Misteri Penyebab 134 Santri Sukabumi Alami Muntah Massal

Misteri Penyebab 134 Santri Sukabumi Alami Muntah Massal

Siti Fatimah - detikJabar
Sabtu, 15 Agu 2026 13:38 WIB
Kondisi santri korban keracunan di Sukabumi, Sabtu (15/8/2026).
Kondisi santri korban keracunan di Sukabumi, Sabtu (15/8/2026). (Foto: Siti Fatimah/detikJabar)
Sukabumi -

Sebanyak 134 santri dan pengajar Pondok Pesantren Baiti Jannati, Kota Sukabumi, mendadak jatuh sakit dengan gejala serupa sejak Jumat (14/8/2026) sore hingga Sabtu (15/8/2026) pagi. Mereka mengeluhkan pusing, mual, diare, hingga muntah-muntah dan harus dilarikan ke rumah sakit.

Peristiwa dugaan keracunan ini bermula pada Jumat (14/8) siang sekitar pukul 12.30 WIB ketika para santri mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tak lama berselang, sekitar pukul 14.30 WIB, sejumlah santri mulai mengeluh pusing. Memasuki malam hari, gejala berlanjut dengan mulas hingga muntah-muntah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi semakin parah pada Sabtu (15/8) pagi usai halaqah Subuh. Gelombang santri yang mengalami muntah massal meningkat tajam hingga pengurus pondok melarikan para korban ke puskesmas terdekat, sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Al Muluk dan RSUD Syamsudin (RS Bunut).

"Mencuatnya itu setelah subuh. Jadi setelah subuh, kami bawa beberapa anak yang sudah muntah-muntah, sudah pusing ke puskesmas. Puskesmas menganjurkan kami ke IGD RSUD Al Muluk tapi karena jumlahnya semakin bertambah, sehingga Al Muluk menyarankan untuk dibawa sebagian ke RSUD Syamsudin," kata Pengurus Ponpes Baiti Jannati, Faid Fauzan, Sabtu (15/8/2026).

ADVERTISEMENT

Total korban tercatat sebanyak 134 orang, terdiri dari santri SMP, SMA, serta seorang ustazah. Angka ini merupakan bagian dari total 645 santri yang bermukim di Ponpes Baiti Jannati.

Pada pembagian MBG Jumat siang, menu yang disajikan meliputi nasi, tumis pakcoy, balado telur ceplok, orek tempe, serta susu kemasan. Faid menyebut kerja sama dengan pihak SPPG penyedia MBG sudah berjalan selama 7 bulan dan selalu berjalan baik tanpa kendala.

Oleh sebab itu, pihaknya belum bisa menyimpulkan insiden ini sebagai kasus keracunan makanan MBG lantaran masih menunggu hasil analisis resmi medis dan laboratorium. "Anak-anak sakit dengan gejala muntah-muntah memang mengarah kepada keracunan, tapi belum dirilis secara resmi dari rumah sakit bahwa ini adalah keracunan," ujarnya.

Faid meminta publik tidak langsung menyudutkan menu MBG. Sebab, santri menyantap paket MBG pada siang hari, sedangkan lonjakan santri sakit baru terjadi keesokan harinya. Di rentang waktu tersebut, para santri juga mengonsumsi menu makan malam yang disediakan oleh dapur internal pesantren.

"MBG itu kan makan siang, anak-anak kejadiannya pagi (keesokan harinya). Jadi masih ada makan malam yang disediakan oleh pondok pesantren. Kami berusaha untuk melihat ini dengan cara sangat objektif," tegasnya.

Saat ini, pihak Dinas Kesehatan Kota Sukabumi telah mengamankan sampel makanan MBG serta sisa makanan pesantren untuk diuji laboratorium dan disinkronkan dengan tes sampel feses para korban. Sementara itu, mayoritas santri saat ini masih berada di RSUD Syamsudin dan RSUD Al Muluk.

(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads