Gelombang panas ekstrem yang menyelimuti sejumlah negara di Eropa mulai memakan korban jiwa. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 1.300 orang meninggal akibat kondisi yang berkaitan dengan suhu panas, sementara jutaan lainnya harus menghadapi cuaca yang jauh melampaui kondisi normal.
Menurut WHO sebagaimana dilansir dari detikEdu, kelompok lanjut usia menjadi yang paling rentan. Sebagian besar korban meninggal merupakan warga berusia 65 tahun ke atas yang lebih mudah mengalami gangguan kesehatan akibat paparan suhu ekstrem.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut gelombang panas sebagai ancaman yang kerap tidak disadari, meski dampaknya dapat berakibat fatal.
"Stres panas sering disebut sebagai 'pembunuh senyap' dan rumah, tempat kerja, serta sekolah di Eropa tidak dibangun untuk suhu seperti ini," tulis Tedros melalui akun X, seperti dikutip BBC, Selasa (30/6/2026).
Selain menyebabkan korban jiwa, suhu yang terus meningkat juga memicu berbagai gangguan aktivitas masyarakat di sejumlah negara. Beberapa wilayah bahkan mencatat rekor suhu tertinggi dalam sejarah pengamatan.
Di Jerman, suhu udara mencapai 41,7 derajat Celsius di wilayah timur, menjadi salah satu rekor tertinggi yang pernah tercatat di negara tersebut.
Republik Ceko juga mengalami kondisi serupa. Berdasarkan data lembaga meteorologi CHMI, suhu di wilayah utara Praha mencapai 41,1 derajat Celsius, tertinggi sepanjang sejarah pengamatan di kawasan itu.
Enam Negara dengan Suhu Tertinggi di Eropa pada Juni 2026
Mengutip BBC dan Times of India, berikut sejumlah negara yang mencatat suhu tertinggi selama Juni 2026:
- Prancis - Paris dan sekitarnya mencapai 43,8 derajat Celsius.
- Spanyol - Seville dan Bilbao mencatat suhu hingga 42,7 derajat Celsius.
- Jerman - Wilayah timur mencapai 41,7 derajat Celsius.
- Republik Ceko - Wilayah utara Praha mencapai 41,1 derajat Celsius.
- Hungaria - BudakalΓ‘sz mencatat suhu 40,7 derajat Celsius.
- Polandia - Slubice mencapai suhu 40,5 derajat Celsius.
Perubahan Iklim Disebut Memperparah Gelombang Panas
WHO menilai gelombang panas yang semakin sering terjadi merupakan salah satu dampak nyata perubahan iklim. Menurut Tedros, kawasan Eropa mengalami laju pemanasan hampir dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.
"Dipicu oleh perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena gelombang panas 'sekali dalam satu generasi' kini terjadi hampir setiap tahun," ujarnya.
Para ahli menjelaskan, lonjakan suhu pada Juni tahun ini juga dipengaruhi oleh fenomena yang dikenal sebagai kubah panas (heat dome). Kondisi ini terjadi ketika sistem tekanan tinggi menjebak massa udara panas di suatu wilayah. Udara yang terperangkap kemudian turun ke permukaan, mengalami kompresi, dan menjadi semakin panas sehingga suhu di daratan meningkat drastis.
Melihat besarnya dampak yang ditimbulkan, WHO mendesak negara-negara di Eropa untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem melalui penerapan rencana aksi kesehatan terkait panas (heat-health action plan). Langkah tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah melindungi masyarakat, terutama kelompok rentan, dari risiko kesehatan akibat gelombang panas yang diperkirakan akan semakin sering terjadi seiring perubahan iklim.
Artikel ini sudah tayang di detikEdu
(faz/dir)
