Belajar di Bawah Bayang Atap Ambruk SDN Cadasleeur Bogor

Belajar di Bawah Bayang Atap Ambruk SDN Cadasleeur Bogor

Andry Haryanto - detikJabar
Kamis, 16 Jul 2026 12:33 WIB
Kondisi SD Negeri Cadasleeur,
Kondisi SD Negeri Cadasleeur, (Foto: Andry Haryanto/detikJabar)
Bogor -

"Setiap malam saya waswas, tidak bisa tidur karena terus memikirkan sekolah. Saya takut anak-anak saya jadi korban jatuhan material atap," kata Kepala SD Negeri Cadasleeur, Juju Juhaeriah.

Tugas Juju sebagai kepala sekolah tidak berhenti di ruang kelas. Justru ketika tiba di rumah dan menjelang pergantian hari, kekhawatiran kerap datang bagaimana nasib anak didiknya esok hari. Setiap kali kegiatan belajar dimulai, perempuan berusia 48 tahun tersebut harus kembali mengamati langit-langit kelas serta memastikan material bangunan tidak jatuh menimpa guru maupun murid.

Hari-hari di sekolah yang berada di Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, itu akhirnya dijalani dengan dua perasaan sekaligus. Juju bersyukur proses pembelajaran masih berlangsung, tetapi kecemasan selalu mengikuti sejak anak-anak memasuki ruang kelas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Alhamdulillah, kegiatan belajar setiap hari berjalan lancar. Tetapi kami selalu waswas karena material plafon dan genting sering berjatuhan," ujar Juju saat berbincang dengan detikJabar, Rabu (15/7/2026).

ADVERTISEMENT

Juju baru setahun memimpin sekolah yang bertetangga dengan kawasan konsesi pertambangan emas Pongkor. Ketika pertama kali datang, kondisi bangunannya sudah memprihatinkan. Kepala sekolah sebelumnya juga menghadapi persoalan serupa dan berkali-kali mengusulkan perbaikan. Namun, kerusakan terus bertambah, sedangkan penanganan menyeluruh tak kunjung datang.

Dari tujuh ruang yang dimiliki sekolah tersebut, empat di antaranya mengalami kerusakan berat. Tiga ruangan di lantai atas sempat diperbaiki menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Namun, kemampuan dana BOS terbatas. Anggaran itu tidak cukup untuk membenahi seluruh bagian bangunan yang lapuk.

Persoalan menjadi semakin rumit karena sekolah masih membutuhkan setiap jengkal ruang yang tersedia. Salah satu kelas dengan kategori rusak berat tetap digunakan untuk kegiatan belajar. Keputusan tersebut bukan diambil karena ruangannya dianggap aman, melainkan lantaran sekolah tidak memiliki pilihan lain.

"Yang satu rusak berat masih dipakai dengan terpaksa. Mau bagaimana lagi, kami juga bingung. Kegiatan belajar bahkan sudah dibagi menjadi sif pagi dan siang," tutur Juju.

Pembagian jadwal itu menjadi siasat agar seluruh anak tetap memperoleh ruang belajar. Namun, cara tersebut hanya mengatur waktu penggunaan kelas, bukan menghilangkan bahaya yang terus mengelayuti pikiran.

Juju dan para guru beberapa kali kejatuhan material bangunan. Murid juga pernah tertimpa serpihan pada bagian kepala. Sejauh ini, kata Juju, belum ada anak yang mengalami luka parah. Namun, bagi Juju, ketiadaan korban serius bukan berarti ancaman telah berlalu.

Mantan Kepala Sekolah SDN Pasir Peteuy dan Parigi ini menyadari keberuntungan bisa berakhir kapan saja. Terlebih, kerusakan tidak selalu memberikan tanda sebelum plafon terlepas atau genting meluncur ke dalam ruangan. Di sekolah itu, bunyi dari bagian atap bukan sekadar gangguan belajar, melainkan peringatan yang dapat muncul sewaktu-waktu.

Kecemasan serupa dirasakan para orang tua. Mereka mengetahui kondisi tempat anak-anak menimba ilmu, tetapi juga tidak mempunyai banyak pilihan. Permukiman di sekitar SDN Cadasleeur terbilang padat. Sekolah tidak memiliki lahan alternatif yang bisa disulap menjadi kelas sementara.

Bagian luar bangunan pun sangat sempit. Ruang yang tersisa hanya cukup untuk parkir sepeda motor. Tidak ada halaman luas yang dapat digunakan untuk mendirikan tenda atau bangunan darurat agar murid dipindahkan dari kelas rusak.

"Semua orang tua merasa waswas. Tetapi dengan kondisi seperti ini, memang tidak ada tempat lain. Penduduk di lingkungan sekolah juga rapat semua," kata Juju.

Sebagian besar keluarga murid berasal dari kalangan buruh. Sekolah negeri itu menjadi tumpuan warga untuk memastikan anak-anak mereka tetap memperoleh pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi. Karena itu, meski bangunannya mengkhawatirkan, kegiatan belajar tidak mungkin begitu saja dihentikan.

Minat warga menyekolahkan anaknya di SDN Cadasleeur bahkan bertambah. Tahun ini, jumlah murid kelas I mencapai 47 anak. Angka tersebut naik dari sebelumnya 46 siswa, ditambah dua anak pindahan dan diikuti perpindahan siswa lainnya. Pertumbuhan jumlah peserta didik itu seharusnya menjadi kabar baik. Namun, tanpa ruang yang layak, penambahan murid justru memperbesar beban sekolah.

Usulan yang Belum Berbuah Perbaikan

Menurut Juju, permohonan perbaikan telah diajukan setiap tahun. Upaya serupa juga dilakukan kepala sekolah terdahulu. Akan tetapi, proposal demi proposal itu belum menghasilkan rehabilitasi menyeluruh yang dibutuhkan.

Sekolah sempat memahami ketika pandemi Covid-19 memukul anggaran pemerintah. Setelah itu muncul kebijakan efisiensi. Namun, pada saat yang sama, usia bangunan terus bertambah dan kerusakan tak bersedia menunggu keadaan keuangan membaik.

Dana BOS hanya dapat digunakan untuk penanganan terbatas. Sekolah juga memperoleh bantuan dari PT Antam untuk memperbaiki halaman serta sejumlah kebutuhan kecil lainnya. Dukungan tersebut cukup membantu, tetapi belum menyentuh persoalan utama: empat ruangan yang mengalami kerusakan berat dan ancaman material berjatuhan.

Kini, Juju hanya dapat menjaga kegiatan belajar tetap berjalan sambil kembali mengetuk pintu pemerintah. Ia tidak sedang meminta sekolahnya dipoles menjadi bangunan mewah. Harapannya sederhana: guru dapat mengajar tanpa terus menengadah ke plafon dan murid bisa belajar tanpa dibayangi genting yang mungkin jatuh.

Sebab, setiap sore ketika seluruh siswa telah pulang, kecemasan Juju belum ikut meninggalkan sekolah. Bangunan itu terus terbawa dalam pikirannya sampai ke rumah, merampas ketenangan bahkan ketika malam tiba.

Juju tidak ingin pemerintah baru datang setelah ruang kelas benar-benar ambruk. Terlebih jika kedatangan itu disertai garis polisi, proses evakuasi, dan kabar tentang korban.

"Saya takut terjadi sesuatu. Setiap hari rasanya waswas," Juju menutup perbincangan.

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads