Di balik keheningan Monumen Rawagede, tersimpan fragmen sejarah yang menyayat hati tentang pembantaian warga pribumi oleh serdadu Belanda. Selain deretan nisan yang membeku, kompleks ini menyimpan sebuah diorama yang menjadi saksi bisu kekejaman masa lalu.
Salah satu sudut yang paling menyita perhatian adalah patung seorang ibu yang tengah mendekap erat kedua anaknya. Sekilas, siluetnya mengingatkan banyak orang pada citra Bunda Maria yang kerap berseliweran di jagat maya. Namun, sosok itu bukanlah sekadar karya seni tanpa makna, ia adalah Nyi Entih, perempuan yang menjadi simbol keteguhan luar biasa bagi para korban tragedi tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sukardi, Pengurus Yayasan Rawagede, mengisahkan bahwa Nyi Entih merupakan salah satu penyintas yang harus menelan pil pahit saat peristiwa berdarah itu pecah. Di depan matanya sendiri, suami dan kedua putra kecilnya yang baru berusia 7 hingga 10 tahun tewas diberondong peluru.
"Ini patung Nyi Entih, satu-satunya orang yang selamat di keluarganya saat tragedi Rawagede, saat itu tentara Belanda menembak suaminya, termasuk kedua anaknya yang ada di pangkuannya, yaitu Atung dan Adul," kenang Sukardi saat berbincang belum lama ini.
Tragedi Rawagede yang terjadi pada 9 Desember 1947 merupakan noktah hitam dalam sejarah kemerdekaan. Sebanyak 483 nyawa laki-laki, mulai dari tentara pejuang hingga rakyat sipil dan anak-anak-dihabisi tanpa ampun.
Saat itu, militer Belanda tengah memburu Lukas Kustaryo, seorang Mayor yang dijuluki 'Begundal Karawang'. Meski lokasi persembunyiannya telah dibocorkan oleh pengkhianat, warga Rawagede memilih bungkam seribu bahasa. Kesetiaan itu harus dibayar mahal dengan genangan darah ratusan nyawa.
Keberadaan patung Nyi Entih sering kali memicu tanya di benak pengunjung, mengingat keluarganya bukanlah bagian dari militer. Namun, Sukardi menegaskan bahwa justru sikap batin Nyi Entih-lah yang membuatnya layak diabadikan.
"Jadi saat melihat pembantaian anak dan suaminya di depan matanya, Nyi Entih tetap tegar, hatinya teguh dan berdamai dengan kondisi saat itu karena cintanya terhadap bangsa yang saat itu baru saja berdiri," jelas Sukardi.
Patung tersebut kini berdiri tegak untuk mewariskan nilai kemanusiaan, keikhlasan, dan patriotisme kepada generasi muda. Di bagian bawah patung, terukir untaian kata milik Nyi Entih yang mampu menggetarkan jiwa siapa pun yang membacanya:
'Dari luka lahir keteguhan, dari kehilangan lahir keikhlasan, dari cinta tanah air lahir harapan untuk masa depan'
Kalimat itu diucapkan Nyi Entih sesaat setelah ia menyaksikan keluarganya tewas di tangan tentara Belanda. Meski namanya tidak tercatat dalam deretan pahlawan nasional, Nyi Entih merepresentasikan ketangguhan para perempuan Rawagede yang kehilangan sandaran hidup dalam sekejap dan harus berjuang menyambung hidup sebagai janda.
Semangat Nyi Entih pulalah yang memantik api perjuangan hukum puluhan tahun kemudian. Sejak tahun 1970, para janda korban Rawagede bersama Yayasan Rawagede mulai menyusun langkah untuk menggugat pemerintah Belanda.
"Terinspirasi dari kisah Nyi Entih keluarga kami dari mulai tahun 1970 dengan para janda bersama Yayasan Rawagede berjuang menuntut gugatan di pengadilan Belanda, mereka ke Den Haag menuntut pertanggungjawaban atas peristiwa kelam di tahun 1947," tutur Sukardi.
Perjuangan panjang itu membuahkan hasil pada tahun 2011. Pengadilan Belanda akhirnya mengakui kesalahan militer mereka, menyampaikan permohonan maaf resmi, dan memberikan kompensasi kepada keluarga korban.
"Gugatan kami dikabulkan tahun 2011, Pengadilan Belanda memutuskan bahwa mereka bersalah dan akan bertanggung jawab memberikan kompensasi kepada para keluarga korban, dan menyatakan permintaan maaf," tambahnya.
Hingga hari ini, setiap tanggal 9 Desember, Kedutaan Besar Belanda rutin menyambangi monumen ini. Kehadiran mereka menjadi bentuk pengakuan atas luka masa lalu yang belum sepenuhnya mengering.
"Setiap tahun tanggal 9 Desember disini ada acara wajib semacam seremonial, atau kalau di kita ziarah kubur dari kedutaan besar Belanda, mungkin sebagai bentuk pertanggungjawaban moral mereka," tutup Sukardi.
(dir/dir)
