Selama bertahun-tahun, para ilmuwan meyakini rata-rata usia harapan hidup manusia hampir mustahil menembus angka 90 tahun. Namun, sebuah proyeksi ilmiah terbaru menunjukkan anggapan tersebut kemungkinan segera terpatahkan. Perempuan Korea Selatan diperkirakan menjadi populasi pertama dalam sejarah yang memiliki angka harapan hidup rata-rata lebih dari 90 tahun pada 2030.
Proyeksi itu berasal dari penelitian berjudul Future Life Expectancy in 35 Industrialised Countries: Projections with a Bayesian Model Ensemble yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet. Melansir detikInet, penelitian tersebut dipimpin oleh Vasilis Kontis dan Majid Ezzati dari Imperial College London, bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penelitian tersebut, tim ilmuwan menganalisis proyeksi usia harapan hidup di 35 negara maju menggunakan pendekatan Bayesian model ensemble, yakni metode yang menggabungkan hasil dari 21 model statistik untuk menghasilkan proyeksi yang lebih akurat.
Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan Korea Selatan yang lahir pada 2030 diperkirakan memiliki usia harapan hidup rata-rata 90,8 tahun. Angka itu lebih tinggi dibandingkan proyeksi di Prancis, Jepang, dan Spanyol yang berada di kisaran 88 tahun.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa angka tersebut masih berupa proyeksi, bukan kepastian. Model statistik yang digunakan memperlihatkan peluang sebesar 57 persen bahwa rata-rata usia harapan hidup perempuan Korea Selatan akan melampaui 90 tahun pada 2030. Sementara itu, peluang usia harapan hidup mereka melampaui 86,7 tahun-rekor tertinggi dunia pada 2012-mencapai 90 persen.
Majid Ezzati mengatakan temuan tersebut sekaligus membantah keyakinan lama bahwa manusia tidak akan mampu mencapai rata-rata usia harapan hidup di atas 90 tahun.
"Belum lama ini, tepatnya sekitar pergantian abad, banyak peneliti percaya bahwa usia harapan hidup tidak akan pernah melampaui 90 tahun. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa kita akan menembus batas 90 tahun tersebut," kata Ezzati seperti dikutip dari Space Daily.
Keberhasilan Korea Selatan diperkirakan bukan lahir dari satu kebijakan atau faktor tunggal, melainkan hasil akumulasi berbagai perbaikan di sektor kesehatan masyarakat yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Peneliti menilai peningkatan kualitas gizi sejak usia dini, akses layanan kesehatan yang hampir merata melalui National Health Insurance Service, rendahnya tingkat obesitas, tekanan darah rata-rata yang lebih baik dibandingkan banyak negara maju, serta pemerataan layanan kesehatan di berbagai kelompok sosial menjadi fondasi utama peningkatan usia harapan hidup di negara tersebut.
Di sisi lain, Amerika Serikat justru diproyeksikan tertinggal dibandingkan banyak negara maju lainnya. Penelitian itu memperkirakan usia harapan hidup perempuan di Negeri Paman Sam hanya mencapai sekitar 83,3 tahun pada 2030.
Menurut tim peneliti, kondisi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti tingginya angka obesitas, belum adanya cakupan layanan kesehatan universal, tingginya angka kematian ibu dan bayi, serta tingkat pembunuhan yang relatif tinggi.
Ezzati mengingatkan bahwa meningkatnya usia harapan hidup juga menghadirkan tantangan baru yang harus dipersiapkan sejak sekarang.
"Fakta bahwa kita akan terus hidup lebih lama berarti kita perlu memperkuat sistem kesehatan dan layanan sosial untuk mendukung populasi yang menua dengan berbagai kebutuhan kesehatan," ujarnya.
Apabila proyeksi tersebut benar-benar terwujud pada 2030, Korea Selatan tidak hanya akan mencetak tonggak baru dalam sejarah demografi modern, tetapi juga menunjukkan bahwa investasi jangka panjang di bidang kesehatan, gizi, dan pemerataan layanan publik mampu mengubah batas yang selama ini dianggap sulit dicapai. Penelitian ini sekaligus menjadi pengingat bahwa usia harapan hidup bukan semata ditentukan oleh kemajuan medis, melainkan juga oleh kualitas kebijakan publik yang dijalankan secara konsisten selama puluhan tahun.
Artikel ini sudah tayang di detikInet, selengkapnya di sini
