Kisah Lansia 76 Tahun Melawan Kanker Usus Kecil Langka

Kisah Lansia 76 Tahun Melawan Kanker Usus Kecil Langka

detikHealth - detikJabar
Senin, 03 Agu 2026 07:00 WIB
Elderly hands on a walker. Senior Women hands on Mobility Walker
Ilustrasi lansia. Foto: Getty Images/sanjagrujic
Jakarta -

Seorang perempuan lanjut usia (lansia) berusia 76 tahun sempat mengalami lemas yang luar biasa, perut terasa tidak nyaman, muntah berulang, hingga beberapa kali pingsan. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, dokter menemukan bahwa ia mengidap adenokarsinoma jejunum, jenis kanker usus kecil yang sangat langka.

Pemeriksaan awal menunjukkan pasien mengalami anemia berat akibat perdarahan internal yang berlangsung terus-menerus. Kondisi tersebut membuat tim medis harus memberikan beberapa kali transfusi darah untuk menstabilkan kesehatannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemeriksaan lanjutan menggunakan PET-CT scan kemudian mendeteksi tumor di area fleksura duodenojejunal, yaitu perbatasan antara usus dua belas jari dan usus kosong. Tumor itu tidak hanya menyumbat sebagian saluran pencernaan, tetapi juga telah menyebar ke area usus besar di sekitarnya.

Tim medis juga menemukan dua nodul kecil di hati yang menandakan kanker telah bermetastasis atau menyebar ke organ lain.

ADVERTISEMENT

"Adenokarsinoma jejunum adalah jenis kanker yang sangat jarang terjadi," ujar Dr Vivek Tandon, Direktur Bedah GI dan Onkologi GI Medanta Noida, India.

"Gejalanya kerap kali samar dan sering disalahartikan sebagai gangguan pencernaan biasa, sehingga pasien baru terdiagnosis saat kondisinya sudah lanjut," sambungnya, dikutip dari Times of India.

Operasi Besar untuk Mengangkat Tumor

Karena pasien terus mengalami perdarahan dan penyumbatan usus, tim dokter dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari bedah gastrointestinal, onkologi, radiologi, anestesi, hingga spesialis perawatan intensif (ICU), memutuskan untuk melakukan operasi besar.

Saat operasi berlangsung, tim bedah menemukan posisi tumor berada di area yang sangat krusial. Tumor telah menginvasi duodenum, jejunum, dan sebagian usus besar, serta berada sangat dekat dengan pembuluh darah utama.

Tim dokter kemudian melakukan reseksi en bloc, yakni prosedur pengangkatan seluruh jaringan tumor beserta segmen usus, sebagian usus besar, dan dua nodul di hati dalam satu tindakan operasi.

Setelah seluruh jaringan yang terdampak berhasil diangkat, tim medis merekonstruksi saluran pencernaan pasien melalui prosedur duodenojejunostomi agar fungsi pencernaan dapat kembali berjalan normal.

Kondisi Pasien Pulih dengan Baik

Meski menjalani operasi yang kompleks dan berisiko tinggi, proses pemulihan pasien berlangsung baik. Beberapa hari setelah operasi, ia sudah dapat kembali mengonsumsi makanan secara oral dan akhirnya diperbolehkan pulang dalam kondisi stabil.

Spesialis bedah yang menangani pasien, Dr Deepak Govil, menegaskan bahwa keberhasilan penanganan kasus tersebut tidak terlepas dari kolaborasi tim medis multidisiplin.

"Penanganan kanker saat ini bukan lagi sekadar soal tindakan bedah semata. Kolaborasi ketat antar-spesialisasi terbukti meningkatkan keselamatan pasien secara signifikan, bahkan pada kasus kanker kompleks yang sudah mengalami penyebaran," pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sini.

(sao/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads