Sebuah kapal tongkang pengangkut batu bara yang terdampar di Pantai Cibenda, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran sepekan lalu, memicu dampak buruk bagi para pelaku usaha budi daya laut setempat.
Hanya dalam waktu dua hari sejak insiden tersebut, ratusan benih lobster yang tengah dibudidayakan dilaporkan mati mendadak akibat dugaan pencemaran air dan perubahan suhu ekstrem.
Pengelola budi daya lobster Batuhiu, Aep Saepudin, mengungkapkan bahwa sebelum tongkang tersebut terdampar, aktivitas produksi dan kondisi air laut di kawasannya masih normal. Namun, kondisinya berubah drastis pascakejadian tumpahnya batu bara dari tongkang tersebut.
"Dua hari setelah tongkang terdampar, kami mau coba hitung dari luar untuk dimasukkan ke dalam ruangan. Tahu-tahu pas diangkat, semua sudah mati. Mungkin ada sekitar 500 ekor yang mati," kata Aep saat ditemui di lokasi budi daya, Rabu (24/6/2026).
Menurutnya, jenis lobster yang terdampak merupakan varietas lobster pasir dan lobster mutiara. Dengan asumsi harga benih saat ini mencapai Rp10.000 per ekor, kerugian dari akumulasi kematian tersebut langsung menggerus biaya operasional mereka, belum termasuk beban gaji karyawan.
Simak Video "Video Kronologi 3 Pekerja Tewas di Tongkang, Diduga Keracunan Gas"
(mso/mso)