Monumen Nasional (Monas) menjadi salah satu ikon paling dikenal di Jakarta. Tugu yang menjulang setinggi 115 meter ini memiliki mahkota berbentuk nyala api yang disebut Lidah Api Kemerdekaan, terletak di bagian paling atas atau Pelataran Puncak Monas.
Keistimewaan puncak Monas tidak hanya terletak pada desainnya yang menyerupai kobaran api, tetapi juga pada lapisan berwarna emas yang membalutnya. Menariknya, lapisan tersebut memang dibuat menggunakan emas asli. Berdasarkan informasi yang beredar, emas yang melapisi Lidah Api Kemerdekaan memiliki berat sekitar 50 kilogram.
"Banyak orang yang mengira berat emas di Monas hanya 50 kg yang terletak pada Lidah Api Kemerdekaan yang berada di atas Pelataran Puncak Monas," tulis manajemen Monas dalam unggahan Instagramnya, seperti dikutip dari detikFinance, pada Kamis (9/7/2026).
Emas ini hanya melapisi bagian luarnya. Material utamanya terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton.
Emas di Monas juga ditemukan di lokasi lain, yakni di Ruang Kemerdekaan. Beratnya 22 kg. Emas tersebut melekat pada pintu gapura kemerdekaan, burung Garuda Pancasila, dan kepulauan Indonesia. Jadi, total emas yang dipakai di Monas adalah 72 kg.
Ruang Kemerdekaan merupakan ruangan berbentuk persegi yang dikelilingi amphitheater yang menyimpan 4 simbol kemerdekaan bangsa Indonesia. Di ruangan ini pengunjung bisa mendengarkan suara asli Bung Karno saat membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan 1945.
Cerita di Balik 28 Kg Emas di Monas
Ada cerita menarik di balik pemakaian emas di Monas. Ada sosok yang tercatat dalam sejarah sebagai penyumbang 28 kg emas untuk diletakkan di puncak Monas. Melansir dari situs Badan Sertifikasi Kadin DKI Jakarta, sosok tersebut adalah Teuku Markam, seorang filantropi asal Aceh.
Jadi selain memakai APBN, emas di Monas didapat dari salah satu orang terkaya di Era Orde Lama ini.
Semasa hidupnya, Teuku Markam pernah bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan mengikuti pertempuran Medan Area di Tembung, Sumatera Utara.
Awal mula ia bisa menyumbang emas karena kedekatannya dengan presiden pertama RI. Pertemuan mereka berlangsung di Bandung. Pada saat itu ia masih menjadi ajudan Jenderal Gatot Subroto. Melalui Jenderal Gatot Subroto, ia diperkenalkan ke Soekarno yang tengah mencari pengusaha pribumi yang dapat mengatasi permasalahan perekonomian di Indonesia.
Saat kembali ke Aceh ia berhasil membangun bisnis lewat perusahaan bernama PT Karkam. Perusahaan tersebut bahkan dipercaya oleh pemerintah Orde Lama untuk mengelola pampasan perang, pembayaran yang secara paksa ditarik oleh negeri pemenang perang kepada negeri yang kalah perang sebagai ganti atas kerugian material.
Artikel ini telah tayang di detikproperti
(aqi/yum)