Bahasa Inggris punya kata yang diserap dari Melayu yang berakar dari bahasa Kawi, yaitu kata Amok. Kata ini punya beragam penulisan: Amok, amuck, dan run amok. Dalam Indonesia kita mengenal istilah 'mengamuk'. Di dalam Sunda dikenal juga 'ngamuk'.
Baru-baru ini, tiga orang tiba-tiba 'mengamuk' dengan cara mengeroyok seorang penjaga perlintasan kereta api di perlintasan sebidang JPL 227 Leuwigoong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Peristiwa ini terjadi tepatnya pada Minggu (12/7/2026) siang, sebagaimana dilansir detikJabar.
Kemarahan itu dipicu oleh teguran karena pelaku pengeroyokan menerobos palang perlintasan ketika palang itu tertutup. Yang ditegur kemudian kembali lagi menghampiri penjaga perlintasan dan mengeroyoknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fenomena ini mirip seperti definisi amok. Kata yang dahulu kala berkaitan dengan budaya sebuah wilayah, lalu menjadi nama untuk gangguan psikologis. Menurut laman National Library of Medicine, tidak bisa dielakkan bahwa amok terjadi di dunia modern.
Asal Usul Kata Amok
Studi berjudul 'Amuk: Sindrom Barat dan Pemberontakan Tak Sadar (Analisis Kritis Pergeseran Makna Amuk dalam Lintasan Sejarah)' oleh Aris Fauzan, dimuat dalam Fokus : Jurnal Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan, Vol.2 No. 01, Juni 2017, menjelaskan asal usul kata amuk.
"Kamus kamus Inggris menuliskan bahwa amuk berasal dari bahasa Melayu dan Jawa Kuno (Jawa Kawi, Old Java) yang secara harfiah amuk diartikan dengan perang atau melakukan perlawanan. Winter dan Ranggawarsita mengartikan kata amuk dengan ngamuk dan perang. Zoetmulder dan R.O. Robson, mengartikan amuk dengan mengunyah dan disepadankan dengan wuk yang diartikan dengan serangan hebat." tulis jurnal itu.
Di sana dikisahkan bahwa sarjana Barat seperti Denys Lombard menganggap adanya kontradiksi antara keindahan alam dan kejiwaan penghuni di sini yang tak berakal, suka mengamuk, dibutakan nafsu dan agamanya, kejam, dan haus darah.
"Beberapa ahli Eropa mengembalikan makna amuk dengan orang Jawa. Dalam catatan Lombard tentang Jawa, sejak abad ke-17 kata amuk salah satu kosa kata Melayu yang diadobsi ke dalam bahasa Eropa." tulis jurnal tersebut.
Studi berjudul 'Running Amok: A Modern Perspective on a Culture-Bound Syndrome' oleh Manuel L Saint Martin, yang diunggah laman National Library of Medicine mengungkapkan kata ini telah diserap oleh orang Eropa sejak awal abad ke-18.
"Kapten Cook dianggap sebagai orang pertama yang melakukan pengamatan dan pencatatan amok di kalangan suku Melayu pada tahun 1770 selama pelayaran keliling dunianya. Ia menggambarkan individu yang terkena dampak berperilaku kasar tanpa sebab yang jelas dan membunuh atau melukai penduduk desa dan hewan secara membabi buta dalam serangan yang mengamuk. Serangan amok melibatkan rata-rata 10 korban dan berakhir ketika individu tersebut ditaklukkan atau "dilumpuhkan" oleh sesama anggota sukunya," tulis studi tersebut.
Amok Sebagai Gangguan Psikologis
Amok yang semula bertaut dengan budaya Asia, kemudian menjadi nama untuk masalah psikologis. Masalah ini dapat ditemukan di berbagai belahan dunia, tak terkecuali di Barat. Manuel L Saint Martin dalam studinya itu mengatakan amok bahkan terjadi di dunia modern.
"Namun, mengkarakterisasi amok sebagai sindrom yang terikat budaya mengabaikan fakta bahwa perilaku serupa telah diamati di hampir semua budaya Barat dan Timur, tanpa adanya isolasi geografis."
"Lebih lanjut, keyakinan bahwa amok jarang terjadi saat ini bertentangan dengan bukti bahwa episode perilaku kekerasan serupa lebih umum terjadi di masyarakat modern daripada di budaya primitif tempat amok pertama kali diamati." tulisnya.
Dahulu kala, seseorang dapat mengamuk karena latar belakang budaya yang disahilan dari isolasi geografis dan kepercayaan keagamaan sebuah komunitas masyarakat. Kini, isolasi yang dimaksud bukan soal geografis lagi, melainkan 'isolasi pikiran'.
Laman Bincang Psikologi mengungkapkan, amok 'sering diartikan sebagai tindakan brutal atau liar yang dilakukan seseorang tanpa adanya kendali diri'. Lebih lanjut, 'amok adalah kemarahan yang muncul secara tiba-tiba dimana orang normal menjadi mengamuk dan menyakiti orang, hal ini diikuti dengan kekerasan yang dipicu oleh penghinaan'.
Struktur Sosial-Ekonomi yang Meng-'Isolasi Pikiran'
Pikiran yang terisolasi adalah penyebab amok di zaman kini. Orang-orang yang terbuka pikirannya, sebagai sebuah contoh, akan merespons teguran dengan sebuah kesadaran diri bahwa teguran datang karena diri berbuat kesalahan.
Tidak ada salahnya jika jurnal pada laman National Library of Medicine di atas mengatakan orang-orang di zaman modern bahkan lebih sering mengamuk daripada mereka yang hidup pada zaman ketika kata ini diambil.
Akan tetapi, Isolasi Pikiran ini tidak bisa dianggap sebagai gejala tunggal yang dihasilkan tiba-tiba oleh personal orang yang mengamuk. Melainkan mesti ditinjau sebagai gejala traumatik bahkan struktural.
Laman Bincang Psikologi megutip American Psychiatric Association yang memasukkan Amok sebagai bagian dari Dissociative Fugue (300.13). Yakni, 'keadaan dimana seseorang kehilangan ingatan akan keseluruhan hidupnya dan identitas pribadi mereka'.
Ini yang menarik, bahwa keadaan sosial-ekonomi bisa juga berpengaruh terhadap mengamuknya seseorang: 'Fugue dapat terjadi ketika seseorang mengalami stres berat, pertengkaran dalam rumah tangga, penolakan diri, masalah sosio-ekonomi, bertugas dalam peperangan dan bencana alam yang dialaminya'.
