Di bawah bentangan langit cerah Palabuhanratu, suasana pelataran semen Panti Sosial Aura Welas Asih, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mendadak hening.
Sekitar 100 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berbaris rapi mengikuti garis pembatas di lapangan. Di antara barisan perempuan berkaus merah muda dan kelompok pria di sebelahnya, sehelai bendera Merah Putih terbentang sempurna, lalu perlahan dikerek naik ke pucuk tiang diiringi kumandang lagu kebangsaan secara khidmat.
Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Panti Aura Welas Asih, Leni Nurmayunita, mengatakan upacara bendera tersebut bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan ikhtiar untuk menumbuhkan kembali martabat para binaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bagi kami di Panti Aura Welas Asih, upacara kemerdekaan ini bukan sekadar seremonial tahunan. Ini adalah momen untuk mengembalikan harga diri dan rasa memiliki tanah air bagi warga binaan. Mereka yang kerap terpinggirkan dan dianggap kehilangan akal, hari ini membuktikan bahwa rasa cinta pada Merah Putih dan rasa hormat kepada bangsa ini tetap hidup di dalam jiwa mereka," ungkap Leni kepada detikJabar, Senin (17/8/2026).
Menurut Leni, prosesi upacara bendera dan baris-berbaris berfungsi strategis sebagai instrumen terapi sosial serta rehabilitasi mental.
"Kegiatan ini merupakan bagian dari terapi sosial dan rehabilitasi mental melalui baris-berbaris dan upacara bendera. Mereka dilatih untuk fokus, disiplin, berinteraksi secara komunal, serta merasakan kembali keteraturan sosial. Ketika mereka mampu berdiri tegak dan mengikuti instruksi dengan tertib, itu adalah langkah besar dalam proses pemulihan mereka," tuturnya.
Selain upacara bendera yang diikuti sekitar 100 peserta, pihak panti juga memeriahkan peringatan kemerdekaan melalui beragam lomba khas tujuh belasan, seperti makan kerupuk, yang telah diselenggarakan sejak 10 Agustus.
Seusai prosesi pengibaran bendera tuntas, keheningan upacara langsung mencair menjadi luapan kegembiraan. Seluruh petugas upacara, pembina, dan relawan berseragam putih berkumpul di tengah lapangan membentuk lingkaran besar, menumpuk tangan bersama, lalu bersorak dan bertepuk tangan riuh merayakan keberhasilan mereka.
Melalui kegiatan ini, Leni menitipkan pesan kemanusiaan agar masyarakat menghapus stigma buruk terhadap penyandang disabilitas psikososial.
"Kemerdekaan sejati adalah ketika mereka tidak lagi dipandang sebelah mata atau dijauhi dengan stigma negatif. Kami ingin mengetuk hati keluarga dan masyarakat luas bahwa dengan kasih sayang, kesabaran, dan perawatan yang tepat, mereka memiliki peluang besar untuk pulih dan kembali berdaya di tengah lingkungan sosial," pungkas Leni.
