Disclaimer: Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.
Aktivitas di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Bandung, tampak lumpuh total pada Senin (13/7/2026). Kondisi bangunan yang terletak di tengah permukiman padat dan area persawahan tersebut kini tertutup rapat menyusul kabar duka atas dugaan bunuh diri kepalanya, SF (26), di sebuah area parkir mal di Kota Bandung.
Mitra SPPG Kabupaten Bandung, Fazri, mengonfirmasi status SF sebagai pimpinan di fasilitas tersebut sejak awal dioperasikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Iya betul, SF dari awal SPPG ini, beliau ditugaskan di sini dari BGN sebagai kepala SPPG," ujar Fazri saat ditemui di lokasi.
Menurut Fazri, SF sebelumnya dikenal sebagai pribadi yang komunikatif dan humoris. Namun, suasana kerja berubah dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. SF menunjukkan gelagat yang tidak biasa dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosialnya.
"Cuman pas selama 3 bulan ke belakang jadi agak beda. Beda tuh agak tertutup, ditanya juga enggak ada komunikasi apa-apa. Justru ya sesuai itu tupoksinya aja, jadi enggak bisa bercanda, enggak bisa diajak komunikasinya lah agak tertutup," katanya.
Kekhawatiran rekan kerja memuncak saat SF sulit dihubungi selama dua minggu terakhir. Fazri mengaku sempat berupaya mencari keberadaan SF melalui pihak keluarga guna membahas kelanjutan operasional dapur menjelang masa libur sekolah.
"Saya coba komunikasi cari-cari ke mana Pak SF ke saudaranya ditanya, ke Kakak Iparnya, ditanya ke keluarganya, didatengin. HP-nya juga udah enggak aktif 2 minggu ke belakang begitu," jelas Fazri.
Hingga terjadinya peristiwa tragis tersebut, Fazri mengaku masih terkejut karena tidak ada persoalan profesional di internal dapur. Komunikasi terakhir melalui pesan singkat terjadi pada 23 Juni 2026, itu pun dengan respons yang sangat lambat.
"Tapi enggak ada jawaban sama sekali, jadi intinya saya juga lost contact gitu selama libur gitu enggak ada komunikasi sama sekali. Nah, jadi pas kemarin terjadi kejadian kayak gitu syok aja kenapa bisa seperti ini gitu. Padahal di dapur enggak ada masalah," ungkapnya.
"Jadi terakhir komunikasinya juga agak-agak lama jawabnya. Jadi agak ngelamun dulu, enggak tahu ada apa sih beban pikiran yang dia pikirkan," tambah Fazri.
Meski SF menunjukkan perubahan sikap, Fazri menegaskan bahwa pengelolaan dapur selama delapan bulan terakhir berjalan sangat baik dan aman. Pihak keluarga SF pun telah menyampaikan permohonan maaf atas situasi yang terjadi.
"Kalau setahu saya kemarin mah mungkin enggak ada. Keluarganya juga enggak komen apa-apa. Justru meminta maaf, takutnya ada kesalahan. Selama kerja, mungkin dengan ini juga akan dampak ke dapur, jadi jadi ditutup," tuturnya.
Saat ini, operasional SPPG tersebut dihentikan sementara berdasarkan arahan Badan Gizi Nasional (BGN) dan KPPG. Penutupan ini dilakukan karena adanya kendala administratif terkait otoritas pencairan dana yang memerlukan persetujuan kepala SPPG.
"Kebetulan kalau kemarin sudah ada dari BGN langsung dari KPPG langsung ke sini. Ya kita di hari dianjurkan buat off dulu sementara, karena ya mungkin kepala SPBG-nya belum ada. Jadi nunggu kepala sebagai pengganti. Karena itu kan istilahnya mah harus saya approve kepala SPPG dana pencairan," jelas Fazri.
Padahal, fasilitas ini memiliki peran vital dengan menyalurkan makanan bagi 2.625 penerima manfaat setiap harinya, mulai dari tingkat Posyandu, TK, SD, hingga SMP, dengan melibatkan 47 tenaga relawan.
"Tentang sekolah penerima manfaatnya totalnya di 2.625. Meliputi tiga Posyandu dan Enam sekolah. TK, SD, SMP. Terus di sini ada sebanyak 47 relawan yang bekerja," pungkasnya.
