HNSI Khawatir Dampak Karamnya Kapal Batu Bara di Pangandaran

HNSI Khawatir Dampak Karamnya Kapal Batu Bara di Pangandaran

Aldi Nur Fadilah - detikJabar
Kamis, 18 Jun 2026 17:00 WIB
Kondisi kapal tongkang batubara yang terdampar di Pantai Sukaresik.
Kondisi kapal tongkang batubara yang terdampar di Pantai Sukaresik. (Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar)
Pangandaran -

Tumpahan batu bara dari kapal tongkang yang melintas memicu pencemaran parah di kawasan pesisir Pantai Pangandaran. Air laut dan pasir pantai yang biasanya bersih kini berubah warna menjadi hitam pekat, mengancam ekosistem laut serta sektor pariwisata daerah.

Kondisi tersebut mendapat perhatian serius dari tokoh masyarakat sekaligus nelayan setempat yang langsung meninjau lokasi. Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pangandaran, Jeje Wiradinata, mengatakan bahwa dampak dari tumpahan material ini secara biologis dan kimiawi dipastikan mengganggu keseimbangan ekosistem laut, termasuk habitat terumbu karang dan lobster.

"Kalau melihat dampak di sekitar ini, efek pengaruh dari sisi biologi dan kimianya jelas akan mengganggu kondisi ekosistem yang ada di sini. Yang tadinya laut berwarna biru, sekarang menjadi hitam pekat," kata Jeje kepada wartawan, Kamis (18/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengkhawatirkan pergerakan material batu bara tersebut akan meluas mengikuti arus laut dan berdampak fatal pada biota laut lainnya. Pihaknya mengaku akan terus memantau potensi kematian massal pada ikan, penyu, maupun biota laut di wilayah terdampak.

"Hari ini kami juga panggil nelayan seluruh wilayah Pangandaran dari mulai Batukaras hingga Pangandaran, untuk meninjau dampak yang terjadi. Nanti kita lihat apakah ada banyak ikan yang mati," katanya.

ADVERTISEMENT

Meskipun kejadian ini diduga sebagai kecelakaan atau force majeure, Jeje menilai ada unsur kelalaian dan salah kalkulasi dari pihak navigasi kapal. Sebagai lulusan perikanan, ia menekankan bahwa data kalender tinggi gelombang laut selalu diperbarui setiap tahun, sehingga kecelakaan akibat cuaca buruk mestinya bisa diantisipasi.

"Pasti ada perhitungan atau kalkulasi yang salah, ada kecerobohan. Pengguna jalur laut mestinya paham kalender gelombang. Alur pengangkutan batu bara dari Samarinda menuju Cilacap ini harus dievaluasi sistem keamanannya agar kejadian serupa tidak terulang," tegasnya.

Dampak ekonomi juga membayangi warga sekitar, mengingat ketergantungan nelayan terhadap hasil laut sangat tinggi. Selain itu, jika sering terjadi pencemaran, daya tarik wisata Pantai Pangandaran terancam merosot tajam.

Jeje Desak Tegas Pemkab Pangandaran Menangani Kasus Kapal Tongkang Karam

Jeje mendesak Pemkab Pangandaran agar segera melakukan langkah koordinasi. Pihaknya berencana menyurati Bupati Pangandaran untuk segera mengambil tindakan dan meminta pertanggungjawaban dari pemilik perusahaan kapal tongkang tersebut. Jika proses komunikasi dan mediasi tidak membuahkan hasil, jalur hukum siap ditempuh dengan menggandeng sejumlah pengacara.

Kondisi kapal tongkang batubara yang terdampar di Pantai Sukaresik.Kondisi kapal tongkang batubara yang terdampar di Pantai Sukaresik. Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar

Rencananya, kata Jeje, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat akan turun langsung ke lokasi esok hari untuk melakukan uji laboratorium. Pengujian ini diperlukan karena DLH kabupaten setempat belum memiliki fasilitas alat yang memadai.

"Besok DLH Provinsi akan mengecek kandungan COD, BOD, serta zat kimia berbahaya lainnya untuk mengetahui sejauh mana ambang batas pencemaran ini. Kami menunggu hasil kajian tersebut untuk menentukan langkah penanganan dan antisipasi selanjutnya," pungkasnya.

Ket foto: Kondisi batubara di Pantai Sukaresik Pangandaran/Aldi Nur Fadillah

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads