Krisis Air Sukabumi, Ratusan Warga Bertahan di 'Kobakan'

Krisis Air Sukabumi, Ratusan Warga Bertahan di 'Kobakan'

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Rabu, 15 Jul 2026 13:45 WIB
Warga Sukabumi sedang mengambil air untuk keperluan rumah tangga
Warga Sukabumi harus berjalan jauh demi mendapat air di tengah musim kemarau (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar).
Sukabumi -

Bencana kemarau panjang yang mendera wilayah Kabupaten Sukabumi menyisakan potret nestapa bagi warga di pelosok desa.

Di Kampung Babakan Sari, Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, krisis air bersih telah mengubah rutinitas harian warga menjadi ajang perburuan yang melelahkan. Demi bertahan hidup, mereka terpaksa menempuh jarak hingga berkilometer-kilometer dan berebut sisa air keruh di kubangan-kubangan darurat.

Kondisi memprihatinkan ini sudah berlangsung lebih dari dua bulan dan membelit sedikitnya 218 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 700 jiwa di lingkungan RW 17. Pantauan di lokasi, Sungai Cicatih yang biasanya menjadi sumber kehidupan dan sanitasi andalan warga, kini tampak kering kerontang. Bebatuan sungai terekspos jelas tanpa ada aliran air.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Warga yang kian terdesak akhirnya harus bersiasat. Di sepanjang selokan berbatu yang membelah kampung, mereka membuat "kobakan" atau kubangan-kubangan kecil seadanya.

Warga Sukabumi sedang mengambil air untuk keperluan rumah tanggaWarga Sukabumi sedang mengambil air untuk keperluan rumah tangga (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar).

Kubangan darurat ini difungsikan semata-mata untuk menampung nyusu atau resapan air tanah yang mengalir dalam debit sangat kecil dari kawasan Cantayan dan Cimanggis.

ADVERTISEMENT

Perburuan air di Kampung Babakan Sari nyaris tak pernah berhenti. Pagi hingga siang hari, belasan warga hilir mudik menembus jalan tanah dan pematang sawah dengan memikul jeriken maupun ember kosong.

Menjelang sore hingga malam hari, suasana kerap berubah menjadi lebih tegang. Warga harus rela antre berjam-jam, bahkan tak jarang terjadi aksi saling berebut sisa air di kobakan tersebut.

Icin, salah seorang warga setempat, menceritakan betapa melelahkannya rutinitas ini. Ia tampak berjongkok di selokan sejak Subuh, menyiduk air keruh sedikit demi sedikit menggunakan gayung.

"Buat di dapur ya, buat masak-masak, buat cuci-cuci sayur. Memang setiap hari warga di sini ngambil, sampai malam pada antre. Jadi ibu sengaja jam segini hari, bekas orang lain barusan, pagi-pagi banget. Kalau mandi air kali kadang itu dicelobakin," tuturnya menceritakan siasatnya menghindari antrean.

Nestapa serupa juga disuarakan oleh Aji, seorang pemuda setempat. Jauhnya lokasi sumber air kobakan dari rumahnya memaksa Aji bolak-balik menggunakan sepeda motor.

"Kadang dua kali, kadang tiga kali, sama sekalian kalau buat nyuci. Nyuci piring gitu. Kurang lebih sekiloan lebih sih, kurang lebih. Iya cepat-cepat, kalau nggak cepat-cepat nggak keburu gitu, nggak kebagian ya," kata Aji.

Sanitasi Buruk dan Sawah Mengering

Mirisnya, air keruh dari kobakan tersebut hanya direkomendasikan untuk keperluan sanitasi dasar seperti mandi dan mencuci. Untuk kebutuhan konsumsi, warga harus merogoh kocek lebih dalam dan menempuh perjalanan jauh menuju pusat kota untuk membeli air minum isi ulang.

Rois Lesmana, warga sekaligus petani di Kampung Babakan Sari, menuturkan beban ganda yang harus dipikul warga. Selain krisis air rumah tangga, kekeringan ini juga melumpuhkan sektor pertanian dan memicu ancaman gagal panen.

"Untuk minum beli, air isi ulang biar irit lah minimal nggak ada air di tempatnya gitu. Paling ke daerah bawah, ke daerah Bantar Muncang 1 kilo lebih lah itu minimal, dari sini ke Cibadak itu sekitar 2 kilo," ungkap Rois.

"Kekeringannya udah 3 bulan lah, kurang lebih 3 bulanan. Iya nggak ada hujan-hujan musim kemarau. Jadi kayaknya gagal untuk panen," sambung Rois terkait kondisi persawahan warga.

Warga Sukabumi sedang mengambil air untuk keperluan rumah tanggaWarga Sukabumi sedang mengambil air untuk keperluan rumah tangga (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar).

Di tengah keterbatasan dan krisis yang kian mencekik, warga tetap berupaya menjaga sanitasi lingkungan secara swadaya. Ketua RT 04/17, Jengki, terlihat turun langsung ke dalam selokanberlumpur untuk membersihkan sampah agar air yang ditampung warga tidak semakin tercemar.

"Kali ini kan sangat kotor, tapi kalau ke bawahnya sih digunakan juga untuk warga karena kesulitan untuk air. Daripada nggak mandi mungkin ya dimanfaatin juga nih sama warga air kotor juga, Pak. Ke masyarakat tolonglah dijaga kebersihan, sebab ini air digunakan oleh warga kami. Jangan sampai membuang sampah sembarangan gitu aja Pak untuk warga," tegas Jengki.

Kondisi darurat yang dialami 700 jiwa ini membuat warga menaruh harapan besar akan adanya intervensi dan respons cepat dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi.

Tokoh masyarakat Babakan Sari, Jajat, menegaskan bahwa warga sangat menantikan solusi nyata karena upaya swadaya terbukti tidak cukup.

"Dari dulu juga bikin sumur bor nggak hasil. Sampai-sampai kadang-kadang ngantri ngambil air dari sini, Pak. Kalau rencana juga ini mau dibikin kolam Pak ini, kolam rada agak-agak besar gitu supaya nampung air," keluh Jajat.

"Tapi yang saya harapkan kepada pemerintah setempat, pemerintah atasan, mudah-mudahan supaya tiasa atau bisa ngebantu kepada Kampung Babakansari RW 17 Desa Sekarwangi, Pak," pungkasnya penuh harap.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Krisis Air di Madiun Makin Parah, 200 Rumah Terdampak "
[Gambas:Video 20detik] (sya/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads