Gelombang laut setinggi 2,5 hingga 3 meter melanda pesisir Pantai Pamayangsari, Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, dalam beberapa hari terakhir. Belasan perahu nelayan yang bersandar di Dermaga Pamayangsari mengalami kerusakan.
Tidak hanya perahu, gelombang tinggi juga merusak warung di tepi pantai. Air laut bahkan masuk ke permukiman warga di kawasan Pantai Cikalong.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Tasikmalaya, Dedi Mulyadi, mengatakan gelombang tinggi mulai terjadi sejak Senin (10/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gelombang laut tinggi ini memang tidak separah tahun lalu. Kalau tahun lalu ada puluhan perahu nelayan yang rusak. Sedangkan sekarang hanya belasan perahu, itu pun rusak ringan," kata Dedi kepada detikJabar, Kamis (13/8/2026).
Menurut Dedi, kerusakan perahu meliputi bagian badan perahu, mesin, dan tali. Kerusakan terjadi karena perahu saling bersenggolan di dermaga saat dihantam gelombang.
Selain perahu, satu warung milik warga di pesisir Pantai Pamayangsari juga rusak akibat diterjang gelombang.
"Itu posisi warungnya di pinggir Pantai Pamayangsari dekat ke laut. Jadi wajar terhantam gelombang ombak tinggi, posisinya terlalu dekat pantai dan jangan ada warung," ujar Dedi.
Video amatir yang beredar di media sosial memperlihatkan sejumlah perahu yang bersandar di Dermaga Pantai Pamayangsari terombang-ambing dihantam gelombang. Dalam video tersebut, warga juga terlihat panik ketika air laut naik ke daratan.
Dedi mengatakan ketinggian gelombang pada Kamis (13/8/2026) sudah berangsur turun menjadi di bawah 1 meter. Meski demikian, sebagian besar nelayan masih memilih tidak melaut.
"Alhamdulillah, hari ini gelombangnya sudah berangsur turun. Tapi nelayan untuk sementara tidak melaut, hanya ada satu dua orang yang melaut. Sebagian nelayan beres-beres perahunya yang terdampak," katanya.
Baca juga: 9 Kebakaran Landa Pangandaran dalam 12 Hari |
Menurut Dedi, gelombang tinggi tersebut merupakan siklus tahunan yang terjadi saat musim kemarau. Ia juga menyebut adanya pengaruh angin muson dari Australia serta dampak gempa di Pangandaran.
"Jadi banyak faktor, ada karena dampak gempa Pangandaran, faktor siklus tahunan termasuk dampak musim kemarau. Dan ada angin muson dari arah Australia," ungkapnya.
Dedi mengimbau para nelayan tidak memaksakan diri melaut ketika kondisi cuaca buruk, terutama saat angin dan gelombang tinggi.
"Jangan memaksakan melaut ketika cuaca jelek, angin dan gelombang tinggi. Karena ada nelayan di Pangandaran yang celaka karena memaksakan melaut di tengah gelombang laut tidak menentu," imbaunya.
(yum/yum)
