Jabar Punya Potensi Tambah 800 Ribu Lapangan Kerja

Jabar Punya Potensi Tambah 800 Ribu Lapangan Kerja

Bima Bagaskara - detikJabar
Kamis, 13 Agu 2026 18:00 WIB
Ilustrasi cari pekerjaan
Ilustrasi pekerjaan (Foto: Dok. detikcom)
Bandung -

Jawa Barat memiliki potensi penyerapan tenaga kerja yang besar dari aktivitas industri dan investasi. Data hingga 2026 mencatat sektor industri pengolahan telah menyerap 1.145.179 tenaga kerja, sementara proyek industri yang tengah berjalan diproyeksikan membutuhkan hampir 800 ribu pekerja tambahan.

Berdasarkan laporan hingga Triwulan II 2026, sebanyak 1.145.179 tenaga kerja telah terserap di sektor industri pengolahan Jawa Barat. Penyerapan tersebut masih berpotensi meningkat karena terdapat 3.711 perusahaan industri yang berada dalam tahap konstruksi maupun realisasi investasi sepanjang 2025 hingga Semester I 2026.

Dari ribuan proyek tersebut, kebutuhan tambahan tenaga kerja diproyeksikan mencapai 799.999 orang. Artinya, hampir 800 ribu lapangan kerja baru berpotensi terbuka di Jawa Barat apabila seluruh proyek investasi tersebut berjalan dan masuk ke tahap operasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Industri pakaian jadi menjadi sektor dengan jumlah pekerja terbesar, yakni 217.837 orang. Berikutnya industri kulit dan alas kaki sebanyak 195.000 orang, industri tekstil 160.984 orang, industri kendaraan bermotor, trailer dan semi-trailer 132.446 orang, serta industri makanan sebanyak 112.460 orang.

Sementara tenaga kerja lainnya tersebar pada berbagai subsektor industri hingga totalnya mencapai 1.145.179 orang.

ADVERTISEMENT

Kemudian dari 3.711 proyek industri, kebutuhan tenaga kerja terbesar diproyeksikan berasal dari industri barang dari kulit dan alas kaki sebanyak 202.906 orang, tekstil 157.301 orang, logam, mesin dan elektronika 94.188 orang, kendaraan bermotor dan alat transportasi lainnya 89.005 orang, serta industri makanan 66.021 orang.

Kebutuhan tersebut tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Bekasi, Karawang, Purwakarta, Bogor, Bandung, Subang, Indramayu, Sukabumi, Cianjur, Cirebon, Kota Bekasi, Kota Bandung dan Depok.

Besarnya potensi lapangan kerja tersebut menghadirkan tantangan lain. Ketersediaan tenaga kerja dalam jumlah besar harus diimbangi dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan industri.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat Nining Yuliastiani mengatakan perkembangan teknologi membuat kebutuhan industri terhadap tenaga kerja terampil semakin tinggi.

Menurutnya, industri masih membutuhkan tenaga manusia dalam jumlah besar. Namun, penggunaan teknologi membuat standar keterampilan pekerja ikut berubah.

"Namun, untuk memberikan presisi dan kualitas produk yang lebih baik, mesin-mesin semi otomatis didatangkan," kata Nining, Kamis (13/8/2026).

Kondisi tersebut membuat pekerja tidak lagi cukup hanya mengandalkan keterampilan dasar. Mereka harus mampu mengoperasikan teknologi yang digunakan dalam proses produksi.

"Di sisi lain, industri membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi karena keterampilan dasar saja tidak lagi cukup. Sebagai contoh, meskipun posisinya sebagai operator jahit, pekerja tersebut tetap dituntut untuk menguasai teknologi mesin yang akan dioperasikan," tuturnya.

Karena itu, Pemprov Jabar mendorong pemetaan kebutuhan tenaga kerja dilakukan sejak investasi mulai masuk. Kebutuhan kompetensi industri diperbarui secara berkala untuk kemudian disesuaikan dengan program pelatihan vokasi.

Di sektor pendidikan, Pemprov Jabar memperkuat link and match antara SMK dan dunia industri melalui penyelarasan kurikulum, pemetaan kebutuhan kompetensi, program Industri Mengajar, magang guru di perusahaan hingga peningkatan kualitas praktik kerja lapangan.

Hingga 2026, tercatat 740 kemitraan antara SMK dan dunia usaha serta dunia industri telah terjalin di Jawa Barat.

Selain penyerapan tenaga kerja, Pemprov Jabar juga mendorong agar investasi yang masuk memberikan efek berganda terhadap industri lokal. Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah ketergantungan industri terhadap bahan baku dan komponen impor.

"Rantai pasok untuk kebutuhan suku cadang dan perakitan kendaraan saat ini lebih banyak mengandalkan impor. Kondisi ini menunjukkan rantai pasok di tingkat lokal belum terbentuk secara optimal. Pemprov Jabar sedang mengembangkan sistem yang terjaga keberlanjutannya," ujar Nining.

(bba/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads