Di bawah sinar matahari pagi yang mulai menghangat di Lanud Sulaiman, Kabupaten Bandung, Senin (27/7/2026), udara tidak hanya diisi oleh deru mesin, melainkan desingan kayu yang membelah angin. Ratusan atlet dari berbagai penjuru dunia tampak sibuk. Mereka mengasah fokus, memastikan setiap lemparan bumerang meluncur presisi, meliuk di udara, dan kembali ke pelukan dengan sempurna.
Bagi masyarakat Aborigin di Australia, bumerang adalah sejarah panjang tentang bertahan hidup, sebuah alat berburu dan senjata perang. Namun hari ini, fungsinya telah bertransformasi total. Bumerang telah menjelma menjadi olahraga kompetitif yang menuntut ketangkasan fisik dan ketajaman mental, yang puncaknya dirayakan dalam kejuaraan dunia setiap dua tahun sekali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahun ini, Indonesia mendapatkan kehormatan besar. Sebanyak 12 negara, mulai dari Jepang, Australia, India, Inggris, Kanada, Singapura, Jerman, Prancis, Swiss, Amerika Serikat, hingga Brasil, berkumpul di tanah Pasundan untuk menguji ketepatan, kecepatan, dan daya tahan lemparan mereka.
"Kami mengadakan pembukaan bumerang internasional yang diikuti oleh 12 negara termasuk Indonesia ya," ujar Kepala Pusat Teritorial TNI Angkatan Udara (Kapusterau), Marsma TNI Ignatius Wahyu Anggono, saat ditemui di sela-sela kegiatan di Kecamatan Margahayu tersebut.
Kejuaraan ini bukan sekadar kompetisi biasa, melainkan tonggak sejarah karena untuk pertama kalinya Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah. Ada harapan besar agar olahraga unik ini bisa berakar kuat dan tumbuh subur di tanah air.
"Iya kalau kejuaraan dunia ini perdana di sini. Jadi kegiatan hari ini kita akan mengembangkan bagaimana bumerang ini bisa diterima di Indonesia terutama nanti di Kabupaten Bandung sini," kata Wahyu.
Ia menjelaskan bahwa penilaian dalam lomba ini mencakup berbagai kategori, terutama aspek akurasi dan kecepatan atlet. Lebih dari sekadar angka di papan skor, Wahyu melihat ajang ini sebagai jembatan diplomasi budaya.
"Semoga kerja sama ini dan kita juga menunjukkan bahwa kearifan lokal, kebaikan, keakraban dari kita bisa diterima di negara lain," jelasnya.
Kejuaraan Bumerang Dunia di Bandung Foto: Yuga Hassani/detikJabar |
Sisi ekonomi dan citra bangsa juga menjadi perhatian utama. Wahyu meyakini kehadiran tamu-tamu mancanegara ini akan memberikan dampak positif bagi denyut nadi ekonomi di Kabupaten Bandung, sekaligus membuktikan bahwa Indonesia adalah panggung yang hangat bagi ajang internasional.
"Kami berharap kegiatan ini dapat berkelanjutan. Selain memperkenalkan olahraga bumerang, kami juga ingin menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kearifan lokal, keramahan, dan kemampuan menjadi tuan rumah penyelenggaraan event internasional yang aman dan nyaman," ucapnya.
Gayung bersambut, Bupati Bandung Dadang Supriatna memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kejuaraan dunia di wilayahnya. Baginya, ini adalah momentum emas untuk memberikan pelayanan terbaik kepada dunia.
"Saya sangat menyambut baik dan tentu sebagai tuan rumah akan memberikan pelayanan yang terbaik dan juga nanti kita informasikan kepada semua atlet-atlet yang tentunya Kabupaten Bandung," tutur Dadang.
Dadang pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mempromosikan potensi wisata daerahnya. Ia berharap para atlet tidak hanya membawa pulang medali, tetapi juga kenangan manis tentang keindahan alam dan fasilitas di Bandung, yang pada akhirnya akan mendongkrak Pendapatan Anggaran Daerah (PAD).
"Di sini ada juga perhotelan dan sebagainya dan kita nanti kita informasikan kepada atlet-atlet dan tentu ini merupakan salah satu upaya untuk peningkatan PAD juga," tambah Dadang.
Di sisi lain lapangan, Hari Gunawan, salah satu atlet andalan Indonesia, tampak bersiap dengan peluh yang mulai membasahi dahi. Baginya, bertanding di level dunia menuntut persiapan fisik yang ekstra keras. Stamina adalah kunci utama untuk bertahan dalam jadwal yang padat.
"Karena lomba ini butuh stamina yang lumayan karena dari pagi turnamennya enggak berhenti sampai sore, selama hampir satu minggu ini tiap hari seperti itu. Terus latihan gabungan berkala sama performa bumerang," ungkap Hari.
Perjalanan komunitas bumerang di Indonesia sendiri sebenarnya sudah cukup panjang, yakni sejak tahun 2011. Sejak saat itu, mereka konsisten mengibarkan bendera merah putih di berbagai kompetisi, baik skala nasional maupun internasional.
"Alhamdulillah kita selalu mengikuti kejuaraan Bumerang," bebernya singkat.
Menghadapi para pesaing dari 11 negara lainnya, Hari tetap optimistis. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, di mana atlet Indonesia mampu mendulang banyak medali meski dengan jumlah personel terbatas, ia yakin kali ini podium juara bisa kembali dikuasai.
"Kita berharap sih semua kategori karena rata ya, targetnya semaksimal mungkin. Karena selama ini WBC kita di Perancis kemarin cuman ngirimkan dua atlet di Amerika cuman satu atlet itu pun sudah memborong banyak medali. Gitu kita dua tim berharap banyak medali yang kita raih," pungkasnya penuh harap.

