Jarum jam menunjukkan pukul 23.00 WIB, Rabu (12/8/2026) malam. Di saat riuh jalanan Palabuhanratu mulai sepi dan pintu-pintu rumah warga tertutup rapat, Ujang Rohmat (33) masih berdiri tegak di balik gerobak pikulnya di kawasan Jajaway.
Bayangan tubuhnya memanjang di atas aspal, terpapar pendar redup lampu jalan. Di bulan Agustus ini, saat bendera Merah Putih berkibar di sepanjang jalan merayakan kemerdekaan, Ujang sedang melakoni perjuangannya sendiri. Ia bertarung memerdekakan keluarga kecilnya dari cengkeraman kemiskinan.
Sebelas tahun sudah Ujang menempuh jalan sunyi ini sejak merantau dari Tasikmalaya pada 2015. Kayu pikulan yang melengkung di atas bahunya menahan beban 450 buah bahan cuanki.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Barang dagangan itu bukan miliknya, melainkan milik seorang juragan di Cianjur yang dikirim tiap tiga hari sekali. Namun, lelah fisik memikul beban itu tidak ada apa-apanya dibanding sesak di dadanya setiap kali teringat anak dan istri di kampung.
Ekonomi yang kian mencekik membuat piring nasinya semakin tipis. Dahulu, Ujang bisa membawa pulang uang bersih Rp200.000 per hari. Kini, mendapatkan Rp50.000 hingga Rp100.000 saja ia harus menguras seluruh tenaganya dari pagi hingga larut malam.
"Yang sudah lama berjualan di sini pun sekarang paling besar hanya dapat Rp100.000 sampai Rp120.000 per hari. Dulu bisa membawa pulang Rp200.000, sekarang sepi sekali. Tapi mau bagaimana lagi, harus tetap dijalani. Yang penting anak bisa jajan dan dapur di rumah tetap ngebul," tutur Ujang dengan suara parau, berusaha tersenyum di tengah getir yang menyelimutinya.
Sesekali ia menyelingi perbincangan karena ada pembeli yang menghampiri dan meminta dibuatkan semangkuk cuanki. Tangannya begitu cekatan memilah potongan tahu, bakso, dan batagor kering dari dalam kotak kaca, lalu menyiramnya dengan kuah kaldu yang masih mengepulkan uap hangat.
Senyum ramah selalu ia ukir kepada setiap pembeli, menyembunyikan rapat-rapat keletihan yang sebenarnya sudah menumpuk di sekujur badannya. Usai melayani pembeli dan merapikan kembali sendok garpu ke dalam wadahnya, Ujang menyapu pandangan ke arah jalanan yang kian lengang. Bagi Ujang, cobaan terberat menjadi pedagang kecil bukanlah kaki yang pegal atau badan yang menggigil dihantam angin malam.
Hal paling menyakitkan adalah ketika ia sudah berjalan berkilometer-kilometer, menyusuri rute terjal, namun tak satu pun orang memanggilnya untuk membeli. Ia teringat masa-masa paling kelam ketika melangkah menyusuri jalanan sepi dari kawasan Batu Sapi, melewati deretan makam tua, hingga berjalan jauh ke arah markas kepolisian tanpa memegang uang sepeser pun.
"Paling sedih itu kalau sudah berjalan jauh, kukurilingan ke mana-mana, tapi tidak ada satu pun yang membeli. Dari Batu Sapi dekat kuburan sampai ke sini, belum dapat pembeli pertama sama sekali. Nyesek rasanya di dada," ucapnya lirih. Matanya nanar menatap mangkok-mangkok kosong di atas gerobaknya.
Di balik peluh yang menetes di Palabuhanratu, ada doa-doa mungil yang digantungkan padanya di Tasikmalaya. Sang istri menunggu penuh harap bersama dua anak mereka yang masih kecil. Anak sulungnya baru berusia enam tahun dan baru saja masuk sekolah PAUD.
Demi menghemat tiap keping rupiah agar bisa dikirimkan ke rumah, Ujang rela tinggal di sebuah ruangan mes sempit di kawasan Panyairan, berbagi atap bersama 10 rekan sesama penjual cuanki.
Bagi Ujang, pulang bertemu buah hati adalah sebuah kemewahan yang teramat mahal. Sekali pulang ke Tasikmalaya, ia harus merogoh kocek Rp200.000 untuk ongkos bus, yang artinya Rp400.000 harus disiapkan hanya untuk perjalanan pulang-pergi.
Angka yang teramat besar bagi seorang penjaja cuanki yang kerap hanya mengantongi Rp50.000 sehari. Bila rezeki sedang ada, ia baru bisa pulang tiga bulan sekali. Namun jika jalanan terlampau sepi, ia harus menahan perih tidak pulang hingga enam bulan lamanya.
Tangannya kembali mengusap peluh di dahi saat membicarakan buah hatinya. Rindu pada pelukan anak adalah luka yang harus ia tahan saban malam. Perjalanan delapan jam menggunakan bus umum tak sebanding dengan besarnya biaya yang harus ia sisihkan dari piring makan anak-istrinya.
"Perhitungan biaya untuk pulang sangat berat, Pak. Sekali jalan ke Tasik butuh Rp200.000, kalau pulang pergi sudah Rp400.000. Kalau lagi ada rezeki paling cepat tiga bulan sekali baru bisa pulang. Tapi kalau lagi sepi begini, terpaksa enam bulan sekali baru bisa ketemu anak. Padahal baru satu bulan saja ditinggal, kepala sudah pusing dan dada rasanya sesak karena sangat rindu rumah," bisik Ujang. Kalimatnya terputus, menahan napas yang mendadak berat.
Di bulan kemerdekaan ini, pahlawan tak lagi bertempur dengan bambu runcing di medan perang. Pahlawan hadir dalam rupa seorang ayah yang rela bahunya memar tertindih kayu pikulan, yang kakinya terus memanggil rezeki di atas aspal dingin malam, demi memastikan anaknya bisa bersekolah dan bercita-cita tinggi. Ujang adalah pahlawan tanpa tanda jasa bagi republik kecil yang ia bangun di rumahnya di Tasikmalaya.
Malam makin larut, dan hawa dingin angin laut kian menusuk hingga ke tulang. Namun Ujang belum beranjak. Ia membenahi kembali posisi pikulannya, menatap lurus ke kegelapan jalan di hadapannya, dan kembali melangkah dengan kaki yang gontai dan gemetar. Demi senyum buah hatinya, Ujang memilih untuk terus bertarung menyongsong esok hari.
(iqk/iqk)
