Bencana kemarau panjang yang mendera wilayah Kabupaten Sukabumi menyisakan potret nestapa bagi warga di pelosok desa.
Di Kampung Babakan Sari, Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, krisis air bersih telah mengubah rutinitas harian warga menjadi ajang perburuan yang melelahkan. Demi bertahan hidup, mereka terpaksa menempuh jarak hingga berkilometer-kilometer dan berebut sisa air keruh di kubangan-kubangan darurat.
Kondisi memprihatinkan ini sudah berlangsung lebih dari dua bulan dan membelit sedikitnya 218 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 700 jiwa di lingkungan RW 17. Pantauan di lokasi, Sungai Cicatih yang biasanya menjadi sumber kehidupan dan sanitasi andalan warga, kini tampak kering kerontang. Bebatuan sungai terekspos jelas tanpa ada aliran air.
Warga yang kian terdesak akhirnya harus bersiasat. Di sepanjang selokan berbatu yang membelah kampung, mereka membuat "kobakan" atau kubangan-kubangan kecil seadanya.
Kubangan darurat ini difungsikan semata-mata untuk menampung nyusu atau resapan air tanah yang mengalir dalam debit sangat kecil dari kawasan Cantayan dan Cimanggis.
Perburuan air di Kampung Babakan Sari nyaris tak pernah berhenti. Pagi hingga siang hari, belasan warga hilir mudik menembus jalan tanah dan pematang sawah dengan memikul jeriken maupun ember kosong.
Menjelang sore hingga malam hari, suasana kerap berubah menjadi lebih tegang. Warga harus rela antre berjam-jam, bahkan tak jarang terjadi aksi saling berebut sisa air di kobakan tersebut.
Icin, salah seorang warga setempat, menceritakan betapa melelahkannya rutinitas ini. Ia tampak berjongkok di selokan sejak Subuh, menyiduk air keruh sedikit demi sedikit menggunakan gayung.
"Buat di dapur ya, buat masak-masak, buat cuci-cuci sayur. Memang setiap hari warga di sini ngambil, sampai malam pada antre. Jadi ibu sengaja jam segini hari, bekas orang lain barusan, pagi-pagi banget. Kalau mandi air kali kadang itu dicelobakin," tuturnya menceritakan siasatnya menghindari antrean.
Nestapa serupa juga disuarakan oleh Aji, seorang pemuda setempat. Jauhnya lokasi sumber air kobakan dari rumahnya memaksa Aji bolak-balik menggunakan sepeda motor.
"Kadang dua kali, kadang tiga kali, sama sekalian kalau buat nyuci. Nyuci piring gitu. Kurang lebih sekiloan lebih sih, kurang lebih. Iya cepat-cepat, kalau nggak cepat-cepat nggak keburu gitu, nggak kebagian ya," kata Aji.
Simak Video "Video: Krisis Air Sukabumi, Ratusan Warga Bertahan di 'Kobakan'"
(sya/mso)