Maraknya aksi begal di Kota Bandung memaksa para pengemudi ojek online(ojol) meningkatkan kewaspadaan. Selain mengurangi aktivitas pada malam hari, sebagian driver kini membekali diri dengan cairan pedas sebagai alat per
tahanan diri apabila sewaktu-waktu menjadi sasaran pelaku kejahatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Umum Himpunan Driver Bandung Raya (HDBR) Iyan Restu mengatakan, rentetan aksi begal belakangan ini telah menimbulkan keresahan, terutama bagi para pengemudi ojol yang bekerja tanpa mengenal waktu.
"Sangat meresahkan untuk masyarakat, terutama untuk OJOL. Kita beroperasi yang tanpa mengenal waktu ataupun batas waktu, sampai 24 jam kan kalau ojol ini," ujar Iyan, Sabtu (25/7/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat banyak pengemudi dihantui rasa takut setiap kali menerima order, terutama pada malam hingga dini hari. Sebab, para pelaku begal kerap mengincar siapa saja tanpa pandang bulu.
"Saat-saat ini tentunya menjadi ketakutan ataupun kekhawatiran masyarakat di ojol ini dengan mereka, para pelaku ataupun para begal-begal ini kan mereka tanpa pengen tahu siapa pun," katanya.
Sebagai langkah antisipasi, HDBR mulai mengedukasi para anggotanya agar sementara waktu mengurangi aktivitas mencari penumpang pada malam hari. Imbauan itu bukan larangan bekerja, melainkan upaya meminimalkan risiko menjadi korban kejahatan.
"Antisipasi memang kita secara perlahan juga kita mengedukasi teman-teman dalam artian untuk mengurangi on-beat ataupun aktivitas di malam hari untuk sementara ini. Bukan pembatasan sih kan, lebih ke imbauan saja," ungkap Iyan.
"Edukasi ke teman-teman karena kan kita sayang lah ke teman-teman ini jangan sampai lagi musim-musim begal seperti ini. Teman-teman untuk secara on-beatnya dimohon untuk mungkin agak siang lah kalau misalkan sampai malam pun itu hanya jam 9-10 malam," lanjutnya.
Tak hanya mengurangi jam operasional malam, para pengemudi juga dianjurkan membawa alat pertahanan diri nonmematikan. Salah satunya berupa cairan pedas berbahan campuran cabai yang disiapkan sebagai upaya terakhir ketika menghadapi ancaman begal.
"Betul, bahwa bukan hanya cairan pedas memang kita anjurkan untuk jaga-jaga seperti itu. Jangan sampai juga lah membawa senjata tajam seperti layaknya begal. Kalau mereka membawa benda itu hanya benda-benda tumpul saja," ujar Iyan.
Ia menjelaskan cairan pedas tersebut merupakan racikan sederhana berbahan serbuk cabai. HDBR sengaja tidak menganjurkan anggotanya membawa senjata tajam agar tidak menimbulkan persoalan hukum.
"Kalau itu sudah dari serbuk campuran dari cabai sebagai jaga-jaga saja sih. Kalau untuk sajam tentunya kita tidak dibolehkan, tidak dianjurkan. Benda-benda tumpul sekiranya yang mampu bisa disimpan di bagasi ataupun di badan itu silakan saja lah untuk jaga-jaga diri," katanya.
Maraknya aksi begal juga mulai berdampak pada jumlah penumpang yang menggunakan jasa ojol pada malam hari. Banyak masyarakat memilih membatasi aktivitas di luar rumah karena khawatir menjadi korban kejahatan.
"Jelas, jelas. Jadi khususnya untuk di order penumpang ya memang agak menurun lah. Kalau untuk yang lainnya normal-normal saja sih. (Turun) bisa sampai ke 30-40 persen untuk di musim-musim seperti ini untuk penumpang," ujarnya.
Iyan pun mengingatkan seluruh pengemudi ojol di Bandung Raya agar selalu mengutamakan keselamatan saat bekerja. Ia meminta para driver meningkatkan kewaspadaan dan tidak memaksakan diri mengambil order apabila kondisi dinilai berisiko.
"Imbauan tentunya buat teman-teman dimanapun dan siapapun aplikasi manapun tetap waspada, tetap hati-hati, kedepankan keselamatan kita semua tentunya karena kita adalah pejuang keluarga, jangan lupa bahwa di sekeliling kita, orang terdekat kita, orang yang mencintai kita itu selalu menunggu dirumah dengan setia," pungkasnya.
Simak Video "Video: Menhub Buka Suara soal Peluang Aturan Ojol Masuk Revisi UU LLAJ"
[Gambas:Video 20detik] (bba/mso)
