Benarkah Manusia Selalu Hidup dalam Perang? Ini Temuan Sejarawan

Benarkah Manusia Selalu Hidup dalam Perang? Ini Temuan Sejarawan

detikINET - detikJabar
Sabtu, 25 Jul 2026 21:00 WIB
Vintage World War II photo of the USS Arizona burning after the Japanese attack on Pearl Harbor, December 7, 1941.
Ilustrasi perang. Foto: Getty Images/Stocktrek Images/Stocktrek Images
Jakarta -

Perang kerap menjadi bagian dari perjalanan panjang peradaban manusia. Mulai dari konflik antarkerajaan hingga peperangan modern, hampir setiap era meninggalkan jejak pertumpahan darah. Namun, benarkah manusia selalu hidup dalam perang?

Para arkeolog dan sejarawan menyebut jawaban atas pertanyaan itu bergantung pada definisi perang yang digunakan. Jika perang dimaknai sebagai konflik yang melibatkan negara atau pemerintahan, sebagian besar sejarah manusia justru berlangsung tanpa perang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Selama hampir 99% sejarah manusia belum ada pemerintahan," kata sejarawan dari Stanford University Ian Morris, dikutip dari Live Science, Kamis (23/7/2026).

Meski demikian, penulis buku War! What Is It Good For? Conflict and the Progress of Civilization from Primates to Robots itu menegaskan kondisi tersebut tidak berarti manusia hidup sepenuhnya damai.

ADVERTISEMENT

"Kalau pertanyaannya apakah manusia pernah hidup tanpa kekerasan, jawabannya cukup jelas, tidak. Manusia selalu berkelahi dan saling membunuh," ujarnya.

Sejumlah peneliti berpendapat perang hampir tidak dikenal ketika manusia masih hidup sebagai pemburu-peramu nomaden. Profesor emeritus sejarah di George Mason University, Peter Stearns, mengatakan bukti arkeologi mendukung pandangan tersebut.

"Hanya sedikit, bahkan mungkin tidak ada perang, dalam masyarakat pemburu-peramu sebelum munculnya pertanian," kata Stearns.

Kesimpulan itu berasal dari penelitian terhadap ribuan kerangka manusia purba di berbagai wilayah dunia. Para arkeolog menelusuri tanda-tanda luka akibat peperangan, seperti bekas tusukan, sayatan, atau hantaman benda tumpul pada sejumlah individu yang dimakamkan dalam satu lokasi.

Hasil penelitian menunjukkan bukti tersebut hampir tidak ditemukan pada sisa-sisa manusia yang berumur lebih tua dari sekitar 8.000 SM. Jejak peperangan baru terlihat lebih luas setelah manusia mulai menetap, bercocok tanam, dan membangun komunitas permanen.

Kekerasan Sudah Ada Sejak Masa Prasejarah

Meski perang belum banyak ditemukan pada masa awal peradaban, bukan berarti manusia purba hidup tanpa kekerasan. Di situs arkeologi Nataruk, Kenya, para peneliti menemukan 27 kerangka berusia sekitar 10.000 tahun yang menunjukkan tanda-tanda kematian akibat kekerasan.

Sementara itu, di Jebel Sahaba, Sudan, para arkeolog menemukan jasad berusia sekitar 13.000 tahun dengan bekas serangan antarkelompok. Namun, menurut Morris, peristiwa tersebut belum tentu dapat dikategorikan sebagai perang.

"Peneliti yang mempelajari perang biasanya mendefinisikannya sebagai kekerasan yang diorganisasi oleh pemerintah atau kekerasan kolektif yang menewaskan lebih dari jumlah tertentu," jelasnya.

Karena masyarakat prasejarah belum memiliki pemerintahan formal dan ukuran kelompoknya relatif kecil, banyak ahli tidak mengategorikan bentrokan tersebut sebagai perang.

Memasuki era kerajaan dan kekaisaran besar, perang memang semakin sering terjadi. Namun, sejarah juga mencatat sejumlah periode damai yang berlangsung cukup lama.

Profesor sejarah dunia di University of Oxford, Peter Frankopan, menjelaskan bahwa perdamaian umumnya tercipta ketika dua kekuatan besar memiliki kemampuan yang seimbang sehingga tidak ada pihak yang berani memulai perang.

"Perang itu mahal dan penuh risiko. Karena itu, pada banyak periode sejarah, stabilitas dan perdamaian tercapai ketika para pesaing, musuh, dan negara tetangga memiliki kekuatan yang seimbang," kata Frankopan.

Salah satu contohnya terjadi di Timur Tengah kuno sekitar 1400-1200 SM. Pada masa itu, Mesir dan Kekaisaran Het berhasil menghindari perang besar melalui perjanjian diplomatik.

Contoh lain terlihat pada hubungan Romawi dan Persia yang relatif damai sekitar 387-501 M. Perdamaian panjang juga terjadi antara China, Korea, dan Jepang pada sekitar 1600-1850, ketika negara-negara Eropa justru terus dilanda peperangan.

Meski terdapat sejumlah pengecualian, para ahli menilai perang tetap menjadi pola yang dominan dalam sejarah peradaban manusia. Peneliti hubungan internasional yang mengkaji periode damai antarkekuatan besar, Jared Morgan McKinney, menyimpulkan perang pada dasarnya merupakan kondisi yang paling umum dalam sejarah manusia.

"Perang adalah sesuatu yang 'normal' dalam sejarah. Tetapi, seperti yang ditunjukkan berbagai contoh ini, selalu ada pengecualian terhadap pola tersebut," kata McKinney.

Dengan demikian, jika perang didefinisikan sebagai konflik yang melibatkan negara atau pemerintahan, manusia memang pernah melewati masa yang sangat panjang tanpa perang. Namun, jika yang dimaksud adalah kekerasan antarmanusia, bukti arkeologi menunjukkan konflik telah menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak masa prasejarah.

Artikel ini telah tayang di detikINET. Baca selengkapnya di sini.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads