- Tiga bocah bersaudara tewas terpanggang setelah rumah panggung yang mereka tempati di Kampung Babakan Bandung, Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, dilalap api pada Kamis (23/7/2026) malam. Kebakaran yang diduga dipicu lilin saat listrik padam itu berlangsung begitu cepat hingga membuat ketiga korban yang tengah tertidur tak sempat menyelamatkan diri.
Korban masing-masing Aljenar Malik Saputro (10), Saka Asadek (5), dan Shakila Almahira Quenza (4). Ketiganya tinggal bersama neneknya, Nia Kurniasih (59), di rumah panggung berukuran sekitar 6x9 meter yang seluruhnya hangus terbakar.
Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, peristiwa bermula saat wilayah Desa Wangunreja mengalami pemadaman listrik sekitar pukul 18.00 WIB. Dalam kondisi gelap, penghuni rumah berinisial NOS (14) menyalakan lilin yang diletakkan di atas televisi di ruang tamu sebagai penerangan darurat. Setelah itu, ia bersama nenek dan ketiga adiknya masuk ke kamar untuk beristirahat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar pukul 19.30 WIB, NOS terbangun karena merasakan hawa panas. Saat membuka mata, api sudah membesar dan melahap ruang tamu rumah.
"Tadi kejadian kurang lebih pukul 19.30, di mana kronologi anak pertama menyalakan lilin di ruang tamu karena kondisi lagi mati lampu. Nah, setelah menyalakan lilin, kemudian tidur dan terjadilah kebakaran," ungkap Kapolsek Nyalindung Iptu M. Yanuar Fajar.
Mengetahui rumah terbakar, sang nenek berupaya memadamkan api menggunakan ember berisi air. Namun usahanya tidak membuahkan hasil karena kobaran api dengan cepat menjalar ke seluruh bangunan yang didominasi material kayu dan bilik bambu.
"Nenek sempat berlari ke kamar mandi mengambil ember berisi air untuk memadamkan api di ruang tamu. Namun amukan api bergerak terlalu cepat, melahap dinding bilik bambu yang sangat mudah terbakar," kata Fajar.
Dalam kepanikan, Nia sempat keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Ia kemudian berusaha kembali masuk ke dalam rumah demi menyelamatkan ketiga cucunya yang masih terjebak di kamar. Namun aksi nekat itu dicegah warga karena kobaran api sudah terlalu besar dan bangunan terancam roboh.
NOS dan sang nenek berhasil selamat meski mengalami luka bakar ringan pada tangan dan kaki. Sementara itu, tiga bocah yang berada di dalam kamar tidak sempat menyelamatkan diri. Saat api berhasil dipadamkan, ketiganya ditemukan meninggal dunia di ruangan yang sama setelah tertimbun material bangunan yang runtuh.
"Betul, tadi jadi semuanya itu tidur di satu kamar. (Terkunci atau tidak?) itu masih kita dalami karena kita sementara ini fokus ke penanganan korban. Luka bakar yang dialami korban hampir 100 persen ya malah ada beberapa bagian organ tubuh yang hilang," ungkap Fajar.
Konstruksi rumah panggung membuat kobaran api sangat cepat membesar. Tiupan angin yang cukup kencang saat kejadian semakin memperparah situasi sehingga warga kesulitan melakukan penyelamatan.
Petugas gabungan dari kepolisian, BPBD, dan Dinas Pemadam Kebakaran kemudian berhasil memadamkan api sekitar 30 menit setelah kejadian dan mencegah kobaran merembet ke rumah warga lainnya.
"Pihak keluarga korban telah ikhlas menerima musibah ini dan menandatangani surat pernyataan penolakan otopsi," ujar Fajar.
(yum/yum)
