Hadapi Era AI, ITB Tanamkan Nilai AIR ke Mahasiswa Baru

Hadapi Era AI, ITB Tanamkan Nilai AIR ke Mahasiswa Baru

Dwiky Maulana Velayati - detikJabar
Sabtu, 15 Agu 2026 18:57 WIB
ITB gelar Character Development Training di Kampus Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat.
ITB gelar Character Development Training di Kampus Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. (Foto: Dwiky Maulana Velayati/detikJabar)
Sumedang -

nstitut Teknologi Bandung (ITB) kembali menggelar Character Development Training (CDT) bagi mahasiswa baru di Kampus Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Sabtu (15/8/2026).

Dalam CDT 2026, ITB memperkenalkan tiga nilai utama yang menjadi fokus pembangunan karakter mahasiswa baru, yakni Adaptif, Integritas, dan Rendah Hati atau disingkat AIR.

Kepala Subdirektorat Pengembangan Karakter Mahasiswa ITB, Pipit Fitriani, mengatakan tiga nilai tersebut telah dirancang sejak beberapa waktu lalu dengan melibatkan berbagai pihak yang memiliki kompetensi dalam bidang kemahasiswaan dan pengembangan karakter.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pada dasarnya nilai AIR ini kami sudah susun jauh dari beberapa waktu yang lalu. Dan dalam konsep AIR ini, kita mengundang stakeholder seperti dosen yang memiliki minat kepada kegiatan kemahasiswaan, pengembangan karakter," ujar Pipit dalam konferensi pers.

Selain dosen dan tim coaching, ITB juga melibatkan mahasiswa aktif dalam merumuskan nilai yang dianggap penting dan relevan bagi mahasiswa ke depan.

ADVERTISEMENT

"Kemudian juga dari tim coaching, dari para mitra seperti moto dan sebagainya. Jadi kami melibatkan berbagai hal termasuk perwakilan mahasiswa. Dan mencoba merumuskan kira-kira nilai apa sih yang paling penting dan akan selalu relevan ke depannya. Dan munculah tiga nilai ini yaitu AIR," katanya.

Menurut Pipit, perkembangan zaman, termasuk pesatnya kemajuan teknologi, tidak membuat nilai Adaptif, Integritas, dan Rendah Hati menjadi kehilangan relevansinya. Sebaliknya, nilai tersebut dapat diterapkan dalam berbagai konteks baru.

Salah satunya dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurut dia, mahasiswa perlu memiliki kemampuan beradaptasi agar dapat memanfaatkan teknologi tersebut.

"Contohnya misalkan dengan tadi pertanyaan terkait pengembangan AI. Dalam konteks adaptasi, mahasiswa atau siapa pun kita harus bisa beradaptasi dengan adanya kemajuan teknologi tersebut. Artinya adaptasi ini kan dia bisa mempunyai, bisa memanfaatkannya," ucapnya.

Namun, kemampuan beradaptasi tersebut harus tetap diiringi integritas. Pemanfaatan teknologi, kata Pipit, harus dilakukan secara bertanggung jawab dan untuk tujuan yang baik.

"Tetapi tetap dia harus punya nilai integritas. Supaya pemanfaatannya itu masih dalam kebutuhan yang baik, bisa dipertanggungjawabkan. Jadi pada dasarnya nilai AIR itu tetap relevan, konteksnya itu masih tetap sama. Walaupun ada perubahan zaman, namun kita secara pendefinisiannya bisa lebih mengembangkan," sambungnya.

Pipit mengatakan keterlibatan mahasiswa aktif dalam CDT menjadi salah satu faktor penting dalam proses pembangunan karakter mahasiswa baru. Meski demikian, efektivitas program tersebut masih perlu diukur melalui proses pemantauan dan asesmen.

Menurutnya, ITB telah bekerja sama dengan psikolog untuk menyusun alat ukur yang dapat digunakan dalam menilai perkembangan karakter mahasiswa setelah mengikuti CDT.

"Tapi dari sisi nilai karakternya, apakah benar dia sudah adaptif atau belum, itu kita belum tahu. Kita sudah bekerja sama dengan para psikolog untuk membuat semacam alat ukur itu. Jadi kalau tadi disampaikan, setelah acara nanti ada monitoring satu, monitoring kedua. Dan saat asesmen itu adalah saat di mana kita mengukur tingkat adaptif mahasiswa untuk CDT tahap ini. Supaya kita bisa melihat juga dari keberhasilan dari acara," ungkapnya.

Sementara itu, pelaksanaan CDT mendapat respons positif dari mahasiswa baru. Salah satunya disampaikan Scholastika Kanath, mahasiswa baru asal Jayapura, Papua.

Scholastika merupakan mahasiswa Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB. Ia mengaku antusias mengikuti CDT karena menjadi pengalaman pertamanya mengikuti program tersebut.

"Saya sih excited banget ya, karena ini benar-benar pengalaman pertama, datang menjadi satu-satunya orang Papua tahun ini, dan memang excited sekali," kata Scholastika saat berbincang dengan detikJabar.

Menurut Scholastika, CDT menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih banyak teman dari berbagai fakultas dan daerah. Ia juga dapat mempelajari keberagaman budaya yang ada di lingkungan kampus.

"Menurut saya sih ini menjadi tempat di mana saya bisa mengenal banyak orang, membangun relationship-nya, membangun relasi dengan teman-teman dari fakultas lain, dari daerah lain, juga belajar tentang kebudayaan dari daerah lain selain dari Papua," ujarnya.

Ia menilai kemampuan beradaptasi menjadi hal penting baginya sebagai mahasiswa baru yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru di luar Papua.

"Kalau untuk mencapainya sih, bisa belajar adaptif aja, terus bisa menyesuaikan diri, karena ini bukan seperti di Papua, ini udah di luar Papua, ya lingkungan baru. Jadi kalau dari saya sih, belajar untuk menyesuaikan diri dengan keadaan di luar Papua," pungkasnya.

CDT ITB 2026 digelar secara berkelanjutan untuk membekali mahasiswa baru dengan berbagai kemampuan interpersonal, kepemimpinan, adaptabilitas, dan empati sosial. Program tersebut juga menjadi bagian dari proses pengembangan karakter mahasiswa di tengah perkembangan teknologi dan dinamika global.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads