Dampak musim kemarau mulai menghantam sektor pariwisata dan pertanian di Kota Tasikmalaya. Akibat berminggu-minggu tanpa guyuran hujan, volume air di objek wisata danau Situ Gede, Kecamatan Mangkubumi, merosot tajam hingga menyisakan sekitar 20 persen saja dari kapasitas normalnya.
Mengeringnya danau seluas 47 hektare ini terjadi akibat terhentinya pasokan air dari irigasi Sungai Cibanjaran sebagai sumber utamanya. Kondisi ini memicu dampak ganda, yakni mengancam produktivitas lahan pertanian sekaligus memukul pendapatan para pelaku usaha wisata Situ Gede.
Krisis air ini membuat fungsi Situ Gede sebagai penyuplai air irigasi lumpuh. Dari lima pintu air pengeluaran (outlet) yang ada, saat ini hanya satu pintu penguras yang masih bisa beroperasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang hanya mengandalkan sisa air yang ada karena inlet (air masuk) dari irigasi Cibanjaran sudah kering total," ujar Aminudin, salah seorang warga yang juga petani, Rabu (15/7/2026).
Menurut dia, saat Situ Gede kering, maka ada ratusan hektare area pertanian yang terdampak, terutama yang berada di wilayah Mangkubumi, Cihideung, dan Cipedes.
"Kalau sawah saya, sekarang masih kebagian air. Untung sebentar lagi panen, nanti kalau beres panen dan hujan belum turun, mungkin akan istirahat dulu menanam," kata Aminudin.
Danau Situ Gede Tasikmalaya menampilkan keindahan berbeda di musim kemarau. Foto: Faizal Amiruddin |
Sektor lain yang terdampak serius adalah aktivitas pariwisata. Pukulan paling telak dirasakan oleh para penyedia jasa sewa perahu yang kini terpaksa menambatkan armada mereka.
"Sudah jadi risiko kami, istirahat saja dulu," kata Diki, salah seorang penyedia jasa sewa perahu.
Untuk sementara ini, Diki mengaku harus rela kehilangan pendapatan yang selama ini menjadi tumpuan hidup keluarganya.
"Biasanya di hari Minggu dapat sekitar sepuluh putaran, sekarang sudah sekitar 1 bulan tidak sama sekali," kata Diki.
Dia mengatakan bisa saja memaksakan beroperasi di sisa genangan air yang ada, namun hal itu terlalu berisiko merusak perahu dan mesinnya.
"Kalau air surut kayak gini risikonya lebih gede lagi, takut kena batu, kalau rusak, mesin atau perahu harus dibawa ke Pangandaran," kata Diki.
Mumu, salah seorang pedagang kuliner di kawasan Situ Gede, juga mengeluhkan penurunan omzet yang sangat drastis sejak danau mulai mengering.
"Kunjungan wisatawan merosot hingga 50 persen. Efeknya ke dagangan jadi sepi pembeli. Tapi nasib tukang perahu lebih parah lagi, mereka sama sekali tidak bisa beroperasi karena airnya habis," keluh Mumu.
Mewakili para pelaku usaha di kawasan Situ Gede, Mumu berharap pemerintah daerah segera turun tangan memberikan solusi konkret untuk memulihkan denyut nadi perekonomian di sana.
"Kami berharap pemerintah bisa memfasilitasi acara-acara di sini, entah itu bazaar, pameran, atau event pariwisata lainnya. Yang penting kawasan ini bisa ramai pengunjung," kata Mumu.
Meski memicu dampak buruk bagi petani dan pelaku usaha pariwisata, fenomena alam ini menyuguhkan pemandangan unik yang tak biasa. Tepian danau yang mengering kini berubah menjadi hamparan padang rumput hijau yang luas.
Pemandangan kian eksotis dengan hadirnya puluhan burung kuntul yang mencari makan di sisa air danau. Daya tarik baru ini rupanya mulai dilirik oleh para pemburu visual.
Tak sedikit masyarakat yang sengaja datang untuk sekadar berfoto, menangkap momen langka yang menyajikan estetika alam berbeda di tengah krisis air yang melanda.

