Fenomena judi online (judol) rupanya telah menjangkiti aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat hingga ke taraf yang sangat memprihatinkan. Lebih dari seribu abdi negara terindikasi aktif bermain judol dengan putaran uang yang fantastis.
Merespons temuan ini, Pemprov Jabar menargetkan langkah tegas untuk menertibkan para ASN tersebut. Berikut 6 fakta lengkap terkait darurat judi online ASN di Jabar yang dirangkum detikJabar, Kamis (9/7/2026):
1. Ribuan ASN Terlibat, Mayoritas di Perkotaan
Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan mengungkap bahwa jumlah ASN yang terjerat candu judi online di Jabar sudah sangat menumpuk. Kasus ini paling mendominasi di wilayah perkotaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sakieu yeuh, numpuk," kata Erwan sambil memperagakan tumpukan dengan tangannya saat ditanya jumlah ASN yang terlibat.
2. Terungkap Lewat Peringatan Kepala PPATK
Terbongkarnya skandal masal ini berawal dari pertemuan langsung antara Wagub Erwan dengan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Ivan Yustiavandana. Dalam pertemuan tersebut, PPATK memberikan peringatan keras.
"Saya waktu itu silaturahmi dengan Kepala PPATK Pusat, Kang Ivan, kebetulan orang Jawa Barat. Kita ngobrol-ngobrol, di akhir pertemuan itu beliau sampaikan, 'Kang, hati-hati, Jawa Barat judolnya sudah sangat meresahkan, terutama ASN'," kata Erwan.
3. Pemprov Kantongi Data Lengkap Berdasarkan Nama dan Alamat
Tidak sekadar memberi peringatan, PPATK juga menyerahkan basis data lengkap para ASN di Jawa Barat yang terdeteksi aktif bertransaksi di situs judi online.
"Saya di situ kaget, dan saya langsung diberikan bukti by name by address. Tapi saya tidak akan sebutkan siapa, ini karena privasi. Kita nanti akan selesaikan secara internal di lingkungan ASN," ungkapnya.
4. Nilai Transaksi Capai Rp 800 Juta Per Orang
Jumlah putaran uang dari aktivitas ilegal para abdi negara ini tidak main-main. Beberapa di antaranya bahkan tercatat melakukan transaksi hingga mencapai angka ratusan juta rupiah.
"Eh, lebih. Ada satu ASN saja sampai delapan ratus jutaan. Satu ASN. Bahkan ada beberapa yang di atas ratusan juta. Yang terkecil itu sekitar seratus dua ratus ribuan," katanya.
5. Targetkan Pemanggilan dan Pemberian Sanksi oleh Inspektorat
Menyikapi temuan memalukan ini, Erwan menargetkan seluruh inspektorat di tingkat kota dan kabupaten untuk segera memanggil ASN yang terlibat guna dijatuhi sanksi sesuai aturan kedisiplinan.
"Banyak sekali ASN di Jawa Barat, terutama di kota-kota besar ya, di Bekasi, Bandung, dan sekitarnya, banyak sekali yang terlibat judol. Saya berharap kita segera menindaklanjutinya, para inspektorat di kota kabupaten untuk segera memanggil para ASN yang terlibat judol tersebut, memberikan sanksi ya sesuai dengan aturan yang berlaku," ujarnya.
"Ya, kita tanyakan ke mereka nanti ketika kita panggil, kenapa mereka sampai melakukan seperti itu. Padahal kan mereka sudah mendapatkan gaji, tunjangan, kenapa harus bermain judi seperti itu," ujar Erwan.
6. Pelaku Ada yang Sudah Menjelang Pensiun
Yang membuat pihak Pemprov Jabar semakin miris, beberapa ASN dengan nilai transaksi judi online terbesar ternyata adalah mereka yang usianya sudah mendekati masa purnatugas.
"Dan yang tadi saya sebutkan salah satunya yang besar itu mereka menjelang pensiun. Ngapain coba? Apa yang akan mereka berikan untuk anak cucunya ketika nanti setelah pensiun?" pungkasnya.
(sya/yum)
