Infrastruktur jembatan gantung senilai Rp5 miliar yang menghubungkan Kabupaten Ciamis dan Kota Tasikmalaya kini nasibnya memprihatinkan. Alih-alih menjadi urat nadi transportasi, Jembatan Sukamenak justru diblokir menggunakan tumpukan rumpun bambu.
Aksi penutupan sepihak ini diinisiasi oleh Kepala Desa Wanasigra sejak enam hari terakhir. Langkah tersebut merupakan puncak kekecewaan warga Ciamis atas polemik kesepakatan lahan yang dinilai tidak adil. Ironisnya, sejak rampung dibangun pada 2024 silam, jembatan ini memang belum pernah berfungsi optimal.
Penyebab utamanya adalah ketiadaan akses jalan di sisi Desa Sukamenak, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya. Kondisi ini kontras dengan wilayah Desa Wanasigra, Kecamatan Sindangkasih, Ciamis, yang akses jalannya sudah mulus hingga ke bibir jembatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pantauan di lokasi pada Kamis (2/7/2026) menunjukkan kemegahan jembatan tersebut kini diselimuti kesunyian. Tidak ada aktivitas warga yang melintas. Kawasan itu hanya dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk memarkir motor dan memancing ikan di sungai.
Maman Suherman, salah satu warga setempat, mengonfirmasi bahwa akses penyeberangan memang masih terputus.
"Dari Tasik belum ada akses, hanya ada jalan setapak, hanya bisa dilewati pejalan kaki," ujar Maman saat ditemui di lokasi.
Maman merupakan salah satu sosok krusial dalam pembangunan jembatan ini. Ia menghibahkan tanah pribadinya tanpa ganti rugi demi kepentingan publik. Awalnya, ia bersedia karena mendapat informasi bahwa warga di sisi Tasikmalaya juga melakukan hal serupa. Namun, komitmen tersebut belakangan diketahui berbeda di lapangan.
"Tapi kemarin mendengar dari warga di Tasikmalaya ada penggantian. Padahal awalnya swadaya (hibah), saya selaku pribadi niatnya ibadah sudah swadaya. Yang jadi pertanyaan di sini swadaya tapi di Tasikmalaya ada penggantian," ungkap Maman.
Kekecewaan Maman didasari oleh proses awal pengajuan proyek yang justru digagas pihak Tasikmalaya. Saat itu, perwakilan dari Tasikmalaya meminta izin penggunaan lahannya tanpa imbalan uang, dan Maman menyetujuinya. Merasa ada ketidakadilan terkait kompensasi, ia kini mendukung penuh aksi penutupan oleh pihak desa.
"Bagi saya ini kan sudah swadaya, moal ciduh diletak deui, tapi kalau di sini swadaya, di sana juga swadaya. Ini ditutup sama pak Kuwu," ucapnya.
Kepala Desa Wanasigra, Yudi Wahyudi, menegaskan bahwa blokade bambu ini tidak memiliki batas waktu. Pihaknya menuntut penjelasan resmi dari Pemerintah Kota Tasikmalaya terkait ketimpangan komitmen hibah lahan tersebut.
"Persoalannya, kenapa jembatan ini dibangun terlebih dulu ketika akses belum ada. Kemudian kaitan dengan lahan akses jalan, merasa dibohongi, ada pengkhianatan cinta. Ini aksi kekecewaan saja. Kalau andaikan di awal pembangunan dulu ada pembebasan lahan, tentunya berbeda lagi (prosesnya)," jelas Yudi.
Meski akses jembatan miliaran rupiah itu tertutup, Yudi memastikan aktivitas ekonomi warga Wanasigra tidak terganggu karena masih mengandalkan jalur utama. Secara sosiologis, warga di kedua sisi sungai tersebut juga tidak memiliki keterikatan keluarga atau kepemilikan lahan yang mengharuskan mereka melintas setiap hari.
(sya/dir)
