Jalan Terjal Pemulangan Oneng, TKW yang Disiksa di Timur Tengah

Kabupaten Bandung Barat

Jalan Terjal Pemulangan Oneng, TKW yang Disiksa di Timur Tengah

Whisnu Pradana - detikJabar
Kamis, 16 Jul 2026 20:30 WIB
Ilustrasi paspor ditahan, ilustrasi CPMI, ilustrasi pekerja imigran, ilustrasi TKI TKW. (AI)
Foto: Ilustrasi paspor ditahan, ilustrasi CPMI, ilustrasi pekerja imigran, ilustrasi TKI TKW. (AI)
Bandung Barat -

Niat mengubah nasib keluarga dengan bekerja di luar negeri ternyata tak berjalan lancar bagi Oneng Nurbayanti. Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kampung Cangkuang, RT 04/RW 02, Desa Karanganyar, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat itu justru jadi korban penyiksaan.

Ia terlunta-lunta di negeri orang selama 25 tahun. Berawal saat ia bekerja di Kuwait lalu berlanjut menjadi istri seorang pria berkebangsaan Mesir. Kondisinya terungkap berdasarkan percakapan video dengan sang anak, beberapa hari lalu.

Kepala Bidang Pelatihan, Produktivitas, Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi (P3TKT) Disnakertrans Bandung Barat, Dewi Andani, mengatakan upaya pemulangan Oneng terganjal karena namanya tak ada dalam sistem pendataan pekerja migran di Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bandung Barat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tidak ada di dalam sistem, karena kan yang bersangkutan ini berangkat 25 tahun lalu. Saat itu sistem pendataan dan tata kelola penempatan PMI KBB belum seperti saat ini," kata Dewi saat dikonfirmasi, Kamis (16/7/2026).

ADVERTISEMENT

Sebagai langkah awal, pihaknya mendatangi kediaman Oneng Nurbayanti demi memperoleh keterangan secara utuh terkait kronologi keberangkatan, lokasi terakhir yang bersangkutan, memverifikasi identitas dan hubungan keluarga, hingga mengumpulkan dokumen pendukung.

"Kami lalu menindaklanjuti rencana pemulangan dengan melakukan kunjungan langsung kepada keluarganya. Jadi meskipun belum tercatat dalam sistem dan ketiadaan data, bukan berarti pemerintah daerah mengabaikan keadaan yang bersangkutan," kata Dewi.

Hasil kunjungan dan dokumen yang diperoleh kemudian dikoordinasikan dengan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Barat, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).

"Kami juga akan berkoordinasi dengan anak yang bersangkutan yang berada di Banten. Saat ini prioritas kami adalah memastikan identitas, lokasi, keselamatan, kondisi kesehatan, status dokumen. Informasinya keluarga juga masih bisa komunikasi dengan yang bersangkutan," kata Dewi.

Sementara itu, Eka Kania, anak Oneng Nurbayanti, mengatakan bahwa sang ibu menangis karena ingin kembali ke Tanah Air. Sudah 25 tahun hidup di negeri orang, namun Oneng tak bisa pulang karena masalah paspor dan visa.

"Tiga hari lalu baru komunikasi lagi, mama minta pulang. Saya coba viralkan di media sosial, mudah-mudahan bisa dibantu sama Pak Dedi Mulyadi supaya mama bisa pulang," kata Eka Kania saat dikonfirmasi, Rabu (15/7/2026).

Eka menceritakan bahwa ibundanya itu berangkat sebagai TKW atau PMI pada tahun 2000 silam. Kala itu, Oneng difasilitasi oleh sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja ke Kuwait. Di Kuwait, Oneng bekerja selama tiga tahun namun dibarengi dengan penyiksaan.

Namun Oneng saat itu sama sekali tak punya pilihan. Jika pulang, ia tak punya uang sama sekali lantaran selama bekerja ia tak digaji. Akhirnya Oneng memutuskan tetap bertahan di sana dengan segala konsekuensi yang diterimanya.

Di sana Oneng menikah dengan seorang pria Mesir dan dibawa ke sana. Di Mesir, ia kembali mengalami penganiayaan dari sang suami. Janji dipulangkan ke kampung halaman tak kunjung terwujud.

Selama tinggal di Mesir, komunikasi Oneng dengan keluarganya sangat terbatas. Setiap kali ia ketahuan hendak menghubungi keluarganya di Indonesia, sang suami kemudian menyiksa Oneng. Oneng sempat berhasil melarikan diri dari rumah suaminya, sayangnya pelariannya tanpa tujuan karena semua berkas identitasnya ditahan sang suami.

"Mama sangat sulit berkomunikasi dengan keluarga. Kalau ketahuan memegang telepon atau mencoba menghubungi kami, mama langsung disiksa oleh suaminya. Baru tiga hari lalu, mama bisa komunikasi dan minta pulang karena sudah enggak tahan," kata Eka.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Langkah Menteri P2MI Gaet Kemkomdigi Awasi Iklan Penipuan Kerja ke Luar Negeri "
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads