Plus Minus dan Beda Sabun Batang vs Sabun Cair

Plus Minus dan Beda Sabun Batang vs Sabun Cair

Almira Riva Az Zahra - detikJabar
Senin, 29 Jun 2026 07:00 WIB
High angle view of woman hand choose cosmetics product for everyday skincare routine. Female hold glass bottle with dispenser over wooden shelf in bathroom. Self care, moisturizing, pampering concept
Sabun cair dan sabun batang (Foto: Getty Images/brizmaker)
Bandung -

Sabun menjadi salah satu produk perawatan tubuh yang paling banyak digunakan untuk membantu menjaga kebersihan kulit. Secara umum, terdapat dua jenis sabun yang populer di masyarakat, yakni sabun batang dan sabun cair. Meski sama-sama berfungsi mengangkat kotoran dari permukaan kulit, keduanya memiliki perbedaan dari sisi komposisi, mekanisme penggunaan, hingga keunggulan dan keterbatasan masing-masing.

Sabun Batang vs Sabun Cair, Apa Bedanya?

Perbedaan utama sabun batang dan sabun cair terletak pada proses pembuatannya. "Sabun batang dibuat melalui proses kaustik atau penambahan minyak dan lilin serta alkali," jelas Gabrielle Nekrasas, ahli kimia kosmetik asal Amerika Serikat sekaligus founder dan CEO Nanuvo Lab.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Nekrasas, campuran tersebut kemudian didiamkan selama sekitar enam hingga delapan minggu agar reaksi kimianya selesai dan bahan-bahan tertentu menguap. Sementara itu, sabun cair diproduksi melalui proses yang berbeda. Karena mengandung air, teksturnya cenderung lebih lembut sehingga tidak mudah membuat kulit terasa kering.

Dokter spesialis kulit sekaligus ahli bedah kulit bersertifikat dari Rhode Island, Dr. Hayley Goldbach, menjelaskan bahwa kandungan air membuat formulasi sabun cair tidak terlalu pekat. Hal ini juga memudahkan produsen menambahkan berbagai bahan aktif, seperti minyak alami, ekstrak tumbuhan, pelembap, hingga eksfoliator yang ditujukan untuk mengatasi masalah kulit tertentu.

ADVERTISEMENT

Kelebihan dan Kekurangan Sabun Batang

Salah satu keunggulan sabun batang adalah formulanya yang tidak mengandung air. Dilansir dari Byrdie, kondisi ini membuat risiko pertumbuhan bakteri menjadi lebih kecil selama sabun disimpan dengan benar. Karena itu pula, sabun batang umumnya tidak membutuhkan tambahan bahan pengawet.

Sabun batang juga dikenal lebih ramah lingkungan. Sebagian besar produk hanya dikemas menggunakan kertas atau kotak karton sehingga menghasilkan lebih sedikit sampah plastik dibandingkan sabun cair.

Meski demikian, sabun batang memiliki pH yang relatif tinggi, yaitu sekitar 9 hingga 10. Menurut Nekrasas, pH tersebut merupakan bagian dari proses pembuatannya sehingga tidak mudah diubah.

Bagi sebagian orang, terutama yang memiliki kulit sensitif, pH yang tinggi dapat membuat kulit terasa lebih kering setelah digunakan. Namun, kini banyak sabun batang yang diperkaya minyak alami dan bahan pelembap untuk membantu mengurangi efek tersebut.

Di sisi lain, beberapa sabun batang juga dapat meninggalkan residu pada kulit maupun permukaan kamar mandi.

"Banyak orang yang tidak senang dengan sabun batang sebab dikenal meninggalkan lapisan lengket di kulit bahkan di kamar mandi," jelas Goldbach.

Sabun cair umumnya mengandung lebih banyak bahan yang berfungsi melembapkan dan menenangkan kulit, seperti emolien dan ceramide. Kandungan tersebut membantu membersihkan kulit tanpa menghilangkan minyak alaminya.

Selain itu, kemasan botol pada sabun cair dinilai lebih higienis karena isi produk tidak mudah terpapar kontaminasi dari luar.

Keunggulan lainnya adalah tingkat pH yang lebih mudah disesuaikan selama proses formulasi. Produsen biasanya membuat pH sabun cair lebih mendekati pH alami kulit.

"Ini sangat bermanfaat untuk mereka yang punya kulit kering," kata Goldbach.

Meski demikian, sabun cair memiliki kekurangan dari sisi lingkungan. Produk ini umumnya dikemas menggunakan botol plastik sehingga menghasilkan lebih banyak limbah. Selain itu, karena mengandung air, sabun cair memerlukan bahan pengawet untuk mencegah pertumbuhan jamur dan mikroorganisme.

Pilihan sabun terbaik bergantung pada kondisi kulit masing-masing. Jika kulitmu sensitif dan mudah mengalami iritasi, sabun batang bisa menjadi pilihan karena umumnya memiliki formulasi yang lebih sederhana sehingga risiko memicu alergi lebih kecil.

Sebaliknya, jika kulit cenderung kering, terasa tertarik, kasar, bersisik, atau gatal setelah mandi, sabun cair biasanya lebih cocok karena mengandung lebih banyak bahan yang membantu menjaga kelembapan kulit.

Bagi penderita masalah kulit kronis seperti eksim maupun jerawat, sabun cair juga lebih direkomendasikan. Menurut Nekrasas, berbagai bahan aktif untuk mengatasi kondisi tersebut lebih mudah diformulasikan ke dalam sabun cair.

"Banyak pilihan sabun cair saat ini diformulasikan agar selembut dan senyaman yang dibutuhkan kulitmu," tambahnya.

Apa pun jenis sabun yang dipilih, sebaiknya perhatikan kandungannya. Pilih produk yang mengandung bahan pelembap seperti ceramide, glycerin, serta minyak alami seperti avocado oil, argan oil, dan coconut oil untuk membantu menjaga kelembapan sekaligus melindungi skin barrier.

Jika ingin sekaligus mengeksfoliasi kulit, sabun dengan kandungan lactic acid atau salicylic acid dapat menjadi pilihan karena bekerja lebih lembut.

Sementara itu, untuk pemilik kulit sensitif, Goldbach menyarankan menghindari sabun yang mengandung pewangi, triclosan, maupun bahan antimikroba lainnya. Menurutnya, bahan-bahan tersebut berpotensi memicu alergi, iritasi, hingga mengganggu keseimbangan bakteri baik di kulit sehingga kulit menjadi lebih kering dan kaku.

Artikel ini telah tayang di wolipop.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads