Potret Buram Pendidikan Tasik, 25 Siswa Berdesakan di Bilik Bambu Lapuk

Potret Buram Pendidikan Tasik, 25 Siswa Berdesakan di Bilik Bambu Lapuk

Deden Rahadian - detikJabar
Selasa, 21 Jul 2026 17:45 WIB
Potret kelas jauh di Kampung Manglid, Dusun Mekarjaya, Desa Kertaraharja, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
Potret kelas jauh di Kampung Manglid, Dusun Mekarjaya, Desa Kertaraharja, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Foto: Istimewa
Tasikmalaya -

Potret pendidikan di Tanah Air masih belum sepenuhnya layak. Seperti yang dirasakan puluhan anak di Kampung Manglid, Dusun Mekarjaya, Desa Kertaraharja, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Di balik pegunungan yang indah, sebanyak 25 siswa SD harus belajar di bangunan rumah panggung. Ya, bangunan itu adalah kelas jauh SDN Kubangsari.

Tidak ada dinding tembok atau lantai layak, apalagi papan tulis modern. Dinding ruang kelas terbuat dari bilik usang yang sudah tidak rapat lagi. Ruang kelas berukuran 5x4 meter itu justru dulunya adalah rumah panggung milik warga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ruangan berdinding bilik bambu itu diisi bersamaan oleh 9 siswa kelas 1 dan 16 siswa kelas 2. Tanpa sekat pemisah, kegiatan belajar mengajar berlangsung berimpitan.

ADVERTISEMENT

Situasi semakin sulit saat hujan turun. Atap bangunan tua kerap bocor dan membasahi area belajar.

"Kondisinya memang sangat memprihatinkan dan jauh dari kata layak. Kalau hujan bocor, anak-anak belajar berdesakan tanpa sekat," ujar Epi, guru kelas jauh yang sudah mengabdi 3 tahun di sana.

Di sekolah ini, kegiatan belajar hanya ditopang dua orang guru. Epi yang berstatus sukwan, dan satu guru Pendidikan Agama Islam.

"Saya sangat berharap tempat ini bisa segera dibangunkan dua ruangan kelas baru yang permanen," kata Epi.

Sementara siswa yang naik ke kelas 3 harus menempuh perjalanan sekitar 2 kilometer menuju sekolah induk di SDN Kubangsari.

"Kalau naik kelas tiga dia pindah ke sekolah induk di Kubangsari," kata Epi.

Keberadaan kelas jauh ini berawal dari krisis pendidikan sekitar 10 tahun lalu. Di Kampung Sadot, banyak warga yang tidak sekolah.

Anak-anak harus berjalan kaki 3 kilometer melewati bukit, lembah, sawah, hingga menyeberangi sungai. Karena medan berat, banyak orang tua memilih tidak menyekolahkan anaknya.

Akhirnya pada 2016 pemerintah desa dan daerah sepakat mendirikan kelas jauh.

"Dulu dibangun sekitar tahun 2017 dengan segala keterbatasan. Anggaran tanahnya dari kas desa dan rereongan (gotong royong) warga. Karena dana terbatas, kami beli rumah panggung bekas warga yang tidak ditempati, lalu dirakit jadi kelas," kata Kepala Desa Kertaraharja Agus.

Kini bangunan bekas rumah panggung itu sudah lapuk dan membahayakan. Pihak desa berharap Pemkab Tasikmalaya segera membangun ruang kelas permanen.

Agus menyebut, lahan untuk pembangunan sudah disediakan warga secara swadaya. "Tapi sampai kepemimpinan bupati silih berganti, janji tersebut belum juga terealisasi. Kami dari desa tidak bisa pakai Dana Desa untuk bangun fisik sekolah karena terbentur aturan," tegas Agus.

Warga dan guru berharap pemerintah segera turun tangan agar 25 siswa di kelas jauh ini bisa belajar dengan layak dan aman.

"Kami berharap ada perhatian supaya sekolah dibangun permanen," kata Agus.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads