Utang Rp 15 Juta Paksa Ai Juariah Jadi PMI Ilegal ke Libya

Kabupaten Cianjur

Utang Rp 15 Juta Paksa Ai Juariah Jadi PMI Ilegal ke Libya

Ikbal Slamet - detikJabar
Senin, 13 Jul 2026 17:59 WIB
Ai Juariah saat berada di Aula Garuda Pendopo Cianjur
Ai Juariah saat berada di Aula Garuda Pendopo Cianjur. (Foto: Ikbal Selamet/detikJabar)
Cianjur -

Ai Juariah (48) akhirnya mengutarakan alasan dirinya memilih menjadi PMI secara nonprosedural ke Libya. Ternyata utang sebesar Rp 15 juta saat menikahkan anak tertuanya membuat dia memilih bekerja di Timur Tengah, meskipun moratorium masih berlaku.

Saat tiba di Pendopo Cianjur, Ai mengaku jika awalnya dia ditawari oleh temannya yang berasal dari Subang untuk kembali bekerja ke Timur Tengah.

"Dia datang ke rumah, nawarin bekerja ke Abu Dhabi karena tahu saya eks PMI," kata dia, Senin (13/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dia, temannya kemudian mengenalkan Ai ke seorang sponsor berinisial D di Kecamatan Ciranjang dengan menjanjikan uang fee sebesar Rp 7 juta jika bersedia bekerja di Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

Gaji yang dijanjikan pun cukup besar sehingga dia mulai terpikat. Terlebih Ai dan suaminya dihadapkan pada utang sebesar Rp 15 juta.

"Iming-imingnya fee dan gaji besar. Dia juga tahu saya ada utang Rp 15 juta, saya pinjam karena untuk membiayai pernikahan anak yang paling besar. Makanya terus menawarkan pekerjaan ke Timur Tengah," kata dia.

Dia mengaku awalnya belum mengiyakan akan berangkat bekerja, meskipun setiap proses sudah ditempuh. Pasalnya sang suami belum memberikan izin.

"Tapi setelah 2 minggu komunikasi. Semua syarat selesai dan lolos medical check up. Sudah tidak bisa dibatalkan pemberangkatan," kata dia.

Menurut Ai, jika dirinya terus memaksa batal berangkat, maka harus membayar denda terhadap sponsor.

"Kalau batal, harus bayar denda. Uang dari mana. Ditambah punya utang. Makanya ya sudah memutuskan untuk berangkat. Minimalnya dapat uang fee, dan bisa bekerja yang uangnya dibayarkan urang nikah anak," kata dia.

Namun, ternyata janji sponsor yang memberangkatkannya tidak sesuai, mulai dari uang fee yang hanya Rp 3 juta hingga negara penempatan.

"Janji uang fee Rp 7 juta, tapi dikasihnya Rp 3 juta. Kemudian tempat negara penempatan awalnya ke Abu Dhabi, tapi pindah ke Turki, kemudian akhirnya malah ke Libya," kata dia.

Di Libya, Ai mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan, di antaranya sempat tidak diberi makan, diharuskan bekerja meski sakit, dan sempat mengalami tindak kekerasan.

"Saat kerja juga harus kerja. Makanya sampai saya jatuh dan wajah kena serpihan kaca," kata dia.

Dia mengaku bersyukur bisa kembali pulang ke Cianjur. "Terima kasih semua pihak yang terlibat, akhirnya bisa pulang dan berkumpul dengan keluarga," kata dia.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads