Fenomena Second Account Gen Z: Ruang Aman atau Beban Mental? Ini Kata Psikolog

Fenomena Second Account Gen Z: Ruang Aman atau Beban Mental? Ini Kata Psikolog

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Rabu, 05 Agu 2026 09:55 WIB
Bahasa Gaul ala Gen Z
Foto: Dok. Ilustrasi AI
Bandung -

Memiliki lebih dari satu akun media sosial kini menjadi hal lumrah di kalangan banyak orang, tak terkecuali Generasi Z (Gen Z). Akun media sosial kedua atau second account menjadi sarana bagi mereka untuk mengekspresikan diri dengan lebih leluasa.

Sementara itu, akun utama dengan identitas diri yang asli dan mudah dikenali, kerap hanya dipenuhi unggahan yang telah dikurasi dengan rapi. Bahkan, tak jarang seseorang memiliki lebih dari dua akun media sosial dengan persona yang berbeda-beda.

Fenomena ini semakin mudah ditemui. Dalam wawancara dengan sejumlah Gen Z usia 19 hingga 26 tahun di Kota Bandung, seluruh narasumber mengaku memiliki akun kedua dengan fungsi yang berbeda-beda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada yang menggunakannya sebagai ruang untuk mengunggah aktivitas sehari-hari tanpa khawatir dinilai orang lain. Ada pula yang memisahkan akun berdasarkan lingkaran pertemanan hingga hobi tertentu.

Maraknya penggunaan second account bahkan memunculkan berbagai spekulasi di media sosial. Salah satunya adalah anggapan bahwa seseorang yang memiliki akun kedua identik dengan gangguan kesehatan mental atau kecenderungan depresi. Benarkah demikian?

ADVERTISEMENT

Jadi Ruang Aman Berekspresi

Florence, salah seorang Gen Z di Bandung, mengaku memiliki dua second account di Instagram. Menurutnya, akun tersebut dibuat agar dirinya lebih leluasa membagikan aktivitas sehari-hari.

"Lebih bebas saja upload kehidupan sehari-hari. Kalau pakai close friend kan masih harus pilih-pilih lagi siapa yang masuk. Kalau second account tidak perlu begitu," ujarnya ketika ditemui detikJabar di kawasan Jalan Braga belum lama ini.

Pengalaman serupa juga dialami Septa. Ia bahkan memiliki tiga akun Instagram dengan fungsi yang berbeda, termasuk untuk menyalurkan hobinya sebagai K-Popers.

"Akun utama buat kerjaan karena banyak teman kantor di situ. Terus ada second account pertama buat teman-teman dekat. Yang satu lagi khusus K-pop, buat stalking oppa," katanya sambil tertawa.

Sementara itu, Acip mengaku memiliki dua akun Instagram. Akun utama digunakan sebagaimana umumnya media sosial, sedangkan akun kedua menjadi tempat berbagi cerita pribadi kepada lingkaran pertemanan yang lebih dekat.

"Second account buat cerita pribadi, keseharian aku, buat teman-teman dekat. Tapi di second account itu pun aku masih pakai close friend lagi buat orang-orang yang benar-benar dekat," katanya.

Berbeda dengan tiga narasumber sebelumnya, Farrel mengaku membuat second account hanya untuk mengunggah foto-foto. Ia memperlakukan akun keduanya sebagai penyaluran hobi.

"Pengen aja punya akun khusus foto," ujarnya singkat.

Ada pula Zaki yang kini justru sudah menutup second account-nya. Barista di salah satu kafe di Braga tersebut mengaku dulu membuat second account bukan karena kebutuhan pribadi, melainkan karena mengikuti tren pertemanan.

"Dulu karena FOMO. Teman-teman punya second account jadi saya ikut bikin juga. Selain itu biar story enggak kelihatan keluarga atau saudara, maunya teman-teman saja yang lihat," katanya.

Pengalaman para narasumber menunjukkan bahwa alasan memiliki second account umunya beragam. Namun ada benang merah yang serupa, yakni keinginan memperoleh ruang digital yang lebih privat.

Hal ini sejalan dengan yang diungkap pada penelitian Rofiqo Ramadhani Siahaan dkk (2026). Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa second account menjadi strategi pengguna untuk melindungi privasi sekaligus mengurangi tekanan sosial di media digital.

Akun utama dinilai berkaitan dengan reputasi sosial maupun profesional, sehingga pengguna merasa harus menjaga citra mereka. Sebaliknya, akun kedua dimanfaatkan sebagai ruang untuk mengungkapkan perasaan secara lebih jujur.

Penelitian itu juga memperkenalkan istilah "aesthetic fatigue", yakni kelelahan akibat tuntutan untuk selalu tampil sempurna di media sosial. Tekanan algoritma, budaya validasi, hingga penilaian publik membuat sebagian pengguna membutuhkan ruang alternatif agar tetap nyaman menggunakan media sosial.

Tak Hanya Dimiliki Gen-Z

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba), Stephani Reihana, mengatakan keberadaan second account sebenarnya bukan fenomena baru yang hanya dialami Generasi Z.

Menurutnya, sejak era awal internet dan media sosial berkembang, manusia memang memperoleh ruang baru untuk menampilkan identitas yang berbeda. Di samping memberi ruang lebih nyaman untuk menjadi diri sendiri, second account juga justru marak digunakan untuk membangun sosok yang berbeda dari diri pengguna di dunia nyata.

"Ini perilaku yang wajar. Bahkan bukan dimulai dari Gen Z. Sejak ada internet, orang diberikan peluang untuk memiliki identitas lain," ujarnya ketika dihubungi detikJabar, Selasa (4/8/2026).

Stephani menjelaskan bahwa dalam psikologi dikenal konsep persona, yakni sisi diri yang ditampilkan seseorang agar lebih mudah diterima oleh lingkungan sosial tertentu.

Menurutnya, tanpa media sosial pun manusia sebenarnya telah melakukan hal tersebut. Cara seseorang berbicara kepada keluarga tentu berbeda dengan ketika berada di kantor atau bertemu orang yang baru dikenal.

"Di rumah, dengan sahabat, dengan teman kerja, perilaku kita bisa berbeda. Itu merupakan bentuk penyesuaian diri yang memang dilakukan manusia agar sesuai dengan tuntutan lingkungan," katanya.

Media sosial, lanjut Stephani, kemudian menjadi tempat yang memungkinkan persona tersebut dibangun secara lebih jelas. Akun utama sering kali dipakai untuk menampilkan citra yang dianggap ideal, sedangkan akun kedua menjadi ruang untuk memperlihatkan sisi diri yang berbeda.

"Memang media sosial sekarang menjadi satu tempat khusus untuk orang-orang menciptakan persona-persona mereka yang berbeda dari true self (diri sebenarnya) mereka," paparnya.

Potensi Menguras Mental

Meski memiliki beragam persona di media sosial adalah hal lumrah, Stephani menegaskan terdapat aspek kesehatan mental yang perlu diperhatikan.

Ia menjelaskan bahwa seseorang akan cenderung lebih sehat secara psikologis ketika apa yang ditampilkan di media sosial selaras dengan kondisi dirinya yang sebenarnya.

"Semakin seseorang genuine (tidak dibuat-buat), semakin apa yang dia tampilkan sesuai dengan dirinya yang asli, maka secara mental dia akan lebih sehat," ujarnya.

Sebaliknya, ketika seseorang harus terus-menerus membangun identitas yang sangat berbeda dengan dirinya sendiri, energi mental yang dikeluarkan menjadi jauh lebih besar.

Menurut Stephani, kondisi tersebut bukan berarti otomatis menyebabkan depresi. Namun, proses mempertahankan berbagai identitas yang berbeda dapat menjadi aktivitas yang melelahkan secara psikologis.

"Kalau terus harus membuat topeng, membuat identitas yang berbeda, tentu itu membutuhkan energi mental. Ketika energi mental terkuras, dampaknya bisa memengaruhi kesehatan mental," katanya.

Ia menambahkan bahwa indikator kesehatan mental bukan terletak pada jumlah akun media sosial yang dimiliki. Melainkan sejauh mana seseorang mampu menerima dirinya sendiri dan tampil secara autentik.

"Semakin orang bisa menerima diri dia apa adanya dan bisa memunculkan diri dia di lingkungan sosial secara genuine, maka ini indikator (baik) dari kesehatan mental seseorang," jelasnya.

Didorong oleh Sistem Media Sosial

Lebih lanjut, Stephani mengatakan bahwa sistem media sosial sendiri memiliki kecenderungan untuk medorong orang menampilkan sisi dirinya yang telah dikurasi, alih-alih apa adanya.

Budaya mengejar jumlah likes, komentar, pengikut, hingga algoritma yang memberi penghargaan pada konten tertentu membuat banyak orang terdorong hanya mengunggah sisi terbaik kehidupannya.

"Media sosial memang tidak menciptakan ekosistem yang membuat orang menjadi diri apa adanya. Orang akan mencari likes, mencari followers, mencari validasi," katanya.

Situasi tersebut membuat keberadaan second account menjadi sesuatu yang dapat dipahami. Banyak pengguna merasa membutuhkan ruang lain yang lebih aman untuk menampilkan keseharian tanpa tekanan penilaian publik.

Meski begitu, Stephani mengingatkan bahwa semakin seseorang membuka banyak persona hanya untuk memenuhi tuntutan sosial, semakin besar kemungkinan penerimaan dirinya belum sepenuhnya terbentuk.

"Kalau self-acceptance seseorang semakin baik, biasanya dia juga akan semakin genuine," ungkapnya.

Ia juga menilai belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa second account hanya menjadi fenomena anak muda. Menurutnya, hal tersebut masih memerlukan penelitian longitudinal yang mengikuti perkembangan perilaku Gen Z hingga usia dewasa.

"Bisa jadi nanti ketika tanggung jawab hidup semakin besar, orang menjadi lebih selektif dan tidak lagi merasa perlu mengelola banyak akun. Tapi itu masih asumsi yang perlu dibuktikan melalui penelitian jangka panjang."

Cara Jaga Kesehatan Mental di Media Sosial

Stephani menegaskan bahwa menjaga kesehatan mental di media sosial tidak cukup hanya dengan mengurangi penggunaan media sosial. Yang lebih penting adalah menciptakan ekosistem digital yang sehat.

Menurutnya, pengguna perlu mengevaluasi akun-akun yang diikuti. Salah satunya agar algoritma media sosial tidak membuat mereka terus merasa cemas, iri, atau tidak bahagia.

"Kalau setelah scrolling dua jam justru merasa bersalah, stres, atau tidak bahagia, mungkin akun-akun seperti itu perlu dilepas," ujarnya.

Selain itu, hubungan di dunia nyata tetap menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan mental. Memiliki relasi yang hangat dengan teman dan keluarga menjadi satu indikator kesejahteraan psikologis.

"Baik di dunia nyata maupun dunia maya, kita sama-sama harus menjaga hubungan yang sehat. Pastikan algoritma media sosial yang kita bangun juga membuat kita bahagia, bukan justru menguras energi mental," tutupnya.



(tya/tya)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads