Kala Nelayan Tradisional Sukabumi Dibekali Cara Bertahan Hidup Saat Berlayar

Kala Nelayan Tradisional Sukabumi Dibekali Cara Bertahan Hidup Saat Berlayar

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Senin, 13 Jul 2026 19:30 WIB
Seorang nelayan mempraktikkan cara memadamkan api menggunakan APAR saat simulasi kebakaran kapal di PPN Palabuhanratu, Sukabumi
Seorang nelayan mempraktikkan cara memadamkan api menggunakan APAR saat simulasi kebakaran kapal di PPN Palabuhanratu, Sukabumi (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar).
Sukabumi -

Catatan kelam kecelakaan laut masih terus membayangi kehidupan nelayan tradisional di wilayah perairan Sukabumi. Berlayar menembus gelombang tinggi demi menghidupi keluarga kerap kali berujung petaka akibat minimnya proteksi, sarana keselamatan, serta kultur "nekat" yang belum sepenuhnya terkikis di kalangan pelaut lokal.

Kawasan perairan Sukabumi, khususnya Ujunggenteng hingga Palabuhanratu, mencatat rentetan insiden kecelakaan laut yang menimpa nelayan tradisional bagaikan alarm yang terus berdering.

Karakteristik Samudra Hindia di selatan Sukabumi terkenal dengan ombaknya yang besar. Perubahan cuaca yang mendadak sering membuat perahu nelayan karam terhantam gelombang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain faktor alam, kendala teknis seperti perahu tradisional yang mengalami mati mesin atau patah as kemudi saat melaut juga kerap terjadi. Tanpa alat komunikasi yang memadai, mereka terombang-ambing selama berhari-hari sebelum akhirnya ditemukan atau terdampar.

Kondisi ini diperparah dengan kesadaran untuk memakai life jacket (jaket penolong) saat berlayar yang masih tergolong rendah. Kebanyakan nelayan baru merasakan pentingnya alat proteksi ini setelah musibah terjadi di depan mata.

ADVERTISEMENT

Data yang diberikan organisasi nirlaba GISLI (Gerakan Ingat Selamat Layar Indonesia) yang bergerak langsung di Palabuhanratu menunjukkan tingginya angka kecelakaan laut bagi nelayan tradisional di Indonesia sejak awal era 2000-an, di mana rata-rata kejadiannya berada di angka 100 kasus per tahun.

Ironisnya, persoalan utama bukan sekadar ketidaktahuan nelayan, melainkan minimnya dukungan fasilitas keselamatan penunjang di atas kapal.

Ketua Pelaksana sekaligus Bidang Riset GISLI, Orima Melati Davey, memaparkan program bertajuk "Fisherwomen as Agent of Change" ini sengaja dirancang untuk menyentuh aspek keselamatan jiwa sekaligus ekonomi. Tak hanya nelayan, para istri pun dilibatkan agar konsisten membangun budaya sadar keselamatan di lingkungan keluarga.

"Untuk hari ini, ini hari pertama, 13 Juli kita ada tiga elemen utama. Hari ini keselamatan nyawa, keselamatan kerja, besok keselamatan ekonomi," kata Orima di lokasi kegiatan, Senin (13/7/2026).

Nelayan diberikan pembekalan teknis keselamatan diri dari tim PPN dan Syahbandar, mulai dari teknik penyelamatan diri, dasar-dasar keselamatan, hingga simulasi penanganan kebakaran kapal sederhana.

Selain itu, pihak GISLI juga menggandeng BNN melalui sosialisasi program Desa Bersinar (Bersih dari Narkoba). "Karena nelayan adalah salah satu pihak yang paling rentan untuk menjadi korban illegal smuggling (penyelundupan ilegal)," sambung Orima.

Agenda edukasi ini dipastikan berlanjut keesokan harinya. "Besok baru kita lebih ke mendukung di keselamatan ekonominya, ada pengolahan perikanan dan juga sosialisasi dari sisi pemasaran produk," jelas Orima.

Tak cuma teori, GISLI juga membagikan perlindungan sosial menggandeng BPJS Ketenagakerjaan berupa kepesertaan Bukan Penerima Upah (BPU).

"Kita dari GISLI mendukung para bapak-bapak nelayan sebanyak kurang lebih 60 BPJS Ketenagakerjaan Bukan Penerima Upah yang kita support selama 3 bulan pertama. Harapannya nanti bisa dilanjutkan dari masing-masing pribadi," timpal Humas GISLI, Anggi Hakim. Pihaknya pun berharap aksi ini memantik pemerintah daerah maupun swasta untuk melakukan langkah serupa.

Area Tangkap Menjauh, Nelayan Bandingkan Jaminan Darat-Laut

Tantangan nelayan Sukabumi makin berlipat ganda. Ketua GISLI Cabang Sukabumi yang juga nelayan aktif, Dede Sinar, membeberkan keluhan mendasar para pelaut saat ini yaitu area penangkapan ikan (fishing ground) kian hari kian menjauh ke tengah laut sehingga menyulitkan nelayan mencari ikan.

"Aspirasi ini sudah disampaikan ke pemerintah, cuma sekarang belum ada tindak lanjut dari pemerintah itu sendiri. Harapan kami mohon ada kajian-kajian dari pemerintah, apakah dari segi lingkungan laut, perubahan iklim, atau penangkapan ikan modernisasi yang berlebih, atau dampak yang lainnya mungkin," tutur Dede.

Jauhnya area tangkap otomatis memperbesar risiko kecelakaan kerja. Dede pun blak-blakan menyentil adanya kesenjangan perlindungan hukum yang jomplang antara pekerja di darat dan di laut.

"Ketika kecelakaan kerja, nelayan yang tidak memiliki BPJS Ketenagakerjaan ini sangat berisiko dan tidak mendapat santunan dari apa pun. Berbanding terbalik dengan situasi di darat. Kalau di darat kecelakaan kendaraan bisa mendapatkan Jasa Raharja, kalau di laut kita tidak dapat apa-apa, kecuali mereka yang punya BPJS Ketenagakerjaan," tegas Dede.

Dede mendesak pemerintah memberikan perhatian khusus agar ada jaminan santunan bagi nelayan tradisional yang setara dengan pekerja di darat. Sebab bagaimanapun, mereka sama-sama bertaruh nyawa demi mencari nafkah di laut.

Di sisi lain, Dede memastikan gerakan edukasi keselamatan ini akan merangkul seluruh pelaut lokal di wilayah perairan Sukabumi tanpa tebang pilih.

"Semua nelayan yang ada di Palabuhanratu itu termasuk anggota kita. Kita tidak melihat siapa dia siapa dia, tetapi itu adalah ranah dari GISLI yang harus kita tingkatkan kesadarannya terhadap keselamatan jiwanya di laut. Kita berupaya untuk menyadarkan mereka supaya dapat meningkatkan kesadaran keselamatan bagi dirinya sendiri dan keluarga," pungkas Dede.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Rekor Suhu Terpanas Pecah"
[Gambas:Video 20detik] (sya/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads