Nyelam Sukabumi (Penyu) menggelar upacara pengibaran bendera Merah Putih di dasar laut Teluk Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Aksi tersebut bukan sekadar seremoni perayaan hari kemerdekaan, melainkan juga ikhtiar mengampanyekan perlindungan ekosistem terumbu karang dan biota pesisir.
Pantauan di lokasi, para penyelam yang mengenakan perlengkapan selam (scuba gear) lengkap bertolak menggunakan perahu motor menuju titik penyelaman di kawasan teluk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setibanya di koordinat yang ditentukan, para peserta turun secara bertahap menuju dasar laut. Aksi itu dilakukan di kedalaman 7 meter di dasar Teluk palabuhanratu atau tepatnya sekitar 500 meter dari daratan Alun-alun Laut Gadobangkong, Palabuhanratu.
Berdasarkan dokumentasi yang terekam kamera penyelam, sebuah tiang bendera didirikan tegak menancap di dasar laut berpasir. Sang Saka Merah Putih berkibar perlahan mengikuti alunan arus bawah air.
Para penyelam berlutut membentuk barisan teratur menghadap tiang bendera, kemudian serentak memberikan penghormatan resmi di sela kepulan gelembung udara pernapasan.
Pengawas Komunitas Konservasi Penyu Sukabumi, Andri Prayoga yang akrab disapa Kang Apra, menuturkan bahwa pelaksanaan upacara di bawah air membutuhkan kesiapan teknis yang matang serta perhitungan faktor alam secara cermat.
"Proses pengibaran bendera di dasar laut tidak mudah. Kita harus memperhitungkan jarak pandang (visibility), arus bawah laut, dan kapasitas kemampuan penyelam itu sendiri karena sebagian besar peserta jam terbangnya masih terbatas," ujar Andri saat ditemui seusai penyelaman, Senin (17/8/2026).
Andri menjelaskan, tata laksana upacara diadaptasi dari prosedur baris-berbaris di darat. Penyelam turun berpasangan dengan berpegangan pada tali pemandu sebelum membentuk barisan di dasar laut.
"Saya turun lebih dulu untuk menancapkan tiang dan membawa bendera. Setelah seluruh peserta berbaris pada posisinya, prosesi penghormatan dilakukan bersama. Masing-masing penyelam juga diberi kesempatan membentangkan bendera," tuturnya.
Menurut Andri, partisipasi penyelam lokal dalam peringatan kemerdekaan tahun ini meningkat pesat. Jika pada tahun sebelumnya kegiatan serupa hanya diikuti dua orang yakni dirinya bersama rekannya, kini tercatat sebanyak sembilan penyelam terlibat aktif.
Pesan Perlindungan Ekosistem
Sebagai wadah yang berfokus pada pelestarian kawasan pesisir, mulai dari vegetasi pantai di elevasi 0 mdpl hingga biota bawah air di minus mdpl, komunitas memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat perihal pentingnya menjaga terumbu karang.
"Kami ingin menyampaikan pesan edukasi mengenai perlindungan terumbu karang di Palabuhanratu. Kepedulian dan pengetahuan publik mengenai fungsi vital karang masih sangat minim. Terumbu karang memiliki peran serupa dengan pohon di daratan, bahkan lautan merupakan produsen oksigen terbesar di bumi," kata Andri.
Andri mengungkapkan, komunitasnya sejauh ini telah menjelajahi sedikitnya empat pantai di Sukabumi.
Dari penelusuran tersebut, perairan Pantai Gadobangkong dinilai memiliki hamparan karang yang unik dan berpotensi besar dikembangkan menjadi destinasi wisata selam (diving tourism) guna mendongkrak perekonomian warga lokal.
Namun, ia menekankan perlunya dukungan nyata berupa penyediaan sarana peralatan selam dan pelatihan keahlian bagi para penyelam lokal.
Upacara bawah air ini sekaligus menjadi penutup dari rangkaian program sertifikasi Open Water dan pelatihan Scuba Rescue yang dipandu langsung oleh instruktur dari Bandung Scuba Centre, Yatno (52).
Yatno memaparkan, jenjang sertifikasi penyelam memiliki beberapa tingkatan, mulai dari Open Water, Advance, Rescue, Divemaster, hingga Instruktur. Untuk jenjang Open Water, pelatihan berlangsung selama lima hari yang mencakup penyampaian teori kelas, dua hari sesi praktik di kolam renang, serta dua hari pemantapan di perairan terbuka (open water).
"Kerja sama pelatihan dengan pegiat di Sukabumi ini sebetulnya sudah berjalan berkesinambungan beberapa tahun. Biasanya rekan-rekan dari sini yang datang berlatih ke Bandung. Khusus momen 17 Agustus ini, sekaligus pelaksanaan upacara bendera, saya yang datang langsung ke Palabuhanratu," jelas Yatno.
Mengenai dinamika penyelaman di Teluk Palabuhanratu, Yatno menyebutkan bahwa karakteristik dasar perairan menjadi tantangan tersendiri bagi jarak pandang.
"Kendalanya terutama pada visibilitas. Karena dasarnya berpasir, pergerakan sedikit saja langsung membuat air 'mulek' atau keruh berpasir, sehingga jarak pandang berkurang. Di samping itu, aktivitas lalu lintas kapal di teluk turut berpengaruh terhadap kesuburan karang dibanding perairan yang minim mobilitas kapal," ungkap Yatno.
Bagi Yatno, upacara di Palabuhanratu ini merupakan kali ketiga dirinya terlibat dalam pengibaran bendera bawah laut.
Sebelumnya, ia pernah berpartisipasi dalam upacara bersama TNI AL di Ciletuh dua tahun lalu, serta upacara pemecahan rekor dunia di Manado yang melibatkan hampir 3.000 penyelam dan rantai manusia bawah air oleh sekitar 1.000 Polwan se-Indonesia.
(sya/yum)
