Sejumlah peristiwa terjadi di wilayah Sukabumi dalam sepekan terakhir. Mulai dari insiden tabrakan wahana wisata di ketinggian hingga kecelakaan maut di perlintasan kereta api yang menewaskan satu orang.
Berikut rangkuman peristiwa di Sukabumi pekan ini
1. Kemunculan Buaya 4 Meter di Sungai Cimandiri Palabuhanratu
Buaya berukuran besar membuat geger warga Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Buaya dengan panjang sekitar 4 meter itu muncul di aliran Sungai Cimandiri, tepatnya di wilayah Desa Jayanti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Udon, warga sekitar, menuturkan bahwa penampakan buaya tersebut kerap meresahkan masyarakat karena sering mondar-mandir di dekat area peternakan.
"Kejadiannya kemarin, kadang di dekat peternakan ayam, kadang di peternakan sapi di bawah dia diamnya. Penampakan ini memang sering bikin heboh warga," ungkap Udon menceritakan posisi buaya tersebut kepada detikJabar, Senin (15/6/2026).
Udon menduga bahwa buaya tersebut sudah menjadikan kawasan aliran sungai itu sebagai tempat berkembang biak. Menurut pantauan warga, buaya yang mendiami area tersebut tidak hanya satu.
"Kemungkinan besar buaya di sungai itu beranak. Kalau dilihat dari ukurannya yang beda-beda saat muncul, kemungkinan jumlahnya lebih dari empat ekor yang ada di sekitar sini," tambah Udon mempertegas kekhawatiran warga.
Detik-detik penampakan salah satu buaya tersebut juga sempat terekam kamera ponsel warga dari tepi sungai. Dalam video berdurasi sekitar 30 detik itu, sang perekam memberikan peringatan keras.
Keresahan serupa juga diungkapkan oleh Nanan, warga Kampung Mariuk. Nanan sudah mafhum dan mengetahui betul rekam jejak keberadaan buaya di aliran Sungai Cimandiri tersebut. Ia mewanti-wanti masyarakat agar tidak sembrono saat berada di dekat air.
"Buaya di aliran sungai itu memang ada dan warga di sini sudah tahu. Makanya, saya sangat mengimbau warga, terutama yang sering beraktivitas di aliran sungai untuk ekstra waspada. Termasuk juga para pemancing atau yang cari ikan, jangan sampai lengah," tegas Nanan.
Dari sejumlah catatan detikJabar, kemunculan buaya di muara maupun aliran Sungai Cimandiri bukanlah fenomena baru. Aliran Sungai Cimandiri sejak lama memang dikenal sebagai habitat alami bagi buaya muara (Crocodylus porosus) di wilayah selatan Sukabumi.
Buaya-buaya ini sering kali naik ke bantaran sungai untuk berjemur (basking) atau terbawa arus saat debit air sungai meningkat.
2. Kelaparan, Monyet Liar Gunung Gede Teror Warga Sukaraja
Seekor monyet ekor panjang liar tiba-tiba turun dari gunung dan menyelinap masuk ke dapur rumah warga di Perumahan Sukaraja Indah Regency, Desa Cikaret, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi.
Pemilik rumah yang syok langsung mengunci primata tersebut di dalam kamar mandi sebelum melaporkannya ke pihak berwajib.
Insiden bermula saat sang pemilik rumah, Yudi Irwanda, sedang sibuk berbenah rumah di pagi hari. Saat itulah, ia menyadari ada kelebatan bayangan asing yang bergerak mencurigakan di sekitar dinding rumahnya.
"Pemilik rumah awalnya sedang beres-beres, lalu melihat ke pinggir tembok ada bayangan turun ke bawah. Pas dicek, ternyata ada kera," kata Komandan Regu Posko VI Sukaraja Dinas Damkar Kabupaten Sukabumi Ade Feri saat dikonfirmasi, Selasa (16/6/2026).
Bukannya takut, satwa dengan nama latin Macaca fascicularis itu justru bersikap agresif saat coba didekati. Hewan tersebut langsung menyeringai ke arah Yudi seolah siap melancarkan serangan.
Didorong rasa lapar karena mencium aroma masakan, monyet liar itu kemudian nekat menerobos masuk ke area dapur. Beruntung, Yudi yang sempat panik berhasil memikirkan siasat cepat saat monyet tersebut bergeser masuk ke ruangan sebelah.
"Kebetulan dapur berdekatan dengan kamar mandi. Begitu monyetnya masuk ke kamar mandi, langsung ditutup pintunya (dikunci) sama pemilik. Kemudian dia langsung melapor ke kami," tutur Ade.
Petugas Pemadam Kebakaran yang tiba di lokasi langsung melakukan evakuasi terhadap monyet ekor panjang tersebut. Ade menduga, primata bertubuh lincah ini nekat menyatroni permukiman manusia karena kelaparan setelah diusir oleh kawanannya sendiri di alam liar.
"Dugaan kami dia dipisahkan atau diusir dari kelompoknya. Otomatis dia jadi keluyuran sendirian. Karena lapar dan mencium aroma makanan dari perkampungan manusia, dia cenderung mendekati sumber makanan itu," jelasnya.
Melihat dari perilakunya yang masih sangat agresif dan liar, Ade meyakini monyet ini bukan hewan peliharaan yang lepas, melainkan murni penghuni asli kawasan hutan pegunungan.
"Kemungkinan besar berasal dari habitat di sekitar kawasan Gunung Gede," tambahnya.
Saat ini, kera ekor panjang tersebut sudah diserahkan ke pecinta satwa untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya. "Sudah dirilis, dilepas sama rekan komunitas satwa di daerah Cikidang," tutupnya.
3. Wahana Keranjang Sultan Langit Tabrakan di Ketinggian
Wahana Keranjang Sultan Langit di kawasan wisata alam Situ Gunung, Kabupaten Sukabumi saling bertabrakan saat sedang ditumpangi pengunjung. Insiden itu terjadi di ketinggian sekitar 160-180 meter.
Peristiwa menegangkan ini dikonfirmasi terjadi pada Minggu, 14 Juni 2026 lalu. Beruntung, meski sempat diwarnai kepanikan, seluruh wisatawan yang berada di atas wahana tersebut dilaporkan selamat tanpa luka.
Salah seorang wisatawan asal Jakarta sekaligus yang merekam peristiwa itu, Abdul Rozak (33), membeberkan detik-detik peristiwa yang dialaminya secara langsung di lokasi kejadian.
Hari itu, ia bersama sekitar tujuh rekan kerjanya memang tengah mengambil paket liburan di kawasan ikonik di bawah kaki Gunung Gede Pangrango tersebut.
"Jadi saya lagi naik keranjang langit itu, pas kebetulan dari arah yang berlawanan itu ada keranjang yang berhenti dan di belakangnya ada lagi keranjang yang maju, jadi ketabrak yang di depannya," ujar Rozak menceritakan kronologinya kepada detikJabar, Rabu (17/6/2026).
Rozak, yang saat itu sempat mengabadikan momen perjalanan pulangnya dalam bentuk video, menuturkan situasi di jalur keberangkatan wahana tersebut memang sempat mengalami kemacetan akibat adanya antrean keranjang yang terkendala.
"Pastinya harus ditingkatkan lagi untuk sistem pengamanannya. Iya (diduga) macet. (Keranjang sultan) arah berangkat, saya videonya arah pulang. Tapi alhamdulillah penumpangnya aman selamat semuanya," tambahnya.
Merespons insiden tersebut, Direktur Utama PT Fontis Aqua Vivam selaku pengelola kawasan wisata Suspension Bridge Sukabumi, Marcelinus, memberikan klarifikasi tegas. Pihaknya membantah narasi netizen yang menyebut insiden itu terjadi karena adanya kemacetan mesin atau malfungsi sistem pada wahana tersebut.
Menurutnya, tabrakan kecil itu murni dipicu oleh faktor ketidaksengajaan dari pengunjung sendiri yang menyenggol panel pengatur mekanis di dalam keranjang.
"Maju-mundurnya itu sama tamu. Jadi, tamu nggak tahu itu main diputar-putar kayak gitu. Di sebelah kanan tuh diputar, kan itu tuh buat muterin itu jalan sendiri. Nah itu di atas di kanan diputar, sama tamu kesenggol sama siku. Jadi bukan karena macet atau apa, bukan," jelas Marcelinus saat dikonfirmasi via telepon.
Marcelinus menegaskan, andai terjadi benturan atau senggolan antar-keranjang sekalipun, hal itu tidak akan berakibat fatal hingga memutuskan tali baja atau menjatuhkan penumpang. Pihaknya mengaku selalu memberikan edukasi dan prosedur keselamatan ketat kepada setiap wisatawan sebelum meluncur.
"Setiap orang yang naik, itu disampaikan semua dari safety apa segala macam disampaikan. Nah, mungkin kalau orang kan kalau di atas jadi rewas (panik/kaget) lah kalau di atas, udah di ketinggian, nah itu, akan lupa kayak gitu," ungkapnya.
4. Janjian via Medsos, Dua Kelompok Pemuda Saling Tawuran
Tawuran antarpelajar yang pecah di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi pada Selasa (17/6/2026).nPolisi menyebut aksi berdarah ini melibatkan dua kelompok remaja dari wilayah yang berbeda.
Kasat Reskrim Polres Sukabumi IPTU Dudi Suharyana mengungkapkan, tempat kejadian perkara (TKP) berada di Jalan Geopark Ciletuh, Kampung Loji, Desa Loji, Kecamatan Simpenan. Insiden ini terjadi pada Selasa (16/6/2026) sekitar pukul 17.00 WIB.
Berdasarkan hasil penyelidikan intensif pihak kepolisian, bentrokan ini bukan terjadi secara spontan. Kedua kelompok remaja tersebut ternyata sudah saling berkomunikasi terlebih dahulu untuk merencanakan aksi kekerasan tersebut.
"Sebelum kejadian, para remaja tersebut terlebih dahulu berkomunikasi dan sepakat untuk bertemu di lokasi yang telah ditentukan," kata Dudi dalam keterangan tertulisnya, Rabu (17/6/2026).
Ketika kedua kelompok massa pelajar ini tiba di titik temu Jalur Geopark Ciletuh, situasi langsung memanas. Tanpa basa-basi, bentrokan bersenjata tajam langsung pecah di lokasi kejadian.
"Setelah kedua kelompok remaja bertemu di lokasi kejadian, terjadi aksi kekerasan menggunakan senjata tajam yang mengakibatkan dua korban mengalami luka pada bagian punggung dan bahu belakang," jelas Dudi.
Akibat sabetan senjata tajam yang membabi buta, dua anak di bawah umur yang menjadi korban mereka berusia 15 dan 14 tahun. Keduanya langsung dievakuasi dari lokasi. Mereka diketahui berstatus sebagai pelajar yang berasal dari Kecamatan Palabuhanratu.
Polisi memastikan kedua korban saat ini sudah berada di bawah penanganan tim medis untuk merawat luka robek serius di tubuh mereka.
"Korban kemudian langsung dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis di RSUD Palabuhanratu," tambah Dudi.
Bergerak cepat setelah menerima laporan warga dan video kejadian yang viral, Tim Satreskrim Polres Sukabumi langsung melakukan perburuan. Hasilnya, seorang terduga pelaku utama yang masih berusia 15 tahun langsung diringkus petugas.
Selain menangkap terduga pelaku utama, polisi juga mengamankan sejumlah remaja lain yang berada di lokasi kejadian untuk digali keterangannya demi mendalami peran mereka masing-masing.
Ketegangan di lokasi tawuran juga terbukti dari mengerikannya jenis senjata tajam yang dibawa para pelajar ini. Dalam penangkapan tersebut, polisi menyita sejumlah senjata tajam berukuran besar yang diduga kuat digunakan untuk melukai korban.
"Polisi turut mengamankan barang bukti berupa dua bilah cerulit, satu bilah samurai, dan satu bilah golok yang diduga digunakan dalam aksi tawuran tersebut," pungkas Dudi.
5. Truk Boks Tersambar KA Pangrango, 1 Tewas- 2 Luka Berat
Kecelakaan maut yang melibatkan Kereta Api (KA) Pangrango dengan sebuah truk boks terjadi di perlintasan kereta api wilayah Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jumat (19/6/2026). Insiden tragis ini mengakibatkan satu orang meninggal dunia di lokasi kejadian dan dua orang lainnya mengalami luka berat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa tersebut tepatnya terjadi di perlintasan sebidang resmi tidak terjaga JPL 36 KM 43+200/300, petak jalan Cisaat-Cibadak saat azan Asar berkumandang. Kecelakaan bermula ketika KA Pangrango sedang melaju dari arah Sukabumi menuju Bogor. Pada saat bersamaan, sebuah truk boks bernomor polisi (nopol) F 8364 TE milik PT Porto Food Indonesia melintas dari arah Nagrak menuju Karangtengah.
Kerasnya benturan membuat truk boks tersebut tersambar hingga terpelanting hebat ke area sekitar rel. Nahas, truk boks yang terpental kemudian menghantam seorang pengendara sepeda motor yang sedang melintas serta seorang warga bernama Iki yang tengah membuang sampah di sekitar lokasi.
"Kereta dari arah Sukabumi ke Bogor itu waktu kejadian pas adzan Ashar, saya hanya dengar klakson kereta sekali, langsung bunyi tubrukan. Pas nabrak bunyi kaya besi nabrak besi aja," ujar Udin (46), warga setempat yang rumahnya berjarak 100 meter dari lokasi kejadian.
Akibat pentalan truk tersebut, sang pengendara sepeda motor dilaporkan meninggal dunia di tempat. Jasad korban sempat terjepit di bawah bodi kendaraan sebelum akhirnya dievakuasi oleh warga dan petugas gabungan.
"Terus satu (korban) lagi di bawah yang kegusur mobil meninggal, bawa motor," ungkapnya.
Sementara itu, sopir truk boks yang mengalami pendarahan hebat di bagian hidung dan mulut, serta Iki, petugas kebersihan lingkungan sukarela, mengalami luka berat atau kritis. Kedua korban luka langsung dilarikan ke RS Sekarwangi menggunakan taksi online untuk mendapatkan penanganan medis darurat.
Udin mengungkapkan bahwa perlintasan kereta api di lokasi tersebut sebenarnya memiliki palang pintu. Namun, fasilitas tersebut sudah lama tidak berfungsi dan hanya dijaga secara swadaya oleh masyarakat sekitar.
"Palang pintu ada tapi secara fungsi dia nggak hidup, nggak berfungsi, sampai sekarang masih dijaga manual sama orang. Itu warga aja yang jaga sukarela," beber Udin.
