Fenomena El Nino diprediksi akan memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian di Jawa Barat. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memproyeksikan produksi padi di sejumlah daerah bakal menurun akibat musim kemarau yang memicu kekeringan di lahan pertanian.
Musim kemarau yang berlangsung sejak Juli dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga Oktober ini menyebabkan pasokan air irigasi berkurang di berbagai wilayah. Kondisi tersebut meningkatkan risiko penurunan produktivitas hingga gagal panen, terutama di lahan sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat, Linda Al Amin, mengatakan bahwa dampak kekeringan mulai terlihat pada proyeksi produksi padi tahun ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kekeringan memberikan dampak langsung berupa penurunan proyeksi hasil panen serta risiko gagal panen (puso) pada lahan sawah tadah hujan yang kekurangan pasokan air," ujar Linda, Jumat (7/8/2026).
Menurut Linda, komoditas padi menjadi sektor pertanian yang paling terdampak dibandingkan komoditas lainnya. Bahkan, di Kabupaten Bandung Barat, potensi penurunan produksi gabah diperkirakan mencapai 10 hingga 15 persen apabila pasokan air tidak segera diperkuat.
"Komoditas terdampak paling signifikan dirasakan pada komoditas padi (beras). Sebagai contoh, sejumlah kawasan seperti Bandung Barat memproyeksikan penurunan produksi gabah sekitar 10-15 persen jika tidak dilakukan intervensi pengairan secara cepat," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air (DSDA) Jawa Barat, Dikky Achmad Sidik, mengungkapkan bahwa penurunan debit air mulai terjadi di sejumlah daerah irigasi yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi. Kondisi tersebut ikut memengaruhi pasokan air untuk lahan pertanian.
"Beberapa daerah irigasi yang kekeringan ditemukan di Leuwikuya, Soreang Kabupaten Bandung, Ciputrahaji di Ciamis, Biuk dan Padawaras, Tasikmalaya," kata Dikky.
Meski demikian, Dikky menegaskan kekeringan yang terjadi belum sampai membuat saluran irigasi benar-benar kering. Air masih tersedia, namun volumenya menurun dibandingkan kondisi normal sehingga distribusinya harus diatur lebih ketat.
Terkait potensi gagal panen, ia menyebut hingga kini belum ditemukan laporan puso karena sebagian petani telah memasuki masa panen sehingga kebutuhan air relatif lebih rendah.
"Biasanya masih ada debit kang ga sampai kering. Ada sebagian sudah masuk masa panen jadi kebutuhan nya kecil dan terpenuhi," katanya.
Pemprov Jawa Barat saat ini terus mengoptimalkan distribusi air irigasi agar musim panen dan musim tanam berikutnya tidak terganggu. Upaya tersebut dilakukan dengan mengatur pasokan air di daerah-daerah yang mengalami penurunan debit.
Menurut Dikky, penurunan debit air di bendung-bendung yang ada di Jawa Barat bervariasi, berkisar antara 10 hingga 20 persen dari kebutuhan normal. Meski demikian, hingga kini belum ada bendung yang mengalami kekeringan total.
"Kita masih ngejar supaya panen tidak terganggu. Kalau pengurangan bervariasi. Ada yang kurang 10 persen ada 20 persen dari debit kebutuhan areal irigasi," kata dia.
