Rahasia Lidah Emas di Mulut Mumi Berusia 2.000 Tahun

Kabar Internasional

Rahasia Lidah Emas di Mulut Mumi Berusia 2.000 Tahun

Rachmatunnisa - detikJabar
Minggu, 19 Jul 2026 23:00 WIB
13 Mumi berlidah emas ditemukan di Mesir!
13 Mumi berlidah emas ditemukan di Mesir! Foto: (Dokumentasi Kementerian Pariwisata dan Kepurbakalaan Mesir)
Jakarta -

Sebuah penemuan arkeologi di pesisir Laut Mediterania, Mesir, mengungkap tradisi pemakaman kuno yang menyimpan misteri. Saat menggali kompleks pemakaman berusia sekitar 2.000 tahun di Marina el-Alamein, para arkeolog menemukan puluhan "lidah emas" yang sengaja diletakkan di mulut jenazah.

Melansir detikInet, sebanyak 24 amulet tipis berbentuk lidah yang terbuat dari emas ditemukan di dalam 18 makam kuno yang berasal dari periode Ptolemaik (322-30 SM) hingga Romawi (30 SM-395 M). Temuan tersebut diyakini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Mesir kuno tentang kehidupan setelah kematian.

Kompleks makam itu berada sekitar 100 kilometer di sebelah barat Alexandria. Menurut Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir, kawasan tersebut menjadi saksi percampuran budaya Mesir, Yunani, dan Romawi selama berabad-abad.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lidah Emas untuk Berbicara di Alam Baka

Temuan paling menarik adalah 24 amulet emas berbentuk lidah yang ditempatkan di mulut mumi. Para peneliti meyakini ritual ini dilakukan agar arwah pemilik makam dapat berbicara saat menghadapi pengadilan Osiris, dewa kematian dalam kepercayaan Mesir kuno.

ADVERTISEMENT

Bagi masyarakat Mesir kuno, emas bukan sekadar logam mulia. Mereka meyakini emas merupakan "daging para dewa", sehingga benda tersebut dipercaya memiliki kekuatan suci. Dengan menempatkan lidah emas di dalam mulut jenazah, orang yang meninggal diyakini mampu mengucapkan doa maupun menjawab pertanyaan di alam baka.

Peti Granit hingga Patung Dewi Yunani

Penemuan di Marina el-Alamein tidak hanya menghadirkan lidah emas. Tim arkeolog juga menemukan sebuah peti mati granit berukuran hampir 2,5 meter yang masih berisi kerangka manusia.

Selain itu, ditemukan pula altar persembahan dari batu kapur yang dibuat menyerupai "pintu palsu". Dalam tradisi Mesir kuno, pintu palsu melambangkan jalur bagi arwah untuk keluar dan masuk antara dunia manusia dengan alam kematian.

Berbagai artefak lain turut ditemukan, mulai dari patung dewi Yunani Aphrodite, patung batu kapur seorang pria yang memegang burung, patung sphinx dari plester, amphora, lampu minyak, piring, bejana batu, hingga pecahan tembikar.

Ragam benda tersebut memperlihatkan kuatnya perpaduan budaya Mesir dan Yunani yang berkembang di kota pelabuhan kuno tersebut pada masa itu.

Jejak Perbedaan Status Sosial

Dari total 18 makam yang ditemukan, sebelas dipahat hingga sekitar delapan meter ke dalam batuan, sedangkan tujuh lainnya dibangun lebih dekat ke permukaan menggunakan batu kapur.

Perbedaan konstruksi itu diduga mencerminkan perbedaan status sosial para penghuni makam. Masyarakat dengan kedudukan lebih tinggi kemungkinan dimakamkan di ruang bawah tanah yang lebih dalam dan kompleks.

Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir menyebut penemuan ini menjadi bukti bahwa tradisi pemakaman Mesir tetap dipertahankan meski wilayah tersebut berada di bawah pengaruh Yunani dan kemudian Romawi.

"Penemuan ini mencerminkan perpaduan unik antara tradisi pemakaman Mesir kuno dengan pengaruh Yunani-Romawi yang berkembang di kawasan pesisir Mediterania," demikian keterangan Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir dalam pengumuman resminya, dikutip dari The Daily Galaxy.

Hingga kini, para arkeolog masih melanjutkan penelitian terhadap kerangka manusia, peti granit, serta berbagai artefak yang ditemukan. Analisis tersebut diharapkan dapat mengungkap identitas para penghuni makam sekaligus memberikan pemahaman baru mengenai kehidupan, kepercayaan, dan tradisi pemakaman masyarakat Mesir sekitar dua milenium lalu.


Artikel ini sudah tayang di detikInet, selengkapnya di sini



(rns/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads