Tiga perempuan asal Inggris, Natasha, Gemma, dan Helen, tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka mengetahui siapa ayah biologis masing-masing. Namun, sebuah tes DNA yang dilakukan secara iseng mengungkap fakta mengejutkan yang mengubah hidup mereka selamanya.
Hasil tes genetik menunjukkan bahwa ketiganya ternyata merupakan saudara kandung yang lahir dari donor sperma yang sama, seorang pria asal Wales. Melansir detikHealth, temuan tersebut membuka rahasia yang telah tersimpan selama puluhan tahun.
Mereka mengaku lahir pada masa ketika praktik donor sperma di Inggris masih minim regulasi. Karena itu, mereka menyebut diri sebagai bagian dari generasi era "Wild West", masa ketika aturan terkait donor sperma belum seketat sekarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berawal dari Tes DNA
Gemma dan Helen tumbuh bersama di Berkshire. Selama bertahun-tahun, keduanya percaya bahwa pria yang membesarkan mereka adalah ayah kandung mereka.
Baru ketika menginjak usia akhir 20-an, mereka mengetahui bahwa kelahiran mereka merupakan hasil program donor sperma. Namun, minimnya dokumentasi dari klinik pada masa itu membuat mereka tidak memiliki informasi lebih lanjut mengenai identitas donor.
Rasa penasaran akhirnya membawa mereka melakukan tes DNA mandiri. Hasilnya di luar dugaan.
Melalui sistem pencocokan DNA yang bekerja layaknya aplikasi pencarian pasangan, mereka mulai terhubung dengan sejumlah saudara biologis yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya, termasuk Natasha.
Pertemuan pertama mereka menjadi momen yang sangat emosional.
"Bertemu untuk pertama kalinya seperti sebuah dongeng. Rasanya sangat ajaib dan penuh air mata kebahagiaan," kata Gemma.
Baca juga: Ini Rahasia Mengapa Lobi Hotel Bikin Betah |
Pernah Tinggal di Asrama yang Sama
Kejutan tidak berhenti di situ. Setelah saling mengenal lebih jauh, Gemma dan Natasha menemukan fakta yang membuat mereka merinding.
Keduanya ternyata pernah tinggal di gedung asrama yang sama saat kuliah di Leeds sekitar 15 tahun lalu. Meski sering berada di lingkungan yang sama, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa mereka adalah saudara kandung.
Fakta tersebut membuat mereka menyadari betapa dekatnya hubungan biologis itu tanpa pernah diketahui sebelumnya.
Kini, Natasha, Gemma, dan Helen menjalin hubungan yang sangat erat. Mereka bahkan menyebut diri mereka sebagai "sperm sisters" atau "saudari donor sperma".
Sebagai bentuk upaya mengejar waktu yang hilang sekaligus berbagi pengalaman kepada publik, mereka meluncurkan sebuah podcast yang juga diberi nama Sperm Sisters.
Soroti Pentingnya Keterbukaan Identitas
Kisah ketiga perempuan ini turut menyoroti perubahan besar dalam regulasi donor sperma di Inggris.
Data Otoritas Fertilisasi dan Embriologi Manusia Inggris (HFEA) menunjukkan lebih dari 85.000 anak telah lahir melalui prosedur donor sejak aturan diperketat pada 1991.
Perubahan penting lainnya terjadi pada 2005, ketika Inggris melarang praktik donor anonim. Melalui aturan tersebut, anak yang lahir dari donor berhak mengetahui identitas donor biologisnya setelah berusia 18 tahun.
Meski regulasi saat ini dinilai jauh lebih baik, Natasha, Gemma, dan Helen mengaku masih khawatir dengan maraknya praktik donor sperma tidak resmi yang dilakukan melalui media sosial dan berbagai platform daring.
Mereka menilai keterbukaan informasi mengenai asal-usul biologis anak sangat penting bagi perkembangan psikologis dan identitas diri seseorang.
"Kami lahir pada masa ketika hampir tidak ada aturan. Jika kami bisa menjadi suara bagi generasi anak-anak hasil donor berikutnya, kami berharap kisah ini dapat menginspirasi para orang tua untuk berpikir dua kali sebelum merahasiakan kebenaran tersebut," ujar Gemma.
Artikel ini sudah tayang di detikHealth
