Langit sore di atas Jalan H Syahroni, Cikutra, tampak lebih hangat dari biasanya. Di sebuah gang sempit yang membelah permukiman padat di Kecamatan Cibeunying Kidul ini, suasana mendadak riuh oleh energi anak-anak. Gelak tawa pecah dari teras-teras rumah, tempat mereka berkumpul, bertukar cerita, dan melempar candaan ringan yang menghidupkan suasana.
Di sela-sela keriuhan itu, kaki-kaki mungil berlarian lincah mengejar bayangan di atas semen gang yang terbatas. Derit pedal sepeda yang berputar sesekali membelah keramaian, mengiringi senyum lebar yang terpancar dari wajah-wajah polos mereka. Bagi bocah-bocah ini, lorong bersahaja tersebut bukan sekadar akses jalan, melainkan ruang bebas tempat kehangatan masa kecil dirayakan.
Menjelang peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia tahun 2026 ini, wajah gang tersebut berubah drastis. Langit-langit pemukiman kini tertutup bentangan kain merah putih sepanjang 180 meter. Transformasi ini menciptakan ilusi sebuah terowongan raksasa yang megah, menyelimuti siapa pun yang melintas di bawahnya dengan warna kebangsaan. Keberadaan kanopi raksasa ini seolah menyuntikkan semangat baru bagi anak-anak yang bermain di bawahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengusung tema besar kemerdekaan tahun ini, "Berdaulat, Adil, dan Makmur", warga RW 03 Kelurahan Cikutra memang tak ingin setengah-setengah dalam bersolek. Terowongan bendera di Jalan Haji Syahroni ini menjadi bukti nyata antusiasme mereka dalam menyambut hari bersejarah bangsa.
Asep, salah satu warga setempat, mengungkapkan bahwa seluruh pernak-pernik yang menghiasi gang tersebut merupakan buah tangan kolektif masyarakat.
"Hasil kerjasama warga dan juga pengurus RT dan RW," katanya kepada detikJabar, Minggu (16/8/2026).
Menurut Asep, tradisi menghias lingkungan ini sudah mendarah daging di kawasan Cikutra. Setiap tahun, warga selalu berlomba-lomba menampilkan kreativitas terbaik untuk mempercantik lorong-lorong tempat tinggal mereka. "Setiap tahun, sudah biasa warga sini mah," ujarnya.
Penampakan Terowongan Merah Putih di Cikutra, Kota Bandung. Foto: Wisma Putra/detikJabar |
Semangat kemerdekaan ini ternyata menular hingga ke area sekitar. Tak jauh dari sana, gang-gang di Jalan Asep Berlian juga bersolek dengan nuansa serupa. Selain balutan kain merah putih, ada pula sudut yang mengusung tema Kampung Sunda. Uniknya, umbul-umbul yang terpasang di sana tidak menggunakan daun kelapa tradisional, melainkan memanfaatkan limbah yang didaur ulang secara kreatif.
Ketua RW setempat, Ahmad Solihin, menuturkan bahwa persiapan untuk menyulap lingkungan ini telah dilakukan sejak beberapa pekan terakhir. Sinergi antara pengurus wilayah dan warga menjadi kunci utama di balik kemegahan terowongan bendera tersebut.
"Kami bersama pengurus dan seluruh warga berinisiatif menyambut hari kemerdekaan ini dengan persiapan yang matang. Tantangan utamanya tentu dalam menjaga komunikasi dan koordinasi menyeluruh, namun Alhamdulillah rasa kebersamaan tetap terjaga. Warga antusias menyumbang tenaga maupun dana secara sukarela demi terwujudnya terowongan bendera ini," katanya.
Menariknya, kemegahan dekorasi ini lahir dari kemandirian ekonomi warga. Total biaya yang dihabiskan mencapai sekitar Rp11 juta, yang dikumpulkan secara bertahap sejak tahun lalu. Perencanaan yang matang ini dilakukan agar perayaan tahun 2026 bisa berjalan lebih maksimal dan berkesan.
Bagi Ahmad dan warganya, semua jerih payah ini bukan demi mengejar trofi atau pengakuan dalam perlombaan. Ada kepuasan batin yang lebih besar saat melihat lingkungan mereka tampil beda dan penuh semangat.
"Kami tidak menargetkan penilaian atau lomba apapun. Ini murni inisiatif agar RW 03 tampil lebih istimewa dan semoga bisa menjadi contoh bagi RW lainnya," pungkasnya.

