Nasib Pilu Oneng, TKW KBB 25 Tahun Terjebak di Timteng-Alami Penyiksaan

Nasib Pilu Oneng, TKW KBB 25 Tahun Terjebak di Timteng-Alami Penyiksaan

Whisnu Pradana - detikJabar
Rabu, 15 Jul 2026 18:10 WIB
Oneng Nurbayanti, PMI Asal KBB yang Terlunta-lunta di Timur Tengah
Repro/Whisnu Pradana (Foto: Repro/Whisnu Pradana/detikJabar).
Bandung Barat -

Nasib pilu dialami Oneng Nurbayanti, seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kampung Cangkuang, Desa Karanganyar, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, yang terlunta-lunta di negeri orang.

Perempuan berusia 51 tahun itu sudah 25 tahun bekerja di luar negeri, tepatnya di Mesir. Di Timur Tengah, Oneng diduga mengalami serangkaian penyiksaan yang dilakukan majikannya. Kondisinya terungkap berdasarkan percakapan video dengan sang anak, Eka Kania (28).

Saat percakapan video itu, Eka mengatakan bahwa sang ibu menangis karena ingin kembali ke Tanah Air. Sudah 25 tahun hidup di negeri orang, namun Oneng tak bisa pulang karena masalah paspor dan visa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tiga hari lalu baru komunikasi lagi, mama minta pulang. Saya coba viralkan di media sosial, mudah-mudahan bisa dibantu sama Pak Dedi Mulyadi supaya mama bisa pulang," kata Eka Kania saat dikonfirmasi, Rabu (15/7/2026).

Eka menceritakan bahwa ibundanya itu berangkat sebagai TKW atau PMI pada tahun 2000 silam. Kala itu, Oneng difasilitasi oleh sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja ke Kuwait. Di Kuwait, Oneng bekerja selama tiga tahun namun harus mengalami penyiksaan.

ADVERTISEMENT

"Jadi baru ketahuan kalau mama saya berangkat secara ilegal, awalnya ke Kuwait. Disana mama disiksa terus ditangkap polisi karena tinggal secara ilegal, kemudian dikasih pilihan mau tetap tinggal atau dideportasi," kata Eka.

Namun, Oneng saat itu sama sekali tak punya pilihan. Jika pulang, ia tak punya uang sama sekali lantaran selama bekerja ia tak digaji. Akhirnya, Oneng memutuskan tetap bertahan di sana dengan segala konsekuensi yang diterimanya.

"Nah disana mama ketemu laki-laki dari Mesir, dia ngakunya kerja di kedutaan. Mama ditawarkan nikah sama dia, dijanjikan akan dipulangkan ke Indonesia. Karena percaya, akhirnya mama menikah sama lelaki itu," kata Eka.

Setelah menikah, Oneng kemudian dibawa ke Mesir. Di sana, ia kembali mengalami penganiayaan dari sang suami. Janji dipulangkan ke kampung halaman tak kunjung terwujud.

"Mama malah kembali mengalami penyiksaan, ternyata mama dibohongi. Janjinya akan dipulangkan ke Indonesia setelah menikah, tetapi kenyataannya tidak," kata Eka.

Selama tinggal di Mesir, komunikasi Oneng dengan keluarganya sangat terbatas. Setiap kali ia ketahuan hendak menghubungi keluarganya di Indonesia, sang suami langsung menyiksanya. Oneng sempat berhasil melarikan diri dari rumah suaminya, sayangnya pelariannya tak tentu arah karena semua berkas identitasnya ditahan sang suami.

"Mama sangat sulit berkomunikasi dengan keluarga. Kalau ketahuan memegang telepon atau mencoba menghubungi kami, mama langsung disiksa oleh suaminya. Baru tiga hari lalu, mama bisa komunikasi dan minta pulang karena sudah enggak tahan," kata Eka.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelatihan, Produktivitas, Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi (P3TKT) Disnakertrans Bandung Barat, Dewi Andani, mengatakan pihaknya telah mendatangi keluarga Oneng di Desa Karanganyar, Kecamatan Cililin.

"Dari hasil penelusuran awal, yang bersangkutan tidak tercatat di dalam sistem pendataan pekerja migran milik Disnakertrans KBB. Kami tetap layani dan tindaklanjuti, saat ini kami masih mengumpulkan data awal dulu," ujar Dewi.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Langkah Menteri P2MI Gaet Kemkomdigi Awasi Iklan Penipuan Kerja ke Luar Negeri "
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads