Viral di media sosial, tersangka penganiayaan dan penyekapan, Taufik Hidayat (30), diduga memesan kulkas secara daring. Peristiwa itu terungkap saat kurir paket mendapatkan pesanan ke alamat tersangka.
Berdasarkan video yang dilihat detikJabar, tampak seorang kurir memperlihatkan sebuah kulkas di dalam mobil kargo. Dari data dan alamat yang tertera, diduga kulkas tersebut mengarah ke rumah tersangka Taufik Hidayat.
Kurir JNT Cargo, Viki Ramdani, mengatakan peristiwa itu bermula saat dirinya hendak mengirim paket ke daerah Kampung Tegallame, Desa Ciaro, Kecamatan Nagreg, Rabu (24/6/2026). Pesanan kulkas tersebut tercatat atas nama Taufik Hidayat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya ngirim ke sana itu sekitar jam 14.30 WIB. Saya awalnya mikir mungkin namanya ada yang sama di daerah situ, jadi enggak mikir ke si tersangka Taufik. Tapi pas lihat alamatnya, tapi sama seperti yang ada di KTP yang beredar," ujar Viki kepada detikJabar, Jumat (26/6/2026).
Viki mengaku sempat menanyakan lokasi tersebut kepada rekannya sesama kurir, Yogi Ginanjar. Hal itu dilakukan untuk memastikan apakah temannya pernah mengirim paket ke alamat yang sama.
"Saat mau mengantarkan paket ke lokasi, saya nanya ke Ogi. Karena kan wilayah pengirimannya sama kaya saya, siapa tahu dia pernah ngirim ke sana. Saya nanya biar mastiin lagi, takutnya ada taufik lain selain pelaku. Dia bilang tidak tahu," katanya.
Setelah itu, ia memutuskan untuk mengantarkan paket tersebut sesuai alamat yang tertera. Rumah tersebut berada di sebuah gang kecil di belakang jalan raya.
Ia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan raya, lalu berjalan masuk ke dalam gang untuk mencari alamat dan bertanya kepada sejumlah warga sekitar.
"Saya nanya ke warga mudah-mudahan ada Taufik yang saya pikirkan dari tadi (tersangka). Saya turun dari mobil, nanya ke warga soalnya barangnya besar," jelasnya.
Viki menjelaskan, ia bertanya kepada warga apakah ada nama Taufik lain di alamat tersebut. Namun, respons warga sekitar tampak terkejut karena nama Taufik Hidayat hanya ada satu di kampung tersebut.
"Pas saya nyari Taufik Hidayat, warga kaget, sangka saya intel berkedok tukang paket. Dia ngomong lagi, kan sudah ke tangkep Taufiknya kemarin-kemarin. Saya ngejawab, bukan untuk nangkap, saya cuma mau ngirim paket. Disitu warga jawab nama Taufik cuma satu," ucapnya.
Ia menyebutkan rumah Taufik telah kosong dan tidak ditinggali berdasarkan penuturan warga sekitar setelah kejadian kriminal yang menjerat tersangka.
"Terus katanya rumahnya juga kosong setelah kejadian itu. Setelah itu, karena paketnya COD senilai Rp 1,6 juta. Saya balik lagi aja ke mobil," jelasnya.
"Saya engga ke atas. Saya cuma ngefotoin lingkungan untuk retur barang. Terus di paketnya di aplikasinya juga, tidak ada nomor tertera, berbeda dengan paket lain. Jadi tidak ada nomor penerima yang bisa dihubungi," tambahnya.
Ia mengaku tidak mengetahui persis kapan barang elektronik tersebut dipesan. Menurutnya, biasanya pemesanan dilakukan maksimal tiga hari sebelum pengantaran.
"Soalnya ini kayanya pesan dari tiktok. Kalau bener pelaku, berarti sebelum ke tangkep mesennya. Tapi engga tahu udah lama mesennya, tapi barang tertahan dulu di gudang mana. Enggak tahu ini juga bisa fake order," tegasnya.
Viki menyebutkan pesanan tersebut berupa kulkas satu pintu merek Polytron. Saat kembali ke mobil, ia bertemu dengan Yogi Ginanjar.
"Setelah itu Ogi datang nanya bener atau engga. Terus saya jawab aja, terus dikontenin aja sama Ogi. Eh ternyata videonya viral," tuturnya.
Kulkas tersebut akhirnya dibawa kembali ke gudang untuk dikirim balik ke toko asalnya. Berdasarkan data yang tertera, toko tersebut berada di daerah Karawang.
"Udah mah gede barangnya, cuma menuh-menuhin aja. Sudah mah bikin masalah besar sama orang lain, eh nyusahin juga kurir juga," tegas Viki.
Sementara itu, Yogi Ginanjar, salah satu kurir SiCepat, mengungkapkan bahwa yang mengantar paket tersebut adalah temannya. Ia turut membantu pencarian alamat dan memastikan tidak ada orang di rumah tersebut.
"Nah terus, temen saya masih penasaran, nyoba nanya-nanya ke tetangganya dan emang bener namanya itu cuman satu. Terus sama tetangga-tetangganya disuruh dibawa lagi aja, soalnya enggak ada di rumah. Enggak ada orang," kata Yogi.
Dirinya menduga pemesanan tersebut dilakukan tiga hari sebelumnya, lalu baru sampai ke gudang dan dilakukan pengantaran pada Rabu (24/6/2026).
"Berarti kalau kalau beneran yang persennya itu tersangka, berarti sebelum ketangkap. Tapi enggak tahu fake order atau bukan," jelas Yogi.
Dalam kesehariannya, Yogi kerap membuat konten sambil mengantarkan paket. Saat bertemu dengan Viki, ia memutuskan untuk membuat video tentang dugaan pengiriman paket ke rumah tersangka tersebut.
"Iya langsung saya upload dan videonya viral. Banyak ngebully pelaku, banyak yang kasihan sama kurir, banyak yang nge-tag KDM. Kalau saya berharap yang ngehubungi KDM. Minimalnya saya diundang ke Lembur Pakuan," tuturnya.
Setelah itu, kulkas tersebut dibawa kembali ke gudang. Yogi menjelaskan bahwa kurir harus memberikan penjelasan alasan pengembalian barang agar bisa diproses oleh sistem.
"Iya biasanya kalau pengembalian itu paling alasannya kalau yang enggak ketemu, ya warga sekitar enggak ada yang tahu, atau misalkan YBS (Yang bersangkutan) menolak paket, tapi kemungkin Mungkin kalau yang kemarin YBS-nya di penjara. Atau mungkin orderan fiktif," pungkasnya.
(tya/tey)
