Kabar Internasional

Sungai-Sungai Eropa Menyusut, Danube Capai Rekor Terendah

Muhammad Lugas Pribady - detikJabar
Minggu, 16 Agu 2026 22:30 WIB
Citra satelit Sungai Danube dan Rhine di Eropa yang mengering akibat kenaikan suhu Foto: ( European Space Agency/Copernicus Sentinel-2)
Jakarta -

Gelombang panas dan minimnya hujan membuat sejumlah sungai penting di Eropa menyusut drastis. Di beberapa wilayah, permukaan air bahkan jatuh ke titik terendah yang pernah tercatat, memicu masalah bagi sektor energi, transportasi, hingga pariwisata.

Perubahan tersebut terlihat jelas dari citra satelit. Aliran sungai yang biasanya membelah daratan kini tampak semakin mengecil, sementara tepian yang sebelumnya terendam air mulai terbuka. Gundukan pasir yang biasanya berada di bawah permukaan juga bermunculan.

Melansir detikTravel, jika dibandingkan dengan kondisi pada 2023, ketika debit sejumlah sungai Eropa masih berada di kisaran normal, perubahan tahun ini terlihat mencolok. Musim panas ekstrem yang disertai kekeringan berkepanjangan membuat cadangan air terus menyusut.

Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia. Gelombang panas yang berulang membuat tanah dan sumber air semakin kering. Minimnya hujan kemudian membuat sungai kesulitan memulihkan debitnya.

Padahal, sungai memiliki peran vital bagi kehidupan masyarakat Eropa. Selain menjadi jalur transportasi barang, sungai digunakan untuk pembangkit listrik dan sistem pendingin sejumlah fasilitas energi. Sungai juga menjadi habitat berbagai satwa sekaligus bagian penting dari industri pariwisata.

Danube Capai Rekor Terendah

Salah satu sungai yang mengalami dampak paling serius adalah Danube. Sungai terpanjang kedua di Eropa itu mengalir melewati 10 negara, mulai dari Jerman hingga Laut Hitam.

Di Hungaria, permukaan Danube bahkan mencapai rekor terendah.

Di Budapest, ketinggian air Danube hanya sekitar 10 sentimeter pada Senin lalu. Angka tersebut memecahkan rekor sebelumnya, yakni sekitar 33 sentimeter yang tercatat pada 2018.

Kondisi itu berpotensi semakin memburuk karena gelombang panas kembali melanda Eropa Tengah dan Timur.

Dampaknya mulai terasa di sektor energi Hungaria. Pembangkit listrik tenaga nuklir Paks, yang menyuplai hampir setengah kebutuhan listrik negara tersebut, harus mengurangi operasional karena air Danube digunakan untuk mendinginkan reaktor.

Rumania menghadapi persoalan serupa. Angkatan laut negara tersebut menggunakan bahan peledak untuk memecah batuan agar aliran Danube dapat dialihkan menuju satu-satunya reaktor yang masih beroperasi di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Cernavoda.




(upd/dir)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork