Penanganan stunting di daerah acap kali tersandung persoalan klasik, akurasi data. Laporan yang sekadar rapi di atas kertas, tetapi jauh dari kondisi nyata di lapangan, tidak hanya membuat program bantuan gizi salah sasaran, tetapi juga membuai pemerintah dengan ilusi keberhasilan.
Menyadari celah krusial tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi melahirkan dua inovasi berbasis akar rumput yang dinamakan "siPASTI" dan "Gadis Sukabumi".
Langkah ini sejalan dengan arahan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang menekankan bahwa strategi penurunan angka stunting harus bersifat saintifik atau sepenuhnya bertumpu pada data riil (by data).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi, mengungkapkan, untuk mendapatkan data yang benar-benar akurat, proses pendataan tidak bisa lagi mengandalkan cakupan wilayah yang terlalu luas seperti tingkat desa.
Oleh karena itu, pihaknya merancang siPASTI, singkatan dari Sistem Informasi Posyandu yang Terintegrasi.
Sasaran utama siPASTI adalah unit pelayanan kesehatan terkecil di masyarakat, yakni pos pelayanan terpadu (posyandu).
"Kalau di tingkat desa itu, mulainya terlalu banyak. Namun, kalau kita benahi di tingkat posyandu, wilayah kerjanya relatif hanya tiga RT atau satu RW. Di situ kita bisa mendata dengan akurat," ujar Masykur.
Melalui sistem ini, Masykur memegang teguh prinsip no one left behind atau tidak boleh ada satu pun sasaran yang terlewat. Pendataan yang detail di tingkat posyandu diproyeksikan mampu memastikan bahwa setiap bayi maupun ibu hamil tercatat dengan baik.
Data yang di-input oleh kader posyandu melalui aplikasi akan secara real-time terhubung ke sistem desa, puskesmas, hingga kabupaten.
"Jadi, saya tidak ingin data-data itu asal-asalan. Nantinya, ketika butuh data stunting per desa, saya tidak perlu lagi meminta ke puskesmas, melainkan tinggal membuka aplikasi karena semuanya sudah terintegrasi," tambahnya.
Deteksi Sebelum Intervensi
Data presisi dari siPASTI barulah langkah pertama. Sebagai ujung tombaknya, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi juga menggalakkan program "Gadis Sukabumi" yang merupakan akronim dari Gerakan Aksi Deteksi dan Intervensi.
Gadis Sukabumi lahir dari pengalaman Masykur yang merintis karier dari level puskesmas pembantu. Ia menyoroti fenomena keliru di lapangan, di mana angka laporan stunting yang rendah kerap dirayakan sebagai sebuah keberhasilan. Padahal, angka rendah tersebut sangat mungkin terjadi karena malasnya upaya pencarian kasus (case finding).
"Jangan lantas bahagia ketika laporan stunting di sebuah kecamatan terlihat bagus. Bisa saja penemuannya yang jelek. Mereka mungkin tidak berupaya untuk menemukan (kasus), dan itu yang justru lebih bahaya," tegasnya mengingatkan pola pikir Asal Bapak Senang (ABS).
Melalui filosofi Gadis Sukabumi, setiap tenaga kesehatan dituntut untuk melakukan deteksi secara maksimal, tak peduli betapa tingginya angka temuan kasus tersebut. Menurut Masykur, temuan kasus yang banyak justru menunjukkan bahwa puskesmas telah berupaya bekerja secara optimal untuk memetakan persoalan di wilayahnya.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), angka stunting di Kabupaten Sukabumi berada di kisaran 20,5 persen. Masykur mengaku akan segera mengevaluasi jika ada puskesmas yang melaporkan angka kasus secara tidak logis, misalnya di bawah 5 persen.
"Justru saya melihatnya tidak logis, kok bisa? Saya akan kejar bagaimana strategi penemuannya. Jangan sampai mereka itu hanya laporan data, hanya ingin mencapai target bagus, itu membohongi. Tujuan kita ke masyarakat," ucapnya.
Dengan integrasi data siPASTI dan ketegasan pelacakan melalui Gadis Sukabumi, intervensi yang disiapkan pemerintah seperti pemberian makanan tambahan (PMT) lokal di posyandu bagi balita kurang gizi dan ibu hamil penderita Kekurangan Energi Kronis (KEK) diharapkan akan benar-benar tepat sasaran. Melalui langkah membumi ini, target progresif untuk meraih zero new stunting (nol kasus stunting baru) bukan lagi sekadar angan-angan.
(sya/yum)
