Lagu Indonesia Raya bakal menggema pada momen peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, 17 Agustus 2026. Karya monumental komponis bangsa, Wage Rudolf Supratman itu menjadi pemantik nasionalisme rakyat.
Sejak diperdengarkan secara luas pada Kongres Pemuda, 28 Oktober 1928 silam, Indonesia raya bukan sekadar alunan nada megang dalam iringan alat musik orkestra semata. Namun esensi lebih dalam dan luhur, menjadi bahan bakar perjuangan putra-putri tanah air dari masa ke masa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak ada yang tak hapal setiap lirik dan nada Indonesia Raya. Namun di balik itu, tak juga banyak yang tahu kalau lagu yang dikumandangkan di setiap momen seremonial itu sejatinya ada versi utuh yang terdiri dari tiga stanza.
"Jadi kita ingin yang 3 stanza juga dikenal masyarakat. Saat ini saya berusaha mau menggaungkan supaya versi aslinya dikenal dan diketahui generasi muda yang akan datang," kata Ketua Umum Yayasan Wage Rudolf Soepratman, Budi Harry J saat dikonfirmasi, Minggu (16/8/2026).
Pemaknaan karya Mbah Wage, begitu keluarga memanggil sosok W.R. Soepratman, jauh lebih kompleks dan luhur ketimbang seremonial semata. Pada setiap penggalan liriknya, terpatri hajat, doa, dan harapan serta cetak biru persatuan serta kesatuan bangsa Indonesia
Perlu diakui, pemaknaan karya luhur sang komponis bangsa itu kini mulai pudar. Tentulah, semua pihak terutama pemerintah punya peran penting menanamkan lagi esensi ketokohan dan makna Indonesia Raya pada masyarakat.
"Tentu bukan sekadar seremonial dan musik belaka. Tapi Indonesia Raya ini harus sanggup terus menggugah, memengaruhi, dan membakar jiwa nasionalisme setiap orang yang mengaku orang Indonesia. Dan di momen HUT RI ini merupakan salah satu titik paling tepatnya," kata Budi.
Sedikit membahas awal penciptaannya, lagu Indonesia Raya lahir ketika Soepratman muda sedang membaca sebuah tulisan di majalah Timbul tahun 1924 silam. Di majalah itu, penulis menyiarkan sayembara berbunyi 'Dicari Warga Negara Kita yang Bisa Membuat Lagu Kebangsaan'.
Mengandalkan segenap keterampilannya, perlahan namun pasti lirik dan nada lagu itu mulai diperdengarkan pada tahun 1926 meskipun masih jauh dari kata sempurna. Lagu itu kemudian mendapat beberapa kali revisi hingga disempurnakan pada 1928.
"Untuk mengenalkan versi aslinya, keluarga permah mengadakan konser lagu-lagu ciptaan W.R. Soepratman yang sudah diaransemen ulang oleh keturunan dari kakak kandung W.R. Soepratman, Ngadini Soepratini," kata Budi.
