Jejak PPN Palabuhanratu, Rawa Dangkal yang Ditaklukkan Pasak Bumi

Jejak PPN Palabuhanratu, Rawa Dangkal yang Ditaklukkan Pasak Bumi

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Senin, 13 Jul 2026 09:30 WIB
PPN Palabuhanratu Sukabumi.
PPN Palabuhanratu Sukabumi. (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Sukabumi -

Deretan perahu kayu bercadik bersandar rapat di bawah bayang-bayang dinding beton yang memeluk perairan Teluk Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Pantauan di lokasi dari seberang kolam pelabuhan, lanskap dermaga modern itu tampak sibuk. Air laut yang tenang di dalam kolam menjadi tempat transit bagi armada nelayan, sebelum hasil laut mereka digiring menuju bangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) beratap biru khas yang berdiri kokoh di latar belakang.

Denyut nadi di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu saat ini adalah potret mapan kawasan maritim yang berhadapan langsung dengan ganasnya ombak Samudra Hindia di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP-RI) 573.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kendati kini dipadati oleh kapal motor modern dan sistem penataan yang terstruktur, setiap sudut fisik pelabuhan ini menyimpan evolusi sejarah bentang alam yang berlapis.

ADVERTISEMENT

Bagi para sesepuh dan budayawan lokal, beton kokoh yang memagari teluk hari ini adalah wujud perubahan radikal dari sepotong wilayah perairan sunyi yang dulu dikenal dengan sebutan beber.

Dikutip dari laman resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengenai profil PPN Palabuhanratu, proyek rintisan pelabuhan perikanan nasional ini mulai ditancapkan pada rentang tahun 1991 hingga 1993.

Pembangunan dermaga modern ini sengaja ditujukan untuk mengoptimalkan melimpahnya potensi perikanan tangkap di laut dalam pesisir selatan Jawa.

Konstruksi pada tahap awal tersebut disokong oleh pendanaan internasional yang berasal dari Asian Development Bank (ADB) dan Islamic Development Bank (IsDB). Puncaknya, pada 18 Februari 1993, Presiden ke-2 RI Soeharto secara resmi membuka operasional pelabuhan ini.

Langkah tersebut menandai peralihan tata kelola perikanan Sukabumi menuju industri modern skala besar. Dermaga ini dirancang untuk mampu mengakomodasi kapal-kapal penangkap ikan dengan kapasitas di atas 30 Gross Tonnage (GT).

Namun, lembar kronik formal dari negara tersebut barulah separuh cerita. Lembar lainnya dirawat secara turun-temurun melalui memori kolektif masyarakat setempat.

PPN Palabuhanratu Sukabumi.PPN Palabuhanratu Sukabumi. Foto: Syahdan Alamsyah

Ingatan tentang Rawa Payau

Abah Asep Nurbagelar, atau yang akrab disapa Abah Embep, seorang tokoh sekaligus sesepuh budayawan Palabuhanratu, mengingat betul bagaimana rupa kawasan ini sebelum dijamah oleh alat-alat berat. Menurut dia, dermaga tempat berlabuhnya kapal-kapal modern saat ini dulunya merupakan kawasan rawa payau yang tenang.

"Dermaga itu sebenarnya dahulu adalah bekas beber, bukan tempat pelabuhan seperti sekarang," ungkap Abah Embep saat berbincang dengan detikJabar, Minggu (12/7/2026).

Istilah beber merujuk pada area genangan air payau yang dangkal akibat bersatunya beberapa aliran sungai sebelum menyentuh laut lepas.

Abah Embep menjelaskan, kawasan itu merupakan muara dari Cipalabuhan, muara di Panyairan, hingga aliran dari Rawa Kalong. Setidaknya ada tiga sampai empat sungai yang mengalirkan airnya ke sana, membuat air berkumpul dan tergenang karena tertahan bentang alam yang dangkal.

Pada masa itu, perahu nelayan tradisional berukuran kecil seperti jukung, congkreng, atau kincang hanya ditambatkan langsung di sepanjang garis pesisir pantai.

Sebaliknya, kapal dagang yang memuat komoditas lebih besar memilih bersandar di area Gado Bangkong yang lautnya lebih dalam.

Di sekitar Gado Bangkong pulalah pusat logistik pertama berputar. Abah Embep menyebutkan, jika ditarik garis lurus dari lokasi Gado Bangkong lama, areanya kini bertumpu di kantor Bank BJB dekat pasar saat ini.

Tempat itu dahulunya merupakan kompleks pergudangan garam yang cukup masif pada zamannya, hingga memunculkan jabatan khusus sebagai kepala gudang garam.

Datangnya Pasak Bumi

Perubahan fisik yang masif baru dirasakan masyarakat ketika memasuki dekade 1980-an. Kawasan beber yang dangkal dan kerap terkendala oleh hantaman gelombang besar Samudra Hindia mulai ditata ulang melalui rekayasa teknik sipil. Kawasan rawa payau tersebut mulai diperdalam, dan teknologi beton mulai masuk.

"Pembangunannya dilakukan pada kisaran tahun 1980-an. Konstruksinya jelas menggunakan beton dan fondasi pasak bumi," kata Abah Embep.

Fondasi pasak bumi dipantakkan jauh ke dalam dasar perairan untuk memecah energi gelombang pantai selatan. Beriringan dengan rampungnya proyek modernisasi pelabuhan tersebut pada awal era 1990-an, tata letak fasilitas pelelangan ikan pun mengalami pergeseran secara dinamis dari waktu ke waktu.

Aktivitas pelelangan ikan mula-mula berpusat di area yang saat ini telah berubah menjadi stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Pada masa itu, bangunannya sangat sederhana, hanya berupa los terbuka dengan tiang-tiang tanpa dinding pembatas.

Seiring meningkatnya produksi hasil tangkapan, tempat pelelangan tersebut kemudian dipindahkan ke bangunan los yang lebih luas di dekat kawasan resto, sebelum akhirnya terintegrasi penuh di kompleks pelabuhan bawah saat ini.

Kini, kesibukan nelayan di depan gedung pelelangan beratap biru itu mempertegas fungsi ganda PPN Palabuhanratu sebagai pemangku otoritas pemerintahan sekaligus pusat pengusahaan maritim.

Di balik kokohnya tiang pancang dan rapi jajarannya perahu cadik hari ini, tersimpan riwayat perubahan lanskap geografis yang membuktikan ketangguhan peradaban pesisir selatan Jawa dalam beradaptasi dengan zaman.

(sya/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads