AVA ITB: Mobil Otonom Lokal Rp 500 Juta Siap Mendunia

AVA ITB: Mobil Otonom Lokal Rp 500 Juta Siap Mendunia

Wisma Putra - detikJabar
Sabtu, 15 Agu 2026 06:31 WIB
Autonomous Vehicle Adaptive/AI atau AVA ciptaan dosen ITB dan Industr
Autonomous Vehicle Adaptive/AI atau AVA ciptaan dosen ITB dan Industri (Foto: Wisma Putra/detikJabar).
Bandung -

Inovasi kendaraan listrik otonom Autonomous Vehicle Adaptive/AI (AVA) besutan Institut Teknologi Bandung (ITB) siap merambah tahap komersialisasi. Selain mengantongi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 50 persen, produk lokal ini menawarkan harga yang jauh lebih kompetitif dibandingkan produk impor sejenis.

"Tingkat TKDN bisa kita katakan di atas 50% karena ini semuanya hampir dirakit oleh anak bangsa. Begitu juga untuk baterainya, kita menggunakan produksi dalam negeri," kata Dosen Fakultas Teknologi Industri ITB, Augie Widyotriatmo, kepada detikJabar saat dijumpai di Workshop PT AVS Indonesia yang berada di Jalan Cihampelas, Kota Bandung, belum lama ini.

Augie berujar, kendaraan otonom ini diproyeksikan bakal dilepas ke pasar dengan estimasi harga yang jauh lebih terjangkau daripada harga pasaran saat ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Harganya jauh lebih murah, bisa sepertiga dari produk luar negeri. Hal ini karena perakitan dilakukan oleh tenaga lokal dan kita tidak menggunakan teknisi dari luar," ujar Augie.

"Saya mengambil dari direktur industrinya, ini dikomersialisasikan di angka sekitar Rp500 juta," tambah Augie.

ADVERTISEMENT

Augie juga menyoroti keunggulan rancangan lokal yang lebih adaptif terhadap karakter jalanan di Indonesia ketimbang produk impor.

Keunggulan dan fleksibilitas teknologi AVA kini mulai menarik minat pasar dalam dan luar negeri, mulai dari sektor pengelola kawasan pariwisata hingga pihak mancanegara.

Disinggung mengenai waktu komersialisasi kendaraan ini, ia menyebutkan prosesnya akan dilakukan dalam waktu dekat.

"Dalam waktu dekat kita sudah berbincang dengan beberapa off-taker di area pariwisata. Bahkan dengan luar negeri pun kita sudah mencoba untuk membuka pasar ini, salah satunya adalah negara Arab Saudi yang tertarik untuk bisa menggunakan kendaraan ini," ungkap Augie.

Cocok Digunakan di IKN

Augie menjelaskan, produk autonomous vehicle yang sudah beredar di pasaran kebanyakan berasal dari pabrikan Tiongkok. Bahkan beberapa waktu lalu ada Autonomous Rail Transit atau ART. Namun, armada itu dikembalikan lagi ke Tiongkok pada April 2025 karena dianggap tidak cocok. Augie menilai, ukuran ART tersebut terlalu besar.

"Kebanyakan produknya di luar negeri. Yang saya tahu kemarin ada produk autonomous vehicle yang dibawa dari China ke Indonesia. Namun karena produk tersebut tidak adaptif terhadap lingkungan yang ada di Indonesia, maka gagal diimplementasikan. Contohnya yang di TMII dan di IKN. Karena sekarang semua diinovasikan oleh pekerja-pekerja kita sendiri, talenta-talenta dalam negeri, ini bisa kita selesaikan dan bisa kita atasi segala macam permasalahan ketika berada dalam implementasi," jelasnya.

Augie optimistis AVA bisa bersaing dengan kendaraan serupa yang saat ini sudah ada di pasaran dengan harga yang relatif mahal.

"Sangat bisa bersaing. Kita pernah membuat container truck yang otonom dan dari sisi competitiveness-nya sangat tinggi serta sangat implementable. Artinya ketika ada kerusakan, kita menggunakan tenaga-tenaga lokal untuk memperbaikinya sehingga sangat kompetitif," terangnya.

Tantangan Ke Depan

Tidak mudah untuk membuat sebuah produk kendaraan di Indonesia, apalagi sampai memasarkannya. Hal itu menjadi tantangan yang sangat besar bagi Augie dan timnya. Selain itu, terdapat pula faktor gangguan teknis.

"Tantangannya cukup banyak. Ketika kita implementasikan, banyak gangguan-gangguan, contohnya gangguan pencahayaan. Karena kita menggunakan kamera, gangguan pencahayaan itu berdampak pada informasi yang didapatkan dari sensor," ujarnya.

"Ketika kita tidak mendapatkan informasi yang cukup baik, maka kita tidak bisa mengendalikan kendaraan otonom ini. Kedalaman dalam kita melakukan riset terhadap bagaimana kita mengatasi gangguan-gangguan tersebut adalah riset fundamental yang kita terapkan," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Vale Indonesia Menjawab Tantangan Fluktuasi Harga Nikel"
[Gambas:Video 20detik] (wip/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads