Kisah Yulianti: Mengubur Trauma Rudal, Menata Asa di Desa

Kabupaten Sukabumi

Kisah Yulianti: Mengubur Trauma Rudal, Menata Asa di Desa

Siti Fatimah - detikJabar
Senin, 03 Agu 2026 18:30 WIB
Momen PMI asal Sukabumi tiba di Bandara Soekarno Hatta
Momen PMI asal Sukabumi tiba di Bandara Soekarno Hatta (Foto: Istimewa)
Sukabumi -

Beban berat yang menghimpit pundak Yulianti (40) selama tiga bulan terakhir akhirnya luruh. Kecemasan yang dipicu oleh gelegar rudal di Uni Emirat Arab (UEA) kini berganti dengan helaan napas lega. Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, itu akhirnya kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, meninggalkan segala kengerian di negeri orang.

Perjalanan pulang Yulianti tidaklah sederhana. Statusnya sebagai pekerja non-prosedural yang terindikasi menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) sempat menjadi ganjalan besar dalam proses pemulangannya ke tanah air.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trauma mendalam yang dialami Yulianti bermula saat tensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran memanas. Tempatnya bekerja yang berada di dekat pangkalan militer AS membuat suara ledakan menjadi bagian dari kesehariannya. Puncaknya terjadi saat ia sedang sibuk di dapur majikannya sekitar pukul 18.00 waktu setempat.

"Waktu itu lagi gencar-gencarnya ada bom. Saya lagi bersihin kipas angin di dapur, tiba-tiba ada ledakan, bukan cuma sekali, tapi delapan kali berturut-turut. Saya kaget luar biasa, langsung jatuh sampai pingsan," kenang Yulianti merinding, Senin (3/8/2026).

ADVERTISEMENT

Dentuman keras itu tidak hanya mengoyak ketenangannya, tetapi juga meninggalkan luka fisik yang nyata. Kaki Yulianti cedera cukup parah hingga ia harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

Meski sempat mencoba bertahan selama seminggu di rumah majikan setelah menjalani rawat jalan, kondisi kakinya justru kian memburuk dan membengkak. Merasa tak lagi mampu memaksakan diri untuk bekerja, Yulianti akhirnya menyerah dan meminta dievakuasi ke kantor agensi.

Yulianti (40) PMI korban TPPO asal Sukabumi yang berhasil pulang ke tanah airYulianti (40) PMI korban TPPO asal Sukabumi yang berhasil pulang ke tanah air Foto: Siti Fatimah/detikJabar

Hari-hari berikutnya di UEA dilalui Yulianti dalam bayang-bayang ketakutan yang mencekam. Ponselnya terus-menerus berbunyi, mengirimkan notifikasi peringatan bahaya ledakan. Situasi semakin sulit saat pemerintah setempat memberlakukan pembatasan aktivitas yang sangat ketat.

"Warga di sana sangat ketakutan. Nggak ada yang boleh keluar, semua harus stay di rumah," tuturnya.

Cedera fisik yang tak kunjung pulih, terutama saat harus berdiri lama, ditambah ancaman konflik bersenjata yang terus mengintai, membulatkan tekad Yulianti untuk pulang. Nasibnya di perantauan pun terasa kian tak menentu setelah ia harus berganti majikan hingga empat kali karena aturan agensi yang kerap mengatur ulang masa kontraknya dari titik nol.

Asa untuk kembali ke pelukan keluarga akhirnya terwujud berkat pendampingan intensif dari berbagai pihak, termasuk Yayasan Rusaida. Yulianti berhasil keluar dari zona konflik dan kembali ke Sukabumi dengan selamat.

Kini, suara ledakan rudal tak lagi menghantui tidurnya. Yulianti telah menutup rapat pintu hatinya untuk kembali mengadu nasib di luar negeri. Ia kini menaruh harapan besar pada uluran tangan pemerintah daerah agar diberikan kesempatan untuk mencari nafkah di tanah sendiri.

"Saya sudah tidak mau lagi bekerja ke sana, mau di Indonesia saja. Harapan saya, mudah-mudahan ke depannya ada bantuan atau lapangan pekerjaan buat saya di sini," pungkasnya.



(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads