Dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 50 juta jiwa, kesejahteraan masyarakat di Jawa Barat masih menjadi pekerjaan rumah besar. Ketimpangan dan dinamika ekonomi membuat upaya peningkatan taraf hidup warga belum sepenuhnya merata.
Wakil Ketua DPRD Jawa Barat Iwan Suryawan menilai kondisi ini harus dijawab dengan kerja nyata sekaligus perubahan pendekatan dalam melihat persoalan ekonomi masyarakat.
"Kalau dilihat kesejahteraan belum semuanya, dengan penduduk 51-53 juta jiwa pastinya tidak semua (sejahtera). Artinya PR besarnya bagaimana program Pemprov Jabar bisa mengentaskan itu dan dengan kondisi sekarang ini fluktuatif," ujar Iwan saat berbincang di detikPagi, Kamis (30/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menegaskan, yang terpenting bukan hanya kondisi saat ini, tetapi arah dan upaya yang dilakukan pemerintah bersama DPRD untuk memperbaikinya.
"Yang paling penting itu ada tidak upaya kita menuju ke sana, dan itulah yang dilakukan Pemprov Jabar dan DPRD. Di sinilah posisi bagaimana program harus kahartos karaos kabuktos (dimengerti, dirasakan, dibuktikan)," katanya.
Selain kesejahteraan, Iwan juga menyoroti persoalan pengangguran yang kerap menjadi sorotan di provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia ini. Namun menurutnya, persoalan ini tidak bisa hanya dilihat dari ketersediaan lowongan kerja formal.
"Ketika bicara masalah pengangguran itu, harus mindsetnya diubah. Kalau pekerjaan diartikan harus bekerja di belakang meja, berdasi, ruang di situ semakin kecil. Di pabrik juga banyak lawannya," tegasnya.
Ia melihat perubahan besar terjadi pascapandemi COVID-19, di mana teknologi membuka peluang baru yang sebelumnya tidak terpikirkan.
"Pascacovid terjadi perubahan peradaban dimana teknologi membuka ruang. Yang pertama yang saya selalu lakukan dengan pemerintah, dinas harus melakukan pengentasan tapi perlu dilakukan edukasi soal pekerjaan itu," ujarnya.
Menurut Iwan, konsep kerja konvensional sudah tidak lagi relevan sepenuhnya. Kini, peluang ekonomi bisa datang dari mana saja, bahkan hanya dengan perangkat sederhana.
"Mindset tadi kerja harus di kantor itu pertarungannya banyak. Setelah covid kemarin ternyata kerja itu tidak harus di belakang meja, bisa tanpa ada kantor, sekarang dengan HP bisa menghadirkan cuan," katanya.
Ia menekankan, kunci utama ada pada kreativitas dan inovasi masyarakat dalam memanfaatkan peluang tersebut.
"Ujungnya dari kerja itu kan berapa rupiah yang didapat. Kalau kita kreatif inovatif, itu sebetulnya ruang kita untuk bisa mendapatkan penghasilan. Jadi ketika melakukan komunikasi dengan masyarakat, bagaimana berpikir jangan menunggu loker," jelasnya.
Iwan bahkan mencontohkan bagaimana teknologi sederhana seperti ponsel bisa menjadi alat produktif bagi siapa saja.
"Pakai HP untuk dagang, affiliate bisa, ibu-ibu saja sudah jago artinya harus bisa memainkan itu. Dia bisa bekerja dengan menghasilkan apalagi anak muda yang lebih canggih jangan hanya gaya saja" ucapnya.
Perubahan zaman, menurutnya, menuntut masyarakat untuk beradaptasi dan lebih tanggap dalam melihat peluang. Ia juga menegaskan bahwa tantangan ke depan memang tidak ringan, namun bisa dihadapi dengan sikap bijak dan adaptif.
"Artinya mereka bertarung untuk hidup dan bisa memanfaatkan teknologi. Jadi kewajiban saya mengedukasi masyarakat, manfaatkan apa yang ada di sekitarmu, apalagi dengan kondisi global sekarang," katanya.
"Tantangan kita itu besar, tapi kalau kita lihat kondisi ini harus bisa bijak menggunakan apa yang kita miliki," pungkasnya.
(bba/yum)
