Gagal ginjal kronis (Chronic Kidney Disease atau CKD) kerap dijuluki sebagai silent disease atau penyakit yang berkembang secara diam-diam. Julukan ini bukan tanpa alasan. Pada tahap awal, kerusakan ginjal sering kali tidak menimbulkan gejala yang khas sehingga banyak penderitanya tidak menyadari bahwa fungsi ginjal mereka terus menurun.
Akibatnya, penyakit baru terdiagnosis ketika kerusakan ginjal sudah cukup berat, bahkan sebagian pasien baru mengetahui kondisinya setelah memerlukan terapi cuci darah atau dialisis.
Apa Itu Gagal Ginjal Kronis?
Melansir detikHealth, setiap orang umumnya memiliki dua ginjal yang berbentuk menyerupai kacang. Organ ini terletak di bagian belakang rongga perut, di kedua sisi tulang belakang, tepat di bawah tulang rusuk. Masing-masing ginjal berukuran kurang lebih sebesar kepalan tangan.
Meski ukurannya relatif kecil, ginjal memiliki peran yang sangat penting bagi tubuh. Organ ini berfungsi menyaring limbah metabolisme, racun, serta kelebihan cairan dari darah untuk kemudian dikeluarkan melalui urine. Selain itu, ginjal juga membantu mengatur keseimbangan mineral dan cairan tubuh, menjaga kesehatan tulang, mengendalikan tekanan darah, serta memproduksi hormon yang berperan dalam pembentukan sel darah merah.
Ketika fungsi ginjal mulai menurun, proses penyaringan darah menjadi tidak optimal. Limbah dan racun yang seharusnya dikeluarkan justru menumpuk di dalam tubuh dan dapat memicu berbagai gangguan kesehatan.
Secara umum, gagal ginjal terbagi menjadi dua jenis, yaitu gagal ginjal akut dan gagal ginjal kronis.
Gagal ginjal akut terjadi secara tiba-tiba dan dalam beberapa kasus dapat membaik apabila penyebabnya segera diatasi. Sementara itu, gagal ginjal kronis berkembang secara perlahan selama sedikitnya tiga bulan akibat kerusakan ginjal yang berlangsung terus-menerus.
Seiring waktu, kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal ginjal stadium akhir (end-stage kidney disease), yaitu ketika ginjal hampir atau sama sekali tidak mampu menjalankan fungsinya sehingga pasien memerlukan dialisis atau transplantasi ginjal untuk bertahan hidup.
Apa Saja Penyebabnya?
Mengutip Kementerian Kesehatan RI, terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gagal ginjal kronis.
Dua penyebab yang paling sering adalah hipertensi dan diabetes melitus. Selain itu, risiko juga meningkat pada orang yang berusia lanjut, memiliki riwayat keluarga dengan penyakit ginjal kronis, obesitas, penyakit kardiovaskular, berat badan lahir rendah, penyakit autoimun seperti lupus eritematosus sistemik, infeksi saluran kemih berulang, infeksi sistemik, batu saluran kemih, penyakit ginjal bawaan, maupun keracunan akibat penggunaan obat tertentu.
Gaya hidup juga berperan besar terhadap kesehatan ginjal. Kebiasaan merokok, konsumsi minuman beralkohol, serta kurangnya aktivitas fisik diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit ginjal kronis.
Meski demikian, tidak semua penderita gagal ginjal kronis akan berkembang menjadi gagal ginjal stadium akhir. Penanganan yang tepat sejak dini dapat membantu memperlambat penurunan fungsi ginjal.
Hingga kini belum ada terapi yang dapat menyembuhkan gagal ginjal kronis sepenuhnya. Namun, pengobatan, pengendalian penyakit penyerta, serta perubahan gaya hidup terbukti dapat memperlambat perkembangan penyakit. Apabila fungsi ginjal telah menurun hingga stadium akhir, pilihan terapi yang tersedia adalah dialisis (cuci darah) atau transplantasi ginjal.
Simak Video "Video: Polisi Tangkap 6 Tersangka Baru Kasus Penjualan Bayi ke Singapura"
(suc/dir)