Pemerintah Provinsi Jawa Barat bergerak cepat menangani insiden terdamparnya kapal tongkang pengangkut batu bara yang mencemari perairan Pantai Pangandaran. Dalam insiden tersebut, diperkirakan sebanyak 8.000 ton batu bara tumpah dan mencemari perairan.
Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Barat memastikan langkah mitigasi telah dilakukan guna mencegah meluasnya dampak pencemaran terhadap ekosistem laut serta kawasan pesisir selatan Jawa Barat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesaat setelah tongkang tersebut terdampar, DKP Jabar langsung menerjunkan personel ke lokasi untuk melakukan investigasi awal sekaligus memetakan potensi kerusakan lingkungan.
Kepala DKP Jawa Barat, Rinny Cempaka, menyatakan pihaknya telah memanggil perusahaan pemilik tongkang, PT Trans Logistik Perkasa, guna memastikan penanganan dilakukan secepat mungkin.
"Kami memanggil pihak perusahaan pemilik kapal, PT Trans Logistik Perkasa, untuk menyepakati langkah penanganan jangka pendek. Perwakilan manajemen telah berkomitmen untuk segera memperbaiki fisik tongkang serta membersihkan material batu bara yang mengotori area pantai," kata Rinny, Minggu (28/6/2026).
Tak hanya fokus pada pembersihan material, DKP Jabar juga menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk mengawasi kualitas lingkungan perairan. Koordinasi lintas instansi ini dilakukan guna memastikan pencemaran tidak membahayakan biota laut maupun aktivitas masyarakat pesisir.
"Kami sudah berkoordinasi dengan DLH yang akan mengecek kualitas air sekitar lokasi kejadian untuk memastikan pencemaran terhadap ekosistem laut," ujarnya.
Pemerintah juga akan memetakan wilayah terdampak menggunakan pesawat nirawak atau drone. Langkah ini diambil agar sebaran pencemaran dapat dipetakan secara menyeluruh sebagai dasar analisis laboratorium.
"Kami bersama KLH dan DLH melakukan pemetaan udara dengan drone untuk memperoleh gambaran spasial wilayah terdampak," ucapnya.
Selain pemetaan udara, tim gabungan akan mengambil sampel air dan biota laut di enam titik strategis. Lokasi tersebut meliputi kawasan budi daya perikanan masyarakat, habitat konservasi penyu, Cagar Alam Pangandaran, hingga destinasi wisata Pantai Batu Karas, Pantai Batu Hiu, serta perairan sekitarnya.
DKP Jabar juga melibatkan masyarakat dalam proses pemantauan dampak lingkungan. Informasi dari nelayan dan warga pesisir dinilai krusial untuk memantau perubahan kondisi laut maupun aktivitas perikanan pascakejadian.
"Kami akan melakukan survei dan wawancara dengan nelayan serta masyarakat sekitar untuk menggali informasi langsung terkait dampak yang mereka rasakan," tutur Rinny.
Simak Video "Video Kronologi 3 Pekerja Tewas di Tongkang, Diduga Keracunan Gas"
[Gambas:Video 20detik]
(bba/mso)
